163 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com, Lahir di Yogyakarta pada 10 Januari 1975 silam, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arena kemudian melintas ruang dan waktu hingga sekarang masuk di tepat usianya ke-41. Usai guyuran hujan pada Minggu (10/1), tasyukuran pemotongan tumpeng malam itu pukul 21.44 WIB oleh Pemimpin Umum LPM Arena, Sabiq Ghidafian Hafidz menjadi simbol perayaan ultah Arena.

“Yang paling dekat sama ultah adalah rutinitas, pengulangan-pengulangan kayak macam itu,” kata Sabiq dalam sambutannya di ultah Arena ke-41 yang bertempat di Parkiran Terpadu Tarbiyah UIN Suka.

Sabiq mengatakan agar ultah tidak sekedar menjadi pengulangan abadi maka Arena harus mampu lepas dari sistem rutinitas itu sendiri. Selama anak pers masih mengikuti rutinitas, akan terjadi kematian dan kemandegan dinamika.

“Agar pengulangan abadi ini lepas, mungkin dengan adanya kematian akan sirna. Kematian di sini artinya lain, kalau sekedar ngikuti rutinitas regulasi persma, ke SC nulis, ya kayak gitu aja,” kritik Sabiq.

Untuk itu Sabiq mengharapkan agar anak persma khususnya anggota Arena, mampu memunculkan anomali atau keanehan baru. “Anomali dari perubahan akan munculin gairah sendiri. Amor Fati aja dalam mengarungi ini semua,” tutur mahasiswa filsafat ini filosofis.

Amor Fati merujuk pada ucapan filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche yang berarti cinta pada takdir. Menerima takdir bukan sebagai kepasrahan, tapi sebagai gairah tak terbatas menjalani hidup. Pendeknya hidupkan hidup!

Reporter dan Redaktur: Isma Swastiningrum