Lpmarena.com, Forum Umar Kayam PKKH UGM menggelar diskusi bertema “Merawat Keberagaman yang Berkeadilan” di ruang timur PKKH UGM pada Rabu (12/10). Menghadirkan Elga J Sarapung selaku direktur Institut Dialog Antar-iman/DIAN Interfidei.
Elsa membagi wilayah beragama menjadi dua. Pertama, forum internum yang berhubungan dengan internal agama, seperti orang beribadah, yang merupakan wilayah privat yang tak perlu diganggu. Kedua, forum eksternum yang berhubungan dengan di luar agama, yang pada bagian ini sangat rentan dengan timbulnya masalah, karena berurusan dengan agama lain.
Forum eksternum semisal tentang radikalisme dan fundamentalisme agama yang sering ditujukan pada Islam. Sebenarnya, gejala ini ada pula di agama lain, semisal Kristen kaitannya dengan agama Saksi Yehuwa, yang oleh kelompok-kelompok Kristen dianggap bukan Kristen. “Beda tipis dengan Syiah, yang dikatakan bukan Islam yang benar,” kata Elsa.
Stereotip-stereotip keberagaman iman lalu coba diminimalisir dengan dialog. Dalam DIAN Interfidei contohnya, Elsa menggelar sesi “Udar Prasangka” antar iman. Ini dilakukan agar satu antar lain tidak takut bicara tentang prasangkanya terhadap iman yang lain. Di mana di sana Elsa menghadirkan para ahli agama untuk meluruskan prasangka.
“Kalau membangun dialog pada frekuensi yang sama, apa artinya? Kita menciptakan sesuatu yang menakutkan diri sendiri, tapi tidak mau tahu bagaimana dia (orang lain-red). Makanya kami kasi nama dialog antar iman, bukan dialog antar agama,” kata Elsa.
Saat ini agama lebih banyak berurusan dengan instutisional. Masyarakat terjebak beragama dalam tataran kuantitas, bukan kualitas. Seperti gereja dan masjid makin besar, tapi yang masuk sedikit. Atau fenomena buku agama banyak, tapi pengalaman berinteraksi kurang. Apa makna itu hubungan antar iman kurang dilakukan. Ini mengakibatkan orang lain tidak memiliki filter yang kuat sehingga kecurigaan mudah masuk.
“Kita jangan membangun tembok. Kita bangun jembatan, caranya dengan kerjasama. Kalau tidak isnya hanya kecurigaan. Dialog jangan mengharapkan yang bagus-bagus terjadi. Dialog berhasil jika orang mampu mendengar orang lain mengenali dirinya,” tutur perempuan yang juga pengurus Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Asasi di Jakarta dan pemerhati usaha-usaha Papua Tanah Damai ini.
Menurut Riki peserta diskusi, dalam satu agama saja bisa heterogen dan terkotak-kotak. Diperlukan interaksi dan toleransi yang kemudian membangun etika hidup bersama dalam masyarakat plural. “Iman bisa mengalami pendewasaan,” ucap Riki.
Reporter dan Redaktur: Isma Swastiningrum