Home MEMOAR Arena: “Titisan” Sunan Kalijaga

Arena: “Titisan” Sunan Kalijaga

by lpm_arena

Oleh: Faqih Ridho*

Lpmarena.com– Entah kenapa para tokoh pendiri lebih memilih kata “Arena” sebagai nama untuk pers mahasiswa di kampus IAIN Sunan Kalijaga? Memberi nama bagi insan akademik IAIN yang waktu itu mayoritas alumni pesantren bukan lah sekedarnya saja. 

Nama adalah cita harapan dan pencapaian yang dititipkan secara teologis dan diikhtiarkan secara praksis dalam tindakan sehari-hari, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun. Setidaknya inilah yang sudah dilihat dan dialami dalam lini masa 50 tahun eksistensi Arena sebagai ruang berpikir dan bergerak seperti yang dituliskan Mas Kyai Mun’im DZ, selaku diantara masyayikh Arena yang masih sehat dan progresif, hingga saat ini.

Entah kenapa pula Arena berada dalam “ampuan” Kanjeng Sunan Kalijaga. Tokoh ‘auliya Tanah Jawa yang dikenal dengan citra tampilan “njawani” ini dipilih oleh para pendiri juga berbeda dari nama kampus Perguruan Tinggi Islam yang lain. Ini pun seolah memvalidasi bahwa para “anak zaman” yang berproses di dalam Arena adalah DNA dari Sang Susuhanan Brandal Loka Jaya.

Saya baru nimbrung menulis coretan ini setelah acara Harlah 50 tahun kemarin. Mas Ismahfudi, selaku ketua LPM di era kepengurusan saya mengelola Arena, nodong saya untuk ikut mengimbuhkan pengakuan selama menjadi “khalifah” di Arena. Awalnya saya sungkan cenderung malu karena setelah membaca tulisan para senior dan junior yang sangat keren dan “mengganjal” di portal online Arena. Saya sadar sudah sangat lama tidak menulis pendek apalagi panjang. Asahan mata pena yang berganti papan digital ini hanya terbiasa menjawab chat pesan keseharian saja. Namun, saya ingat diantara amaliyah tarekat Arena adalah “melawan rasa malu” (yang ujungnya bisa berkesan tak tahu malu 😁).

Saya masih ranum saat diserahi tanggung jawab menjaga gawang Arena di 98. Di tahun tersebut gerakan mahasiswa mencapai titik puncak dengan tergulingnya Sang Raja Orba Jenderal Soeharto dari kursi kepresidenan. Era 98 menandai mulainya keterbukaan bersuara dan demokrasi. Tak ada lagi ketakutan atas intimidasi kekuasaan otoritarian. Semangat reformasi dengan berbagai tuntutan perubahan mendasar oleh seluruh rakyat Indonesia menjadi agenda mendesak yang hanya bisa digerakan dengan ruang demokrasi yang adil dan terbuka.

98 adalah puncak kegemilangan gerakan mahasiswa di satu sisi sekaligus di sisi lain menjadi awal kegundahan akan keberadaan pers mahasiswa. Sebab perjalanan yang sudah tiba di puncak menyisakan keniscayaan rute lanjutan berupa jalan menurun. Itulah mula kegalauan dengan pertanyaan quo vadis pers mahasiswa? 

Ide dan aksi tentang perubahan yang berkeadilan dan berkemanusiaan merupakan panggilan moral yang wajib dilakukan oleh penggerak zaman dan peradaban. Pers mahasiswa yang berarti juga gerakan mahasiswa adalah agen atau aktor utama perubahan politik orde baru serta reformasi total dalam rentangan sejarah Republik Indonesia. Spirit dan kehendak tak henti atas perubahan serta perbaikan seluruh bidang kehidupan masyarakat, berbangsa, bernegara, selalu menjadi bahasan utama.

Saya dan kawan-kawan baru sebagai rekrutan Arena di 98 merasa suasana hiperbolik sebagai aktivis pers mahasiswa. Pembredelan seluruh kegiatan majalah Arena selama beberapa tahun tidak melunturkan kehebatan sepak terjang semua pegiatnya. Memang pola kaderisasi di Arena unik dan berbeda dibandingkan majalah mahasiswa yang lain. Satu sisi sangat egaliter, tapi disisi lain intimidatif-dominatif- hegemonik (untuk gambaran ini silakan diulik masing-masing memorinya yaaa…hehe).

98 membuat ARENA bisa terbit lagi pasca bredel dengan mengusung tema besar ekonomi kerakyatan (kampus yg sama sekali tak punya jurusan ekonomi nekat bicara ekonomi). Saya dan kawan-kawan rekrutan baru dilibatkan dalam reportase. Proses menjadi jurnalis amatir pun pelan dimulai. Komputer baru dan segar duduk “menggoda” di kantor Arena bawah masjid. Aktivitas pelaporan dan penulisan pun mulai dilakukan silih berganti, siang dan malam. Saat terbit edisi dengan cover biru keunguan tadi dibuatkan acara peluncurannya dan saya ditunjuk sebagai ketua pelaksananya.

Ba’da launching ini mulai terasa aroma perpisahan dengan para senior yang jaraknya cukup jauh dengan kami. Mereka kebanyakan sudah di semester dua digit. Dan benarlah dugaan saya saat rapat anggota untuk kepengurusan baru LPM serta majalah Arena saya didapuk menjadi Pemimpin Redaksi bersama almarhum Jauharul La’aly yang populer di celuk Gareng selaku Pemimpin Umum.

Ilmu jurnalistik dan penulisan yang masih dangkal, plus pengalaman pergerakan mahasiswa yang masih pendek membuat saya dipaksa “dewasa sebelum waktunya” untuk memegang kendali majalah Arena. Bareng Mas Gareng yang sebenarnya lebih senior saya ngobrol “Gimana ini?” Dengan santai dia jawab “Wes lah, mlaku ae sak kenane. Aku yo podho ra pati ngerti.” Sengaja saya menulis dalam bahasa Jawa sebab almarhum Mas Gareng bilang bahwa dia kesulitan berbahasa “EndoneSA” (jarang dia sempurna mengucapkan Indonesia). 

Celetukan Mas Gareng yang khas dan slengean itu membuat saya berpikir bahwa tak usah terlalu terbebani dengan apa yang sudah dipercayakan oleh sejarah. Waktu itulah saya sekilas membayangkan Kanjeng Sunan Kalijaga sebagai tokoh perubahan fundamental sekaligus paling fenomenal dalam Syiar Islam di Nusantara wabil khusus Tanah Jawa. Gaya “zigzag” dan anti mainstream tanpa ada pakem baku dalam bergerak dengan tetap teguh pada tujuan utama. Dan, para pendahulu saya di Arena adalah orang-orang yang secara tak disadari sedang ” tafa’ulan” dengan Mbah Kali ini. Setidaknya selama mengabdi di Arena saya dan kawan-kawan bisa menerbitkan dua edisi.

Satu ketika pas pulang kampung saya di Kotabaru Kalimantan Selatan almarhum Abah saya bertanya dua hal. Pertama, apakah saya sudah menemukan jejak kawan sekamar beliau selama mondok di Pesantren Rakha Amuntai. Yang dimaksud adalah Tuan Guru Fahmi Arif yang beberapa waktu lalu meninggal dan dimakamkan di Tarim Hadramaut Yaman. Saya ceritakan ke almarhum Abah bahwa saya sudah menemukan di antara arsip Majalah Arena lama nama kawan beliau tadi sebagai Pemimpin Redaksi di era itu (Kalau tak salah di era Alm Mas Kyai Slamet Effendi).

Pertanyaan kedua adalah yang mengganggu Abah saya. Sebab saya saat itu pulang dengan mengenakan kalung di leher. “Hey Faqih, kenapa kamu pake kalung?” Sambil ditatap tajam. Entah kenapa saya tanpa beban menjawab “Ini kalung pemberian Sunan Kalijaga,Bah!” Yang terjadi spontan Abah saya tertawa lepas.

Untuk semua anggota keluarga besar majalah mahasiswa Arena serta IAIN/UIN yang sudah mendahului ke Ilahi rabbi, doa ampunan dan rahmat kita selalu panjatkan. Semoga kita semua masih diberi sehat selamat panjang umur. Dan satu ketika mungkin bersama kita ziarahi para pendahulu Arena dan Kanjeng Sunan Kalijaga, lahu wa lahumul fatihah.

*Pemred Arena 1998-1999. Politisi non-job tinggal di Cirebon | Foto Dokumentasi Arena