Oleh Budi Oza*
Pengalaman Liputan: Gagal, Konyol, dan “ih, ..serem!”
Purnatugas jadi Pemimpin Redaksi, saya masih turun membantu-bantu liputan edisi berikutnya. Saat itu PU Arena telah dinahkodai Slamet “sinyo” Fauzi dan dapur redaksi dipimpim Pemred Falik “belek” Isbah. Saya ambil bagian liputan ke Jakarta, beberapa calon narasumber sudah dikantongi. Antara lain seingatku ada Prof. Anhar Gonggong ahli Sejarah dan Pramoedya Ananta Toer. Namun sebelum ke Jakarta, singgah dulu ke Bandung ikut pertemuan Forum Bahasa yang dihadiri para editor & redaktur senior di kantor koran Pikiran Rakyat, di Soekarno-Hatta.
Weleh, saya merasa konyol menghadiri forum macam itu. Hanya berbekal berita di Koran Bernas dan selang waktu muncul juga di KOMPAS, bahwa akan ada pertemuan Forum Bahasa. Saya begitu saja datang tanpa undangan.
Di pagi buta saat hari pertama sampai di Stasiun Hall, Bandung, kami rada bingung kemana dan pakai moda transportasi apa untuk bisa ke IAIN SGD. Dua kampus memang akan disinggahi adalah IKIP Bandung (sekarang UPI Bandung) dan IAIN SGD (sekarang UIN Sunan Gunung Djati). Sebelum siangnya ke Pikiran Rakyat, pagi ke kampus UIN Sunan Gunung Djati, tetapi tidak bisa menemui siapa-siapa, kantor majalah mahasiswanya tidak mudah ditemukan. Lalu sembari menghabiskan waktu untuk mendekati acara di Pikiran Rakyat, kami mondar-mandir Bandung. Hingga siangnya, tibalah di Pikiran Rakyat.
Nah, saat hadir di forum kami ditanya, karena forum pertemuan tetap antar redaktur tetiba ada wajah-wajah baru, dengan PD-nya saya jawab dari Majalah Mahasiswa Arena IAIN Jogja. Beberapa menit kedepan, forum jadi welcome, dan kami dapat mengikuti diskusi perkembangan kebahasaan itu. Kelak, di redaktur-redaktur Bahasa itu lamat-lamat saya dengar ada kesepakatan untuk selain berbahasa “yang baik dan benar” (EYD), juga menghindari istilah-istilah Bahasa Asing/Inggris, bertekad mengembangkan lema-lema Bahasa Indonesia untuk istilah dan pemberitaan. Hal ini terlihat sekali di redaktur kebahasaan KOMPAS.
Habis acara forum itu, saya tidak segera langsung ke Jakarta, tetapi singgah dulu ke UPI Bandung seperti rencana. Di UKM Persmanya (aduh lupa namanya) kami diterima baik, di situ ada aktivis mahasiswa senior yang mengajak diskusi tentang isi liputan Jagad Mental: Masyarakat Baduy. Tentu saja saya tidak punya banyak bahan eksplorasi, karena saya tidak ikut turun langsung dalam liputan Masyarakat Kanekes itu. Saat mau ikut turun, saya dilarang—“Kalau kamu ikut, terus siapa yang jaga dapur ARENA?” begitu cegah teman-teman. (Berbeda saat nanti diskusi konten majalan ini dengan Alm. Bisri Effendy (LIPI), dan Ahmad Baso di Desantara, Depok).
Saat bedah & launching majalah bersama Mas Haisa (Hairus Salim) dan Mas Kirik Entarto, kita saat itu diskusi tentang cultural studies, antropologi, dan selebihnya kebudayaan. Saat berburu narasumber Kirik Entarto untuk bedah dan launching, atas beberapa rekomendasi dan saran, saya harus menghadiri pertemuan-pertemuan diskusi kebudayaan agar bisa bertemu dengan jadwalnya. Zaman itu tak mudah mencari orang dan alamat/no teleponnya, apalagi saya tidak punya handphone. Akhirnya bertemu di LIP (Lembaga Indonesia Perancis) Yogyakarta. Suatu kali saya ke rumahnya, ternyata aksesnya lumayan susah harus masuk pinggiran hutan jati (duh lupa nama desanya) karena ia tinggal “di dalam hutan”. Wah, menarik orang ini, gumamku. Konteksnya in-line dengan tema Jagad Mental, hehe. Meski begitu, rumahnya punya line-saluran telepon.

Hal yang konyol lainnya, di UPI saya dan teman diinapkan di klinik kesehatan kampus, karena tuan rumah merasa kurang pantas bila tidur ndlosor di kantor persmanya. Klinik ini bersebelahan dengan UKM Persma UPI, ada semacam connecting door-nya. Esoknya, pagi sekali pintu utama dibuka lebar-lebar, maklum saat itu saya masih “bangsawan”—bangsa tangi awan, kami dibangunkan suster-suster gareulis berjilbab rapi. Duh, terbayangkan kelimpungan, isi kepala belum lengkap, campur isin! Arkian akhirnya kami memutuskan segera ke Jakarta, saya menuntaskan tugas liputan.
Keluar dari Stasiun Jatinegara, sesampai di Ibukota, saya terpikir bagaimana cara cari alamat dan kontak narasumber. Langsung terpikir ke wartel. Di situ pasti ada yellow page, buku direktori alamat dan nomor telepon. Ini benar-benar grounded, jangan bayangkan ada google search atau g.map yang memudahkan pencarian alamat dan nama orang. Seantero direktori alamat & no. telepon Jakarta disisir jari-jemari. Prof. Anhar Gonggong ketemu di Jakarta Timur, lengkap dengan alamat rumah, tak sekedar nomor telepon rumah. Ketemu no. telepon Pak Anhar langsung saya telepon. Tersambung, lalu buka obrolan, Pak Anhar minta untuk datang ke Gedung Sapta Pesona di seberang Patung Kuda Arjuna. Esoknya saya kesana, diterima oleh sekretarisnya Ibu Sri, tetapi diminta datang keesokannya lagi. Wawancara berhasil, tak perlu lama apalagi berpekan-pekan seperti pencarian narasumber Pramoedya Ananta Toer.
Sementara alamat & no. telpon Pramoedya Ananta Toer nggak ketemu-ketemu. Berulang-ulang dipetani nama-nama inisial P, sampai mata blereng. Untuk narasumber Pram, hasil nihil. Ini menantang! Saya harus berhasil mendapatkannya, karena sudah ditetapkan dalam rapat redaksi bahwa Pramoedya salah satu narasumber untuk edisi “Jejak Tanah Kolonial”—kalau tak salah ingat—yang bakal terbit.
Beberapa pekan perlu menggelandang saat mencari alamat dan kontak Pram, sampai logistik habis. Beruntung ada senior-senior seperti Alm. Ka Rafi’ (Rafiuddin Munis), Ridwan Jgt (Moch Ridwan) dan Gazroel (Nurul Huda) yang kadang menerima tumpangan makan malam, sesekali numpang tidur juga. Sampai akhirnya, saya dipertemukan dengan Mba Tuti Ananta Toer (Astuti Pramoedya Ananta Toer) oleh Cak Farhan (Gus Farhan Evendy). Rupanya Pram tinggal di Bojonggede, Kab. Bogor. Pantas saja sulit ditemukan kontak dan alamatnya. Kelak saat saya tinggal di Bojonggede (2009-2015), tak mudah menemukan kembali rute dan jalan menuju rumah Pram ini. Entahlah.
Saya berhasil bertemu dan wawancara dengan Pram, itu setelah ikut serta dalam satu mobil dengan Mbak Tuti, putrinya, pulang ke Bogor. Sampai di rumah, hari sudah sore jelang petang. Rumah Pram masih masuk lagi dari jalan besar kedalam, temboknya tinggi—begitu tertutup. Meski demikian, nampak banyak tetamu datang. Saat saya datang, ada sekumpul anak-anak muda duduk-duduk mengelilingi meja berpayung besar di sudut halaman. Saat saya tanya ke Pram, katanya mereka adalah mahasiswa dari IKIP Jakarta. Mereka sepertinya sudah mau pulang—sementara saya baru datang dan hanya punya waktu sebentar untuk ngobrol dengan Pram. Sepertinya sudah jadi kebiasaan, anak-anaknya meminta Pram segera masuk kedalam rumah saat hari mulai petang.
Pram banyak mengulas tentang peran pemuda, seingat saya, dalam mendorong perubahan dari periode ke periode kronik sejarah. Setelah Pram “kena wajib” masuk rumah jelang petang, saya undur diri. Celakanya, dalam obrolan wawancara yang tak sampai satu jam itu, tape recorder yang diserahkan Slamet Sinyo ke saya nggak jalan proses recordingnya! —di kepala nggak karuan karena recording tidak jalan ini. Terpaksa saya memutar semua ingatan obrolan, dan segera mencatat di secarik kertas yang terbatas.
Di Stasiun Manggarai, saya mendapati pemandangan yang mengejutkan: dari bawah peron-peron stasiun bermunculan orang-orang, ada cahaya-cahaya temaram dari balik kegelapan bawah peron, sepertinya damar oblig. Rupanya ada gorong-gorong di bawah peron yang berfungsi jadi “hunian” para tunawisma. Laki-perempuan hidup bersama, rupanya hal biasa. Outsider menyebut hal itu ‘kumpul kebo’, tetapi bagi mereka itulah cara membuat pranata perkawinan sendiri. Saat saya baca ada kabar dan berita penggusuran di Kawasan Mayestik, Kebayoran Lama, pemandangan ini jadi backgrounding saya menulis cerpen “Perempuan Hitam.” Cerpen ini ditulis di desktop Desantara Depok, dalam semalam, dan tidak pernah dikirimkan ke media massa.
Namun, kelak tetiba muncul di majalah Al-Fikr IAI Nurul Jadid Probolinggo, dan sekali kemudian di Didaktika UNJ Jakarta. Saya juga menulis puisi, tetapi tidak pernah dikirim ke media, sekali dikirim ke KR dan dimuat bersama karya Hasta Indriyana-UNY. Pernah menulis opini “Iklan Mengepung Kota” di ruang surat pembaca Kompas edisi Yogyakarta, namun sejak opini saya muncul di ruang pembaca rubrik itu berubah jadi “Kolom Opini”. Berkat honor tulisan tsb saya bisa membiaya KKN secara mandiri, itu pun berkat bantuan no rekening BNI sdr Suryo (Surya Diputra) yang mau dipinjamkan buat landing transfer honor. Zaman segitu, jangan tanya mahasiswa semua punya no rekening bank—hanya beberapa saja. Mungkin sebagian kecil tidak punya, dan saya bagian kecil itu.
Oya, selama saya berburu alamat Pram saya sempat bertemu dengan senior Arena lainnya di Ciputat, Mas Hamami Zada. Meski pertemuannya tidak terlalu lama dan intens, saya malah jadi kenal dengan Ahmad Baso. Membaca hasil edisi “Jagat Mental Budaya Lokal” itu Ahmad Baso menawarkan untuk singgah ke Desantara.
Suatu kali, akhirnya kelakon juga saya ke Desantara dengan dibonceng Ahmad Baso pakai motor Supra menelusuri jalan-jalan pintas dari Ciputat ke Depok. Di Desantara, saya diajak diskusi dan bedah edisi bersama (Alm.) Bisri Effendy peneliti LIPI, juga pendiri Desantara itu, bersama Ahmad Baso—semula saya tak tahu kalau Bisri Effendy adalah juga jebolan Arena. Ini saya tahu beberapa hari kemudian ketika bercerita ke Kak Rafi’ (Alm. Rafiuddin–eks Pemred) kalau saya bertemu dan diajak diskusi peneliti LIPI Bisri Effendy di Desantara. Diskusi topik Masyarakat Baduy itu sampai larut malam, ke jam 2 dini hari. Desantara mengapresiasi hasil liputan teman-teman ini, dimana ia merasa cultural studies-nya lebih mengena tinimbang edisi Desantara yang saat itu mengulik hal sama: Masyarakat Baduy.
Esoknya Arena ditawari keluar dari kampus—berdiri sendiri dan agar terbit dengan tertib. Karuan saja saya tidak bisa meng-iyakan, selain saya juga bukan lagi pengurus—keputusan macam ke arah sana mesti dibahas oleh musyawarah anggota. Dan saya merasa itu tidak mungkin. Arena lebih baik tetap ada di lingkungan kampus, dengan segala progresifitas dan tantangannya, pikirku. Ide dan tawaran itu, akhirnya, tidak pernah saya sounding-kan ke teman-teman.
Dikejar Jawara Ujung Kulon Hingga Diancam Ditusuk Preman Kalideres
Arena pernah melakukan liputan kasus pengangkatan BMKT (barang muatan kapal tenggelam) di Banten, tepatnya di Ujung Kulon Labuan Banten. Saya bersama Edwin (Anwar Wahyudin) ditugasi liputan ini. Kami berangkatlah ke Banten, sembari Edwin pulang ke rumah Pandeglang. Rumah Edwin jadi home base titik berangkat kami melakukan hari-hari liputan. BMKT ini ada di perairan dangkal teluk kecil Pulau Panaitan.
Saya berusaha banyak menggali informasi lapangan dan sejarahnya kapal-kapal tenggelam disana. Rupanya, Pulau Panaitan itu tak mudah dijamah, alias jarang orang bisa kesana. Berdasar info dari salah seorang warga yang pernah berhasil kesana, caranya kita sewa perahu nelayan. Itu pun bisa dilakukan sembunyi-sembunyi, jika nahas kepergok patrol laut AL, bisa kena tuntutan pidana atau sanksi. Untuk menuju ke sana tentu juga menerabas lewat hutan kawasan TNUK (Taman Nasional Ujung Kulon). Petugas ‘jagawana’ atau yang ditugaskan TNUK terang tak mudah kasih izin masuk. Akhirnya kami (aku dan Edwin) mencoba mengumpulkan data informasi dari sumber lingkar info terdekat. Siapa? Pejabat TNUK.
Perintah pengangkatan BMKT Ujung kulon yang memicu konflik kepentingan di bawah – di atas ini datang dari instruksi Presiden RI KH Abdurrahman Wahid. Dokumen yang pernah saya lihat saat itu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden menjabat yang menandatangani instruksi pengangkatan. Tetapi Gus Dur keburu dilengserkan pada 23 Juli 2000, lalu presiden berikutnya Megawati yang melanjutkan pelaksanaan pengangkatan BMKT Ujung Kulon.
Saat di lapangan, kasus ini tak mudah didekati. Kebijakan pengangkatan BMKT ini jadi “tarik-menarik kepentingan” di pusat antara klaim Departemen Kehutanan (nomenklatur masih dept), yang memegang otoritas Kelola TNUK, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), dan Angkat Laut sendiri. Selain itu, pemerintah daerah juga punya kepentingan. Sementara beberapa barang seperti batangan timah sudah beberapa kali diangkat. Yang melakukan bukan hanya oknum dari pemangku kepentingan itu, juga dari oknum nelayan. Menurut info lapangan, nelayan yang terlanjur mengangkat dan membawa pulang jadi ketakutan dan memilih menguburnya. Saat itu di pasar gelap timah batangan itu dijual 6.000 per 1kg, sementara harga sebenarnya 12.000. Di kantor TNUK kami cek dan lihat langsung batangan-batangan timah yang disita dari masyarakat. Saya dan Edwin coba mengangkat 1 batang timah, tetapi gagal mengangkatnya. Kami angkat hanya sampai setinggi betis tak sampai selutut, begitu beratnya satu batang timah itu. Tertulis London Lock Head – 1928, pada setiap batang timah.
Liputan kasus BMKT ini tidak bisa mendalam, begitu rumit dan tertutupnya. Saya wawancara dengan kepala TNUK yang susah ditemui, hingga berkali perlu datang ke kantornya. Kami selingi ke kantor DPRD, rupanya di sana juga sudah ada beberapa wartawan. Dari situ saya jadi tahu kalau proyek pengangkatan BMKT ini juga jadi konflik kepentingan pemerintah daerah. Makin rumit di atas dan di bawah. Akhirnya satu siang itu kami bisa bertemu dan wawancara dengan kepala TNUK (lupa namanya). Informasi tak memuaskan, otoritas TNUK tak mau banyak membuka diri.
Hingga kami pun “disogok” Rp.100.000. Dengan pelan saya bilang, “Maaf pak, saya sudah ada biaya dan transport.” “Sudah, lah! Kamu bawa aja, terserah kamu kasihkan orang di luar nanti, ke peminta-minta, atau ke orang jalanan.” Sergah dia dengan nada tinggi. Saya tinggalkan uang tsb di atas meja di depan ia duduk sambil pamit dari ruangnya. Edwin pun mengekor di belakang tapi rupanya masih tertambat obrolan kecil dengan kepala TNUK, aku ngeloyor pergi.
Keluar ruang kepala, saya ke ruang tamu sebelah dalam lobi, di situ saya bertemu pegawai TNUK lainnya, Bapak Budi Marwanto. Saya sampai kenal orang ini, saking seringnya mondar-mandir bolak-balik ke TNUK. Pak Budi ini dari Wonogiri, dengan sesekali berbahasa Jawa kromo saya jadi enak ngobrol dengannya. Nah, di hari itulah Pak Budi Marwanto ini memainkan perannya yang menurut saya jadi terbukti pengakuannya bahwa ia disegani preman dan jawara Ujung Kulon. Sebelumnya, Pak Budi ini cerita kalau dia selama bertugas kawasan TNUK semua preman dan jawara di Ujungkulon itu segan dan takut. Bahkan, kalau dia sedang bertugas patroli tak ada orang bengal satu pun yang coba-coba nyuri-nyuri masuk kawasan apalagi mengganggu satwa badak Jawa. Dalam satu obrolan dia menawarkan untuk touring kedalam TNUK, melihat badak, tapi jangan pas lagi tugas liputan, sarannya.
Saat keluar ruang kepala TNUK itu, rupanya di halaman parkir sudah bertengger satu mobil Jeep Hard-top, kursi penumpang full duduk orang-orang yang nampaknya terpengaruhi oleh minuman keras. Feeling ku langsung main kasih signal: Oh its not good! Sopir turun menghampiri kami yang sedang mengobrol dengan Pak Budi. Saat itulah, si sopir ditahan dalam obrolan oleh pak Budi, semetara kami diberi kode untuk segera pergi. Kami bergegas seolah ke belakang, bukan ke pintu keluar depan, padahal kami keluar melalui pintu samping.
Dari halaman kantor TNUK, Edwin menuntun GL Pro nya dan mengajak saya segera memacu motor ini dengan kecepatan gila! Bus AKAP Banten-Jakarta saja disalip laju GL Pro. Seandainya kami jatuh pun, mungkin bisa melaju melayang ke alam baka. Setelah beberapa kilometer keluar jauh dari Labuhan Banten, Edwin menyuruh saya menunggu di gardu poskamling. Dia bawa motornya, dititipkan di sebuah pesantren konon masih saudaranya. Lalu kami melanjutkan dengan bus pergi ke Serang. Di Serang kami menurunkan tensi ketegangan sesaat, di basecamp seorang mantan aktivis Forkot. Di sana saya berharap bisa istirahat dan tidur, tetapi kenyataannya tidak. Sementara Edwin sesampainya sudah bisa istirahat dan tertidur, saya malah diajak diskusi tentang kebudayaan antara di Jogja dan di Banten, lagi-lagi menyinggung Masyarakat Baduy juga, dari habis magrib sampai subuh pagi! Dari pengalaman lapangan dari Banten itulah hal mistik pertama saya alami dalam hidup. Cukup berharga, dan menyeramkan—dan tentu juga menegangkan!
Setelah dipertimbangkan bolak-balik, bahwa liputan BMKT ini tidak berhasil; mengingat logistik terbatas dan peliknya konflik internal dan eksternal di lokasi dengan segala risiko yang ditanggung saya memutuskan untuk pulang. Setelah separuh jalan naik bus Banten-Jakarta, saya rupanya tertidur menjelang sampai di Terminal Kalideres. Bangun-bangun sudah di terminal, masih di dalam bus sendirian, sepi, yang sudah terparkir mati mesin. Gelagapan buru-buru saya turun, dan mencari bus ke arah Kampung Rambutan. Bus jurusan Kampung Rambutan didapat, segera saya masuk—tetapi memilih duduk di tengah, harapannya bisa menuntaskan kantuk yang masih menggelayut. Nampak penumpang baru naik lainnya memilih duduk dekat kursi sopir. Saat itulah saya mulai didekati pengasong, rupanya sebagian adalah preman terminal.
Terbukti salah satunya mula-mula mengajak ngobrol lalu menodong. Karena alot, dengan memaksa dia mengancam—“Nanti aku tusuk kamu”. Katanya sambil mengarah ke perut. Lama juga dia menekan, belum berhasil, nampak sepasang mata sopir mengawasi dari spion di atas kepalanya, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya kurogoh dari saku celana sebelah kanan, tanpa tahu lembaran berapa yang ketarik keluar—oh, selembar 20 ribu. Aku kasihkan.
Setelah menerima uang orang ini pergi, tetapi tak berselang lama temannya datang juga; memelas minta uang, kali ini bukan nodong. Aku rogoh lagi—keluar 10 ribu. “Eh, jangan ambil semua. Tadi temannya sudah,” kataku. “Buat minum, bang.” “Iya, tapi jangan semuanya.” Karena setahuku duit di kantong sudah tidak ada lagi, dan di dompet tidak cukup buat pulang. Akhirnya dia kembalikan seribu rupiah saja. Ah konyol sekali, ada penodong sok jagoan tapi hampir tidak berhasil atau hampir ada korban penusukan (?) dan ada penodong satu lagi yang terlalu perlu dikasihani. Eh, siapa sih yang sebenarnya perlu kasihani ini? Hehehe
Sudah pasti bekal buat kembali ke Jogja, ke kampus tidak ada lagi. Akhirnya yang bisa saya lakukan hanya ke Terminal Kampung Rambutan, terus ke Matraman untuk mencari suaka dan agar diadvokasi senior-senior. Hehehe. Di Matraman bertemu Pak Malma (Agus Subhan Malma), dia nampaknya paham situasi di Pandeglang–Ujung Kulon, lalu memberi pesan yang kurang lebih yang kutangkap bahwa apa yang saya alami itu tak ubahnya paralelitas dunia yang terhubung. Saya tak paham.
Pendeknya, takdir buruk tak bisa ditolak—diminimalisir mungkin iya, tetapi dihindari tak bisa. Begitu. Saya luput dari uberan kejaran jawara Ujung Kulon, tapi tak bisa menghindar lagi dari kenahasan di Kalideres: dipalak ditodong 2 preman terminal. Setelah dirasa dapat bekal pulang, dari senior di Jakarta, saya memutuskan pulang ke Jogja tetapi perlu singgah dulu ke Garut, sembari mengajak bareng salah satu kru Arena angkatan 2000, nanti pulang sama-sama ke Jogja. Dengan asal berangkat, via Kampung Rambutan-Garut, ternyata sesampai terminal Garut sudah tidak ada angkutan sama sekali ke arah Cisurupan Cikajang karena terlalu malam. Terpaksalah menginap di terminal, dengan memesan kopi-susu segelas, dan membangun obrolan sana-sini dengan orang-orang “temporal” terminal yang tak perlu saya kenal, saya melewati malam-malam dingin itu lek-lekan hingga kendaraan pertama ke Pameungpeuk-Cisurupan-Cikajang tiba. Akhirnya kamipun kembali ke Jogja ke Arena, via Cibatu pakai kereta.
Begitulah kisah ‘nostalgila’ ARENA dalam diri saya.
SELAMAT HARLAH KE-50! DIRGAHAYU ARENA JAYA WIJAYANTI!
Jayapura, 22-26 Februari 2025
*Pemred Arena 2000-2002. Pernah gabung di Rakyat Merdeka (2006-2009), peneliti studi agraria dan pembangunan pedesaan (2015-2019) dan terakhir kerja sosial di beberapa NGO (2022-2025) | Foto Dokumentasi Pribadi