Lpmarena.com—Laju erosi di Pantai Trisik, Kulon Progo semakin mengkhawatirkan. Dalam satu tahun terakhir, garis pantai di kawasan tersebut dilaporkan mundur hingga puluhan meter. Hal itu disampaikan Maqoli Nablatul Mujab dalam acara Jogja Njogo Jagat II yang digelar oleh Mahasiswa Pecinta Alam Sunan Kalijaga (Mapalaska) pada Minggu (26/05).
Erosi yang cepat merupakan salah satu bentuk nyata terjadinya krisis iklim. Menurutnya, krisis iklim atau kerusakan lingkungan tidak terjadi secara alami melainkan disebabkan oleh aktivitas manusia yang merusak alam.
“Sebenarnya keresahan utamanya ada pada isu perubahan iklim. Itu terjadi oleh aktivitas manusia yang merusak alam, seperti pembabatan hutan serta lemahnya perlindungan kawasan ekologis,” ujar ketua pelaksana tersebut.
Menurut Maqoli, hal itu disebabkan minimnya kesadaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan serta lemahnya sistem tata kelola lingkungan oleh pemerintah. Pasalnya, dalam menjaga lingkungan harus melibatkan semua elemen, bukan hanya masyarakat.
Ia menilai pemerintah sejauh ini belum mampu membuat regulasi yang berpihak pada keberlanjutan ekosistem lingkungan. Regulasi yang berpihak pada keberlanjutan ekosistem sangat dibutuhkan guna mengantisipasi krisis iklim.
“Masyarakat sadar mati-matian tapi pemerintah angkuh-angkuh, yaudah sama aja. Harusnya semua, pemerintahan dan segala jajarannya harus waras,” tegasnya.
Senada dengan itu, Riyan Wahyu Hidayat, salah satu peserta, menuturkan kerusakan ekosistem lingkungan dilakukan secara terstruktur dan sistematis. Selain itu, kurangnya kebijakan yang berpihak membuat upaya penyelesaian semakin sulit.
Ia mencontohkan praktik penebangan liar berdampak pada kerusakan lingkungan yang kerap kali diabaikan karena tidak dirasakan secara langsung. Padahal, hutan sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
“Illegal logging lah, parah lah intinya, kayak penebangan liar. Soalnya kayu yang sudah ditebang diambil langsung sama pemerintah,” ungkapnya kepada ARENA.

Riyan juga menilai selama ini masyarakat hanya menjadi objek pembangunan oleh pemerintah. Masyarakat tidak pernah dilibatkan secara optimal sehingga banyak kebijakan pembangunan cenderung mengedepankan sisi ekonomis semata tanpa memerhatikan lingkungan.
Dilansir dari Kompas.id, makin rendah angka deforestasi (penggundulan hutan) dan kerusakan lingkungan yang terjadi, maka pertumbuhan ekonomi makin berkualitas. Kualitas ekonomi sangat bergantung pada kualitas ekologi. Jika terjadi kerusakan pada ekosistem, dampaknya akan signifikan pada kehidupan yang akhirnya juga mengancam perekonomian.
“Harusnya melibatkan dan memberdayakan masyarakat sekitar. Tapi pemerintah kita ya isinya bingung, ‘sing penting berjalan sendiri dulu’ gitu lah,” imbuhnya
Maqoli juga menyayangkan sikap pemerintah yang dianggap lamban dalam menangani masalah lingkungan. Ia menganggap bahwa berbagai solusi teknis sudah tersedia tetapi tidak dilaksanakan secara serius.
“Sebenarnya solusi udah terlalu banyak. Udah banyak banget solusi, tinggal pilih,” tegasnya.
Sebagaimana diketahui, acara Jogja Njogo Jagat II diadakan dalam rangka milad ke-45 Mapalaska. Acara tersebut diisi dengan agenda diskusi, pemungutan sampah di sekitar pantai, penanaman pohon, dan syukuran.
Reporter Khirza Ashrof | Redaktur Ridwan Maulana