Home BERITA Jurnalisme di Era AI: Tantangan Sekaligus Peluang

Jurnalisme di Era AI: Tantangan Sekaligus Peluang

by lpm_arena

Lpmarena.com– Sebagai respon atas maraknya penggunaan Kecerdasan Buatan (AI), Tirto.id adakan media talks dengan tajuk “Masa Depan Jurnalisme di Era AI” di Hotel Harper Malioboro, Senin (06/07). Kegiatan ini menjadi ikhtiar dalam meningkatkan kemampuan dan pemahaman para jurnalis agar mampu beradaptasi di era AI.

Agung DH, Wakil Pemimpin Redaksi Tirto.id, menjelaskan bahwa AI bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan harus dipelajari dan dipahami. Menurutnya, pelibatan AI dalam ruang redaksi justru sangat membantu proses kerja-kerja jurnalis.

Ia juga menerangkan kalau AI masih tetap memerlukan data dari sumber-sumber yang kredibel, yaitu hasil dari kerja manusia. Karena itu, meski AI marak digunakan dan membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap media jurnalistik, tapi AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia.

“Jadi AI masih tetap butuh data-data yang terverifikasi, data-data yang aktual, yang valid segala macem. Dan itu memang hanya bisa dilakukan oleh para jurnalis,” terangnya.

Dengan adanya peluang tersebut, Agung meminta kepada para jurnalis untuk memberi asupan informasi akurat yang sesuai dengan etika jurnalistik. Menurutnya, dengan semakin banyak informasi kredibel yang diberikan, maka data yang dihasilkan AI pun akan dapat dipertanggungjawabkan.

Ia percaya, selain membawa tantangan yang signifikan, AI juga membawa peluang yang sama besarnya. Hal itu bergantung pada bagaimana manusia memposisikan diri terhadap teknologi tersebut. Pasalnya, AI hanyalah sebuah tools—sehingga tak berbeda dengan alat lainnya yang telah berkembang sejak lama.

“Saya waktu itu agak cemas sebenarnya. Mungkin kecemasan saya sama dengan teman-teman yang lain, yaitu kehilangan pekerjaan dan sebagainya. Tapi setelah saya dalami mereka (AI, Red.) sangat bergantung pada kita,” ujarnya.

Namun, Agung menilai, dengan masifnya penggunaan AI sangat berdampak kepada penurunan trafik pembaca secara siginifikan. Hal itu lantaran hadirnya AI telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam mencari informasi.

“Dulu mungkin di generasi saya itu langsung merujuk pada sebuah situs berita, misalnya Detik, Kompas, atau Tempo. Nah kemudian di era sekarang berbeda,” katanya.

Selain itu, Olivia Lewi Pramesti, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Atma Jaya, menilai fenomena penggunaan AI dalam jurnalistik sebagai AI hype. Menurutnya, seorang jurnalis atau media yang tidak melibatkan AI dalam kerja-kerjanya saat ini menjadi tertinggal. 

Di tengah AI hype tersebut, menurutnya, justru banyak masyarakat yang lebih tertarik pada media homeless atau media baru yang membahas topik-topik ringan. Sementara menurut Lewi, banyak dari media baru tersebut yang kerap menggunakan judul clickbait dan bombastis. Tidak hanya itu, berita yang disajikan pun belum terferivikasi kebenarannya.

“Saya sering tanya kepada teman-teman mahasiswa. Anda masih tahu Kompas? Tidak. Anda tahu Tirto? Tidak. Anda tahu apa? Mereka menjawab tahunya media-media baru yang ketika saya cek isinya cuma clickbait. Ini miris,” terangnya.

Lewi juga juga mengajak kepada para jurnalis untuk memanfaatkan teknologi AI dalam menunjang kerja-kerjanya. Hal tersebut diharapkan supaya media-media arus utama kembali dipercaya oleh masyarakat dengan menyajikan berita yang tidak hanya aktual tetapi juga mendalam.

Mengutip dari Kompas.com dalam penelitian berjudul “AI and Journalism in Southeast Asia: A survey of Opportunities dan Challenges,” jurnalis Indonesia termasuk yang memiliki tingkat keakraban tinggi dengan AI. Tetapi hanya 75 persen yang menjadikan AI sebagai alat bantu dalam pekerjaan mereka. 

“Jangan-jangan sebenarnya di Indonesia ini tak banyak orang yang tau AI. Masyarakat juga gak tahu soal AI. Kecuali mahasiswa yang tahu soal ChatGPT karena selalu dipakai,” katanya.

Di sisi lain, Lewi juga mengajak kepada masyarakat dan jurnalis untuk memperhatikan tahapan penggunaan AI yang dikeluarkan UNESCO, terlebih penggunaan AI di ruang redaksi. Ia menilai, banyak masyarakat atau jurnalis justru langsung melompat ke kompetensi tiga, yaitu penerapan tools ketimbang memperkuat human center mindset terlebih dahulu.

Menurutnya, dengan mempelajari cara penggunaan AI secara komprehensif, akan melahirkan pengguna AI yang bijak. Namun hal tersebut justru luput dari perhatian. Banyak orang yang merasa telah memahami AI hanya karena mampu mengoperasikan tools-nya.

“Sehingga jika ada problem etik dalam penggunaan AI, jangan-jangan karena kita belum mempelajari itu,” terang Lewi. 

Reporter Aqeela Jangkar Kemilauva | Redaktur Ridwan Maulana