526 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Nur Umar (Ahonk Bae)*

Tentunya kita tidak asing lagi dengan yang namanya film. Film yang secara harfiah berarti sebuah lakon (cerita) gambaran hidup, baik dengan kemasan genre-nya yang kian hari kian menohok para penikmatnya, sehinggga lama-kelamaan terakumulasi menjadi sebuah candu tersendiri di kalangan masyarakat, remaja khususnya. Sebab belakangan bioskop-bioskop yang tersedia di dapertent store selalu ramai dipadati oleh remaja Indonesia, baik yang awal ataupun akhir. Demi melihat adegan-adegan ‘begitu-begitu saja’ yang diperankan oleh aktor lokal serta perusahaan yang membiayai film tersebut, hingga eksisnya di tempat sekelas bioskop tadi.

Bukan saja film yang bercorak romantis, melainkan film yang bercorak horor pun tak luput dari ‘serangan’ remaja kita yang sedang menapaki masa transisi tersebut. Sebagai pencarian jati diri, dan menemukan siapa dirinya, tentunya dengan referensi film yang disaksikannya, serta dengan daya imajinatif seolah ‘ia bermain di situ’. Atau bahkan ‘ia menjadi aktor tersebut’, yang kemudian ia persepsikan dalam relitas nyata bahwa hidup ini seperti film tersebut, absurd menang. Akan tetapi, dalam derasnya industri perfilman nasional maupun internasional yang dengan cerdik memasang erogenous pada generasi kita, dan bila dicermati kesemuanya tidak lebih hanyalah sebuah kancah perhelatan ekonomi, atau hegemoni dalam skala globalnya. Yang dalam dekade terahir ini telah memunculkan degradasi-degradasi baru, seperti kearifan lokal (local wisdom), kesenjangan sosial, dan egoisme kelas. Sudah barang tentu hal ini akan berdampak pada masa depan bangsa ini yang terkadang (jika tidak sering) hidup dengan pola film, serta euforia dalam menapaki kehidupan ini. Sehingga tulis Nietzsche, “setiap kekeliruan, apa pun saja, adalah konsekuensi dari degenarasi insting, kehancuran kemauan; dengan demikian kita telah mengetahui mengenai hal yang buruk itu”.

Seni pada awalnya, seperti apa pun eksistensinya, merupakan sebuah media yang di dalamnya berisikan pesan serta rintihan dari masyarakat secara keumuman. Namun dalam era-kekinian perlombaan industri telah menjangkit para pelaku bisnis perfilman tersebut sehingga esensi-esensi dalam dalam lakon-lakon tersebut begitu saja terabaikan, dan diganti dengan properti-properti mewah, serta life style glamor yang diperankan oleh para aktonya, dan inilah yang sampai pada penonton secara universal. Kemudian film yang bercorak heroik misalnya, pun belum memberikan signifikansi apa-apa pada penontonnya, dan pemandangan kontras justru ditemukan pada pelosok daerah yang masih ‘steril’ dari jamahan bioskop tersebut, banyak yang kemajuan serta dedikasi yang tinggi terhadap kemajuan bangsa ini, yang bukan karena jargon “tontonan menjadi tuntunan dan tuntunan menjadi tontonan”, yang seperti saat ini menyeruak ke permukaan realitas kita.

Lalu apa signifikansi film pada hari ini dalam dunia pendidikan? Sehingga memberikan out put positif dan memunculkan kader-kader baru dalam mengharumkan nama Indonesia yang telah lama dilanda kesakitan yang sangat? Dan jika dunia film terus berada dalam posisi statis seperti, lalu apa bedanya industri film dengan perang, yang menurut Clausewitz “merupakan sebuah konflik abadi dengan hal-hal yang tak diharapkan”, yang hanya mengeruk laba dari konsumennya, serta tidak memberikan implikasi apa-apa selain menumbuhkan remaja yang hedon.

Sejarah perfilman Indonesia dimulai pada 5 Desember 1900 yang menceritakan perjalanan ratu Belanda, dan dideklarasikan pada 30 Maret 1962. Namun sebenarnya pada tahun 1926 industri film nasional telah eksis, seperti film “Loetong Kasaroeng” hadir pada tahun 1986, dibuat di Bandung dan disutradarai oleh dua orang berkebangsaan Belanda bernama G. Krugers dan L. Heuveldorf. Namun kemudian pada era 80-an munculnya film “Catatan Si Boy” mulai menggeser posisi film sejarah menjadi film bercorak romantis. Sejarah film tersebut memberikan sebuah elaborasi baru bagi dunia industri film Indonesia yang kini mulai dilirik oleh banyak pelaku bisnis lokal, belum lagi ketika berbicara ‘serangan’ industri kelas Asia misalnya. Masuknya film-film luar negeri ke dalam kancah perfilman Indonesia yang ‘diamini’ oleh industri pertelevisian kita, menambah coretan hitam dalam daftar panjang fenomena kenakalan remaja yang diawali oleh motif life style tersebut.

Film pergerakan misalnya, yang kemarin muncul di permukaan bioskop kita hanya manampilkan sisi romansanya semata, bukan esensinya yang di kedepankan oleh produsernya yang alam pikiranya hanya mengikuti ‘selera pasar’, dan lagi-lagi tanpa out put yang sifatnya urgen bagi bangsa ini. Hari ini pasar dihinggapi ‘demam’ Drama Korea atau biasa di lafalkan Drakor yang begitu berbinar-binar dalam pikiran remaja kita. Tanpa terasa hanya menghabiskan waktunya hanya karena hal ‘tanpa guna’ tersebut, yang sebelumnya disesaki oleh drama India dan Turki.

Menilik pertelevisisan kita yang bukan tanpa pertimbangan, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) kadang memberikan sensor yang kurang tepat, dan hanya terhadap pakaian, serta adegan yang sekiranya berbenturan dengan SARA. Namun yang paling penting ialah KPI masih lupa dengan adegan yang bersifat kekerasan yang masih eksis dari drama komersil kita pada saat, dan karena televisi kini telah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat Indonesia, maka seleksi yang dilakukan oleh KPI tersebut sudah barang tentu harus berlaku selektif tanpa iming-iming kepentingan, dan karena menyangkut common sense masyarakat luas, maka memang begitu urgensinya seleksi tersebut.

Siapa yang diuntungkan atas suksesi perfilman tersebut? Konsumen ataukah produsen? Sudah pasti pembaca bisa menebaknya, dan itulah mengapa generasi bangsa ini terus mengalami degradasi hingga saat ini, seperti kenakalan remaja yang tak terhitung dengan ragam variatifnya. Sepengetahuan kacamata awam pun mengetahui, apabila pesan moral harus disisipkan pada setiap karya seni, dan itu memang peran seni. Bukan malah sebaliknya, yang hanya menampilkan hal-hal yang kontra-kultura dengan bangsa ini, secara perlahan menggeser apa-apa yang telah terawat dan terjaga oleh pendahulu kita.

Lebih krusial apabila konsumen tersebut dari kalangan mahasiswa yang dalam dekade ini telah disibukkan dengan pola hidup ‘kekinian’ yang secara primordial menafikan pokok-pokok dari fungsi mahasiswa tersebut. Film bagi mahasiswa seolah menjadi semacam konsumsi wajib, menggeser tugas pokoknya sebagai seorang mahasiswa. Kemudian pola nalar rendah, serta lekatnya budaya oral daripada memca menjadi masalah yang begitu penting yang memang harus segera dipangkas oleh mahasiswa itu sendiri. Sebab bukan apa-apa, selain mereka akan menghadapi dunia nyata yang 180 derajat berbeda dengan dunia drama yang mereka tonton, mereka juga setidaknya akan menjadi seorang agent of change yang kini menjadi mitologi tersendiri dalam dunia akademisi saat ini.

Jika film tersebut menjadi inspirasi dan memberikan banyak manfaat atau menimbulkan reaksi positif, mungkin film tersebut bisa ditularkan kepada koleganya untuk bersama-sama membalut ‘luka Indonesia’ seperti pada saat ini. Namun apabila sebaliknya, film tersebut hanya memunculkan kelas-kelas baru, baik dalam realitas atau dalam entitas paling kecil (baca: perasaan) konsumennya, maka sebisa mungkin filterisasi dimunculkan sebagai reaksi kritis seorang mahasiswa tersebut. Begitu sekiranya mahasiswa sekarang asing bahkan jarang sekali mengenal film dokumenter seumpama Jagal dan Senyap atau film dokumenter lainnya yang sekiranya memiliki nilai plus dalam akal sehat mahasiswa. Bukan malah sebaliknya yang kini menjadi melankolis dan letoy dalam pikiran serta perbuatannya, karena menurut Michael Rabiger, “film bersifat menarik dan menghibur, serta membuat para audiens berpikir, sehingga banyak cara yang dapat digunakan dalam suatu film dokumenter untuk menyampaikan ide-ide tentang dunia nyata”. Begitulah sekiranya film seharusnya disampaikan pada para penontonnya, yang memberikan dampak positif bagi individu serta berdampak baik bagi sekitarnya.[]

*Penulis adalah alumnnus Insitut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Ilustrasi: www.hollywoodreporter.com