Lpmarena.com– Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan kampanye Surat Iklim, Asian Young People For Action Indonesia (AYA) menggelar audiensi bersama Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, pada Rabu (02/07) di Kantor Walikota Yogyakarta. Audiensi tersebut menjadi ruang bagi anak muda menyuarakan keresahan mereka terhadap krisis iklim yang kian mengancam Yogyakarta.
Rose Marry, perwakilan AYA, menyampaikan bahwa berbagai komunitas muda sebenarnya telah bergerak di isu lingkungan seperti persoalan sampah, sungai, dan kualitas udara. Namun, gerakan-gerakan tersebut masih berjalan sendiri-sendiri dan belum terhubung dalam kerja kolaboratif yang terfokus pada isu iklim.
“Kami juga punya kegelisahan, bagaimana kita sebagai anak muda itu bisa melakukan gerakan kolaboratif yang terfokus pada Iklim,” ungkap Marry.
Ia berharap gerakan-gerakan yang dibawa oleh anak muda terkait dengan kepedulian iklim dapat bersinergi dengan program pemerintah yang sudah dicanangkan. Pasalnya, persoalan iklim dan lingkungan terus menghantui anak muda saat ini.
Melansir dari suara.com, menyatakan bahwa anak muda, perempuan, dan individu dengan kepedulian tinggi terhadap lingkungan, lebih rentan mengalami kecemasan iklim. Kecemasan akibat krisis iklim kini diakui sebagai fenomena psikologis tersendiri.
“Kita tahu, bahwa persoalan iklim dan persoalan lingkungan itu enggak berhenti-berhenti,” ujarnya.
Wahyu Aji dari AYA juga menekankan pentingnya pelibatan aktif anak muda dalam perumusan kebijakan penyelesaian krisis iklim. Ia mencontohkan keterlibatan anak muda dapat diwujudkan dalam sektor transisi energi bersih, pembuatan ruang terbuka hijau yang inklusif, serta penyediaan fasilitas publik yang nyaman dan ramah lingkungan.
lebih jauh, Ia juga mengkritisi kebijakan pemerintah yang selama ini telah abai terhadap lingkungan dan tidak melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat. Maka, Ia menuntut pemerintah untuk melibatkan anak muda, perempuan, dan kelompok rentan dalam menyelesaikan krisis iklim.
“Kami berharap nantinya ada aksi nyata dari teman-teman muda,” tegasnya.
Namun, alih-alih membuka ruang dialog yang membangun, Walikota Hasto justru merespon dengan kritik terhadap gerakan anak muda, bahkan cenderung menyalahkan. Dalam tanggapannya, ia justru malah mengatakan anak muda sekarang hanya pandai membuat wacana dan diskusi, tanpa menunjukkan aksi nyata di lapangan.
“Saya juga tahu banyak organisasi langitan. Organisasi yang tidak menyentuh bumi. Hanya di langit-langit saja. Kritik saya begitu, kita terlalu banyak organisasi langitan, yang ke bumi gak ada. Ya sepi buminya,” terang Hasto.
Menurut Marry, pernyataan tersebut justru memperlihatkan suatu ironi. Di satu sisi pemerintah menginginkan aksi nyata dari komunitas dan organisasi. Namun, di sisi lain, hingga audiensi selesai, tidak ada pembahasan konkret dari pihak pemerintah terkait dukungan kebijakan, anggaran, maupun fasilitas pendampingan untuk gerakan iklim anak muda.
Lebih jauh, Marry menegaskan, AYA hadir sebagai representasi gerakan anak muda yang jengah, gerah, dan lelah menyaksikan bumi terus dilukai tapi pemerintah menutup mata dalam hal tersebut. Gerakan tersebut juga bagian dari rangkaian gerakan kolektif yang digelar di beberapa kota, seperti Aceh dan Kupang.
“Memang (kami) belum sampai ke kampung. Maksudnya, kami memang bergerak di komunitas, jadi lebih banyak ke kampus,” pungkas Marry.
Reporter Aqeela Jangkar, Bahtiyar Yusuf | Redaktur Ridwan Maulana