Kutatap sepasang matamu
Tidak ada Soekarno yang geram menantang Amerika dan konco-konconya
Tidak ada Konsensus Washington dan agenda neoliberal bagi negara berkembang
Tidak ada kudeta dengan penerbitan empat UU yang menjadi pintu masuk penjajahan kembali dan genosida enam lima
Tidak ada rezim Otoriter Fasis Orde Baru
Tidak ada Manikebu yang mengering di Utan Kayu
Tidak ada Lekra yang mengerang di Pulau Buru
Kutatap lebih dalam matamu
Tidak ada Koperasi yang dipolitisasi
Tidak ada BUMN yang diprivatisasi dan dijadikan alat segelintir elit pemerintah dan investor asing guna memperkaya diri
Tidak ada Mafia Berkeley yang disebar ditiap lembaga pendidikan untuk mencuci otak mahasiswa-mahasiswi jadi kaum elitis
Tidak ada organisasi gerakan yang bobrok-rusak dengan kepentingan politis
Tidak ada praktek-praktek pembentukan intelektual organik yang bermental kompromis
Tidak ada darurat kebebasan literasi yang dipraktekan beberapa perguruan tinggi dengan menskorsing mahasiswanya atas tuduhan menyebarkan faham komunis
Tidak ada cecunguk-cecunguk penjilat di kampus-kampus yang berlindung dibalik ketiak seniornya yang didambakannya sebagai juru selamat
Tidak ada korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menjangkiti mahasiswa-mahasiswi baik di dalam organisasi maupundalambirokrasikampus
Kutatap jauh ke dalam matamu!
Tidak ada kolam-kolam merkuri bekas pertambangan pasir besi yang di umbar pihak korporasi
Tidak ada percepatan abrasi
Tidak ada korban penembakan atau peluru nyasar Angkatan Darat TNI yang brutal terhadap para petani yang berdemonstrasi
Tidak ada lima bocah yang menjadi korban ledakan martir di wilayah pesisir
Tidak ada rimba yang hancur porak poranda
Tidak ada perang saudara dan rintih duka
Tidak ada anak rimba, anak-anak desa yang terusir dari tanahnya dan tercerabut dari akar budayanya
Tidak ada preman-preman bayaran yang melakukan pengeroyokan dan teror kepada rakyat yang memperjuangkan keadilan
Tidak ada nelayan yang gusar dengan hasil tangkapannya yang sepi akibat proyek reklamasi
Tidak ada para petani yang mati-matian menjaga gunung-gunung suci tetap lestari untuk anak, cucu, cicit, dan keturunannya
Tidak ada para petani yang dikriminalisasi
Tidak ada seorang buruh perempuan yang digampar kasat intel polri
Tidak ada pembubaran paksa demonstrasi para buruh menolak Perwali yang mengancam kebebasan berekspresi
Tidak ada TKI yang menjadi korban penyiksaan dan dihukum mati
Tidak ada kampung-kampung yang hilang akibat tambang
Tidak ada sungai-sungai keruh macam comberan
Tidak ada hotel-hotel yang pongah bersanding sumur-sumur kering
Bah!
Kekasihku! pada sepasang matamu aku hanya temukan sebuah taman firdaus di jantung labirin kesunyian
Ruang dimana tak terdengar sedikitpun raung
Sehingga kita tak pernah bosan mengulang-ulang kisah cinta picisan
Membalas rayuan dan hanya bertukar ciuman
Mataku, matapisau
Matamu, mata dadu
Mata ibu, diambang mati
Yogyakarta, 11 April 2017. 15:08 wib.
Eko Nurwahyudin, Petruk lahir di Kebumen 11 Januari 1996. Kader PMII Ashram Bangsa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Ilustrasi: catatankosongblog.files.wordpress.com