Lpmarena.com–Bertambahnya volume sampah kampus kembali menjadi masalah berulang di UIN Sunan Kalijaga. Berdasarkan pengamatan ARENA, ditemukan banyak sampah yang berserakan di sekitar Gedung Multipurpose (MP) pasca acara pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan 120 pada Selasa (28/4).
Hal tersebut diresahkan oleh Alffy Ni’matil Maula, mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) yang menjadi peserta kegiatan tersebut. Ia mengaku menemukan banyak sampah kemasan sekali pakai seperti kardus makanan dan kemasan plastik yang berceceran di halaman depan MP sesudah rangkaian kegiatan.
“Aku pun buang sampahnya di kresek sampah, sedangkan sampah wadah konsumsi kayak plastik sekali pakai penuh banget di sekitarnya,” ujarnya saat diwawancarai di salah satu kelas di FUPI, Rabu (29/4).
Alffy cukup menyayangkan kondisi tersebut lantaran dalam acara pembekalan, salah satu pemateri sempat menyinggung mengenai penerapan ekoteologi di kehidupan masyarakat. Hal ini membuatnya ragu mengenai komitmen UIN Suka dalam mewacanakan konsep ekoteologi ke depannya.
“Sebenarnya kebiasaan-kebiasaan kecil seperti membuang sampah pada tempatnya itu juga termasuk ekoteologi. Jadi menurutku, ekoteologi yang digunakan di KKN itu sebenarnya wacana besar yang tidak tahu arah secara implementasi,” jelasnya.
Senada dengan itu, Nurlaila, mahasiswa FUPI lainnya, menilai bahwa meningkatnya volume sampah kampus menunjukkan belum terserapnya nilai-nilai ekoteologi yang disampaikan dalam pembekalan.
Nurlaila juga menceritakan bahwa sebelumnya ia sempat mengunggah keresahannya di akun Instagram pribadinya. Pada unggahan tersebut, ia menuliskan kontradiksi antara materi ekoteologi dan keadaan mahasiswa yang seringkali membuang sampah sembarangan.
“Mahasiswa-mahasiswa yang katanya mau pengabdian kepada masyarakat kebanyakan program kerjanya tentang lingkungan. Tapi nyatanya, mereka belum bisa menjaga lingkungan kampus sendiri,” ujarnya di serambi FUPI, Kamis (30/4).
Nurlaila berpendapat seharusnya pihak kampus bisa menerapkan kebijakan yang lebih baik lagi sebagai upaya untuk mengurangi volume sampah. Hal ini dirasa perlu lantaran kampus juga sedang mengusung wacana ekoteologi.
“Harusnya bisa dengan mengganti sistem makannya. Misalnya bisa dengan sistem prasmanan,” usulnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Ketua LPPM, Abdul Qoyum, mengakui adanya lonjakan sampah pasca acara pembekalan KKN. Ia menjelaskan, meski pihaknya telah berkoordinasi dengan petugas kebersihan, tumpukan sampah tetap terjadi akibat rendahnya kesadaran mahasiswa.
Ia mengatakan, untuk meminimalisir volume sampah diperlukan rencana matang ketimbang usulan alternatif jangka pendek seperti sistem makan prasmanan. Pasalnya, kampus belum memiliki regulasi yang mengatur pengelolaan sampah.
“Kita kan juga belum punya sistem (pengelolaan sampah, Red.). Kita bisa dengan mewajibkan mahasiswa bawa wadahnya sendiri, terus kita menyediakan makanannya saja. Apakah antriannya tidak tambah panjang nantinya?” jelas Qoyum.
Perihal komitmen kampus pada ekoteologi, Qoyum mengatakan bahwa hal tersebut membutuhkan proses dan tahapan untuk diterapkan pada kebijakan. Sementara itu, ia lebih menekankan kepada mahasiswa agar menumbuhkan kesadaran ekoteologi dan mengembangkannya kepada masyarakat.
Di sisi lain, Alffy berpendapat bahwa kampus seharusnya memerhatikan permasalahan sampah dengan lebih serius. Hal itu diperlukan lantaran memengaruhi citra kampus dan kehidupan masyarakat kampus.
“Sampah itu meninggalkan dampak yang besar buat UIN. Pertama, citra UIN. Yang kedua, pola kehidupan masyarakat kampus akan terbiasa dengan hanya mengandalkan petugas kebersihan,” pungkas Alffy.
Reporter Ilham Khairun | Redaktur Ridwan Maulana