Lpmarena.com—Teater Eska menggelar Pentas Produksi ke XXXVII bertajuk Kincir Ria: Siklus Lupa & Gelak Tawa pada Sabtu (10/10) di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta. Dikemas dengan kerangka filosofis melalui serat Kalatidha pada kitab Cokro Manggilingan karya Rangga Warsita, pementasan ini berusaha mengekplorasi makna hak atas kebahagiaan.
Khuluqul Karim, selaku sutradara, menerangkan adegan tersebut sebagai representasi siklus kehidupan, dari lahir hingga kembali ke pusara. Gagasan itu mewujud sejak adegan pembuka, ketika seorang pangeran berjalan melintasi cakra manggilingan sambil merapalkan serat Kalatidha.
“Sepanjang dia berjalan di atas cakra Manggilingan itu serat kalatidha yang dibaca,” jelas Khuluqul saat diwawancarai ARENA pada Sabtu (10/10).
Dilansir dari P2K STEKOM, dalam filosofi Jawa, cakra manggilingan memiliki arti tentang roda kehidupan yang terus berputar, sekaligus gambaran tentang keadaan zaman yang penuh kekacauan, ketidakpastian, dan kemerosotan moral.
Sedangkan, istilah kalatidha bermakna masa penuh keraguan atau era kelam ketika nilai-nilai mulia tidak lagi dihormati. Dalam serat ini, Rangga Warsita menggambarkan kebingungan masyarakat saat menghadapi pergeseran sosial, politik, dan budaya yang berlangsung cepat.
Kerangka filosofis itulah yang dipakai Teater Eska untuk membedah persoalan kebahagiaan. Menurut Khuluqul pentas ini berupaya mengupas perihal kebahagiaan yang tampak hanya sebagai urusan personal, hingga ditarik ke tatanan komunal dan struktural.
“Kita ngomongin wolak-walik zaman yang paling terkenal di serat kalatidha. Nah itu kita mau membicarakan siklusnya, siklus dari kehidupan ini. Siklus dari kebahagiaan ini,” terang Khuluqul.
Dalam pentas, Khuluqul mengatakan representasi dari kebahagiaan dibawakan dalam fragmen merayakan 100 Tahun Kebahagiaan, yang di dalamnya terdapat adegan menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Kemudian dilanjut pembacaan manifesto kebahagiaan.
Representasi kebahagiaan, Khuluqul menegaskan, merupakan hak semua manusia. Hal ini Khuluqul tuangkan dalam adegan pementas perempuan tengah melakukan pekerjaan domestik, sementara pementas laki-laki memberi nafkah. Lalu, para perempuan memberikan mandat kepada perwakilannya untuk membacakan manifesto. Manifesto tersebut, lanjut Khuluqul, sebagai bentuk memperjuangkan kebahagiaan para perempuan.
Senada dengan hal tersebut, Rimbun Rahmadhani Emgie, selaku penulis naskah, mengatakan bahwa Teks Manifesto Kebahagiaan membahas tentang sebuah tuntutan bahwa kebahagiaan adalah hak segala bangsa.
“Mau itu yang hidup di istana, mau itu yang hidup di bawah jembatan, semua orang itu berhak bahagia,” ucap Rimbun saat diwawancarai ARENA pada Sabtu (10/10) selepas pentas.
Lebih lanjut, Rimbun menerangkan manifesto tersebut juga secara tegas menolak kebahagiaan yang dibangun di atas penderitaan orang lain. Penulisannya menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari perampasan tanah, kelaparan di tengah kelimpahan, pendidikan yang hanya terbuka bagi yang mampu membayar, hingga pembangunan yang memperlakukan manusia sebagai angka yang boleh dikorbankan.
Rimbun menjelaskan keadaan yang tertuang dalam manifesto berkaitan dengan kondisi zaman sekarang. Masyarakat sekarang dipaksa mencari kebahagiaan melalui aspek sosial, kebudayaan, ekonomi, pendidikan, namun kurangnya dukungan dari aspek struktur pemerintahan.
“Bagaimana kita meraih kebahagiaan, karena hal-hal paling fundamentalnya itu tidak terpenuhi,” ujarnya.

Pesan tentang kebahagiaan bersama itu sampai kepada penonton. Rara Lestari, salah satu penonton Teater Eska, menilai Kincir Ria sebagai suara anak muda yang merespons situasi serba tidak pasti.
“Banyak keresahan yang dimunculkan. Soal usia muda, soal usia yang panjang,” ujarnya.
Bagi Rara, manifesto kebahagiaan di bagian akhir sekaligus menjadi kritik atas makna bahagia hari ini. Menurutnya kebahagian saat ini berstandar pada sosial media, dan kekayaan dengan nominal tertentu.
“Mungkin kebahagiaan bisa didefinisikan sederhana saat kita punya orang-orang di sekeliling kita yang selalu ada,” pungkas Rara.
Reporter Juni Triyani | Fotografer Juni Triyani | Redaktur Rizqina Aida