Kebudayaan Yogyakarta di Tengah Tumor Budaya

Lpmarena.com, Yogyakarta yang terkenal sebagai kota kebudayaan, menurut Setyawan Sali dari Dinas Kebudayaan DIY memiliki lima keistimewaan. Pertama, gubernur dan wakil gubernur tidak dipilih oleh masyarakat, tapi oleh Sultan dan Pakualaman, dan masa jabatannya tidak dibatasi. Kedua, pertanahan Yogyakarta dibagi menjadi tiga: tanah negara, tanah rakyat, dan tanah Sultan Ground. Ketiga, tata ruang Yogyakarta ketika Kerajaan Mataram mempengaruhi tata ruang Jogja saat ini. Keempat, organisasi pemerintah Yogyakarta berbeda dengan daerah yang lain. Kelima, kebudayaan Yogyakarta sendiri yang istimewa.

“Tak seperti daerah yang lain, Jogja punya aturan sendiri,” ucap Setyawan dalam seminar kebudayaan bertema “Memperkuat Peran Pemerintah Daerah dalam Mendorong Kemajuan Budaya dan Kesenian Lokal di Pentas Dunia” di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Rabu (12/10).

Meski begitu, kebudayaan yang merupakan seluruh aktivitas manusia, baik dunia dan isinya saat ini mengarah pada patologi sosial dan hilangnya budaya, yang digantikan oleh teknologi.  Kuatnya kapitalisme mengakibatkan degradasi kebudayaan yang serius. Inilah yang diungkapkan oleh Muhammad Abdul Aziz, pembicara kedua dalam seminar.

Pernyataan Abdul diperkuat dengan penjelasan dari pembicara lainnya Moh. Soehadha, selaku dosen antropologi UIN Sunan Kalijaga. Soehadha membagi sifat kebudayaan dibagi menjadi dua, culture transformation yang mengubah rupa dan culture change yang mengubah hingga sistem gagasan. Budaya dipengaruhi oleh ekonomi, sistem keyakinan, dan lingkungan. Saat ini, Indonesia khususnya Yogyakarta tengah mengalami tumor budaya, yang dibanjiri oleh merebaknya budaya pop, budaya rendahan, dan budaya semu.

Dalam UUD 1945 pasal 32 telah diutarakan peran pemerintah dalam kebudayaan. Seperti hak kebudayaan, kearifan lokal, kelestarian alam dan lingkungan hidup, dan jati diri bangsa. Abdul mencontohkan implementasi ini lewat seorang tokoh dari Bantul bernama Wahyudi Anggoro Hadi, yang membangun kebudayaan di Yogyakarta lewat Kampung Dolanan, Panggung Lestari, sampai swadesa.  “Kita butuh ratusan ribu penghubung. Butuh jutaan kemasan,” tutur Abdul.

Reporter dan Redaktur: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of