Published on July 5, 2018
Oleh: Sholehatul Inayah*
Jika Anda mengenal Pare sebagai Kampung Inggris, kampung sejuta kursus, dan sejuta kenangan; yang dikunjungi ribuan orang dari dalam dan luar negeri, yang membuahkan orang-orang fasih berbahasa asing; saya melihat yang lain. Barangkali sebuah konsekwensi dari perjalanan pembangunan suatu wilayah yang tidak berimbang. Suatu akibat dari pembacaan pemerintah daerah yang rumpang. Maka inilah kesaksian Saya, semacam Pare undercover.
Beberapa hari Saya berada di Pare. Rasa takjub akan tempat ini membuat saya betah dan bertahan. Alam, teman gagal mesra satu pesantren Saya saat SMA, sudah menetap di sini selama kurang lebih satu tahun. Dia mengenal setiap sudut tempat ini sampai jalan tikusnya. Barangkali dia juga punya list titik-titik kakus dan alamat Mbah Dukun pembaca mantra yang dia rahasiakan dari kami. Hmm, Alam. Namun, ada sesutau yang kurang menyenangkan ketika pertama kali berkenalan dengan kampung ini.
Dalam salah satu pengantar essainya, Udji Kayang A.S menyebutkan bahwa āKota pada mulanya adalah citraā. Begitupun desa atau kampung. Wajah Kampung Inggris kala itu sungguh tak ramah dengan pendatang baru. Saya merasakan betul. Tentu saja ini di luar imajinasi saya tentang Pare. Maklum, saya jadi imajiner ulung akibat mengkonsumsi satu terbyte Drakor, hehe. Adalah pengamen dan pengemis begitu jamak dan mudah kita jumpai di jalan-jalan. Jadi begini realitas riil, bisa begitu berjaraknya dengan realitas media massa atau realitas informasi lisan tentang Pare.
Menanggapi kegelisahan Saya, Alam mengisahkan pengalamannya. Di suatu malam, dia bersama dengan tiga temannya yang dihantui oleh rasa lapar memutuskan mencari tempat makan yang pas dengan kantong anak kosan. Tentu bukan anak kos istimewa dengan kamar mandi dalam dan freezer; yang kalau sama kita palah buat naroh buku. Setibanya di warung Wakapo, baru berapa menit menunaikan ibadah ādinnerā, seorang pengamen menghampiri mereka. Salah satu temannya merogoh kantong, kemudian memberikan receh 500 rupiah. Lima menit berselang, datang lagi seorang pengamen lain. Tiba giliran Alam merogoh isi dompet.
Kejadian itu terjadi hampir disetiap lima menit berikutnya dan sempat membuat mereka merasa jengkel. āAku jengkel banget, apalagi saat satu di antara pengemen-pengamen itu memaksa untuk diberi uang. Mereka hanya pergi kalo sudah mendapatkan apa yang mereka minta,ā keluhnya. Duh, Alam, namanya juga seniman pemula. Lalu dia melanjutkan, āKalau mereka belum mendapatkannya, mereka akan terus bernyanyi hingga membuat kami bosan sebelum akhirnya mau tidak mau menyisihkan uang saku kami.ā
Kepada teman-temannya, dia menclekop, āBiaya duduk ternyata lebih mahal dari pada makanannyaā disusul tawa kecut temannya. Itu perkenalan awalku dengan Pare. Tidak begitu berbeda dengan pemandangan di warung kopi pinggiran di Jogja.
Lalu, apa masalahnya? Bukankah pengamen itu pekerja seni sebagaimana Al Imam Galau Rian Dāmassif atau bahkan Cholil Mahmudnya Efek Rumah Eska, eh, Kaca? Mereka menjajakan karya seninya kepada khalayak. Di sinilah titik permasalahannya: mereka lebih terlihat memalak dari pada mengamen.
Ironisnya, Ā mayoritas dari mereka adalah anak-anak berusia 10 tahun hingga remaja. Anak-anak yang baru melewati pubertas beberapa tahun lalu, beberapa bulan sebelum Habib Rizieq umroh dan tak kunjung mudik. Duh, ummat rindu, Bieb! Eh, harusnya kalo ngeghibah jangan sebut merek, jadi nggak dosa. Balik lagi, hilir mudik yang lebih padat dari jadwal Trans Jogja (emang dasarnya TJ lama beud) telah merubah citra Pare bagi sebagian pendatang; yang mulanya kampung sejuta kursus menjadi kampung sejuta pengamen.
Padahal remaja-remaja ambivalen itu masih polos, belum bisa disebut dengan pemuda. Mengapa? Dalam quotes buku Pahlawan-pahlawan Belia karya Saya Sasaki Shiraisi, menjelaskan perbedaan yang sangat menonjol antara makna dari pemuda dan remaja. Kata Sasaki, āPandangan stereotip kontemporer tentang remaja menggambarkan mereka sebagai kumpulan orang yang belum matang, cenderung bergerombol. Kadangkala mengenakan seragam sekolah, tidak disiplin, gampang naik darah, liar, dan terutama tidak pentingā. Berbeda dengan tanggapannya tentang pemuda yang secara konotatif memiliki makna yang lebih revolusioner.
Setelah beberapa bulan, Alam melihat sedikit tindakan dari pemerintah Pare. Ya, kita nggak tau, tindakan itu memang benar-benar untuk āmempemudakanā remaja-remaja mereka, atau mungkin hanya bentuk formalitas saja. Beberapa hari polisi mulai berpatroli, pamflet dilarang mengamen memenuhi jalanan, pos-pos penjaga mulai dibangun.
Sayangnya, aktifitas ini hanya berjalan beberapa minggu dan akhirnya semuanya kembali seperti sedia kala. Lalu Alam bertuah, Kau tau Ā apa kata James Bender dan Lee Graham dalam bukunya yang berjudul Your Way to Popularity and Personal Power? Mereka bilang, āFinally, in a matter of months, you were back where you started, having the same trouble as usualā. Kenapa itu semua terjadi? Simon Sinek dalam pidatonya menyebutkan āConsistency not intensityā. Kita bisa berkesimpulan bahwa tanpa konsistensi oleh pemerintah setempat, semua akan berakhir kembali di awal,Ā tak peduli seberapa besar niatnya. Kok seperti Sisipus, ya?
Kini pengamen, pengemis, bahkan pencuri pun kian beraksi lagi. Di camp Saya, baru sehari aktif Ā kursus, seorang pencuri masuk dengan mudahnya. Padahal beberapa meter di depan adalah pos penjaga. Lumayan sukses, berhasil menggaet gadget dan uang Ā 500 ribu. Beberapa bulan yang lalu laptop si Alam juga diculik. Muncullah pertanyaan susulan, bagaimana bisa seorang pencuri masuk ke dalam camp sementara di depannya terdapat pos penjaga?
Au, ah, gelap. Dalam pandangan yang lebih kritis, bagaimana jika pengamen, pengemis, dan pencurinya itu merupakan dampak dari pembangunan wilayah yang tidak emasipatoris? Dari pemetaan sosial pemerintah setempat yang rancu? Kata redaktur online Saya yang pernah hidup di jalanan selama dua tahun dengan mengamen, kebanyakan dari mereka yang ngamen, mencopet, dan sejenisnya, adalah korban broken home dan ketidkahadiran pemerintah dalam hal pendidikan dan ekonomi. Bagaimana mungkin pendatang berduyun-duyun datang untuk belajar bahasa asing, tes Toefl, sampai uji IELS, lalu lanjut S2 di luar negeri; sementara tidak sedikit warga setempatnya justru menjadi pengemis sampai pencuri? Situ yakin sehat, Om?
Sholehatul Inayah, sedang belajar bahasa Inggris di Pare. Redaktur jangan ganggu!
Editor: Syakirun Niāam
Gambar: Ayo Piknik