Lpmarena.com-Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta menggelar diskusi tentang keadilan iklim di Aula Kantor Yayasan LKIS, Minggu (05/2). Diskusi ini diikuti oleh jurnalis media mainstream, pers mahasiswa, organisasi komunitas dan aktivis pegiat lingkungan yang ada di Yogyakarta.
Faktor utama perubahan iklim adalah ulah manusia, Heron dari Jampiklim menjelaskan kontribusi oksigen dari hutan lebih kecil dibandingkan dari biota laut, sedangkan laut kita semakin tercemar. “Lho laut kita penuh dengan sampah dan makin tercemar, hutan juga dibabat,” lanjutnya.
Mohammad Ali Rohman, dari Yayasan LKIS, menyampaikan bahwa krisis iklim menjadi ancaman serius bagi penghuni bumi. Namun, masih banyak warga yang acuh terhadap situasi tersebut.
“Diskusi yang diselenggarakan bersama jurnalis pada hari ini merupakan langkah dalam menarasikan krisis iklim ini ke ruang publik dan sekaligus menjadi sebuah edukasi yang masif,” tutur Ali.
Melansir dari hasil survey yang dilakukan PPIM UIN Jakarta tahun 2024, sebanyak 21% masyarakat Indonesia masih meragukan atau bahkan menolak fakta bahwa manusia menjadi penyebab utama perubahan iklim.
Selain itu, Etik Setyaningrum, dari Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, menjelaskan dari tahun ke tahun cuaca ekstrim makin sering dirasakan. Hal ini diakibatkan oleh pemanasan global atau signal pemanasan global.
“Misalnya saja di 2016, suhu bumi mencapai 1.28°C di atas suhu rata-rata massa pra-industri. Di Indonesia, anomali maksimum tercatat di Stasiun Meteorologi Sentani – Jayapura (sebesar 0.8 °C) pada tahun 2022,” ujar Etik.
Ia juga memaparkan data statistik BMKG, perubahan iklim menyebabkan bencana hidrometrologi yang makin sering terjadi. Ia menjelaskan bencana hidrometrologi merupakan bencana yang berhubungan dengan air dan atmosfer.
“Kebanyakan air jadi banjir, kurang air kekeringan, atmosfer terlalu lembab bisa menyebabkan beberapa varietas tidak dapat panen dan lain sebagainya,” Ujar Etik.
Lebih jauh menurut Etik, ada dua cara dalam menghadapi perubahan iklim, pertama tindakan mitigasi yaitu mengatasi penyebab perubahan iklim dan kedua adaptasi yaitu tindakan menyesuaikan diri untuk mengantisipasi pengaruh buruk perubahan iklim.
Sejalan dengan itu, moderator diskusi, Abdul Mughis dari AJI Yogyakarta, menjelaskan kondisi jurnalis saat ini menjadi lebih sulit saat meliput isu tentang keadilan iklim. Menurutnya, tuntutan dari kebijakan media mainstream saat ini tidak memungkinkan untuk membuat liputan yang mendalam. Terlebih isu iklim yang dianggap tidak terlalu penting bagi masyarakat.
“Tak jarang jurnalis lebih menyukai menulis berita atau informasi yang tengah viral dan dianggap lebih menjanjikan di meja redaksi,” ujar Mughis.
Dalam penutup acara diskusi, Ali berharap akan adanya kesadaran dan peran aktif jurnalis bersama masyarakat sipil dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal itu dilakukan melalui narasi dan edukasi perubahan iklim di ruang publik lebih masif.
Reporter Elang Dwipa Mahardhika | Redaktur Ridwan Maulana | Foto Tim Dokumentasi LKiS