156 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com- Sabtu (28/10), Lembaga Kajian Filsafat Sosial (LeKFis), Ditolak Redaktur, Komunitas Mahasiswa Pecinta Demokrasi (KeMPeD), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), Serikat News, dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) ARENA menyelenggarakan bedah film Modern Times. Bedah film dimoderatori oleh Rifa’i Asyari dengan pemantik M. Haidar dan Minrahadi Lubis.

Film Modern Times yang di bedah di Pendopo LkiS, Jalan Pura No: 203 Banguntapan, Bantul tersebut, dikatakan oleh panitia sebagai salah satu film paling otoritatif untuk mendalami filsafat marxisme.

Film ini muncul di era situasi politik dan ekonomi dunia sedang tidak stabil; imbas dari revolusi industri yang juga mempengaruhi situasi politik dimana pertentangan antara kaum liberal dan komunis mulai memanas. Diiringi oleh tumbuh berkembangannya faham komunis pasca revolusi Bolshevik di Russia dan menjelang menguatnya kubu-kubu imperialis fasis seperti Nazi, Jepang, fasis Italia dan fasis Inggris.

Film yang merupakan kritik keras Charlie Chaplin tersebut mengisahkan akibat dari revolusi industri. Modern Times menggambarkan situasi Amerika Serikat dimana pada kurun waktu 1930-an masih terkena imbas dari Revolusi Industri, pada saat itu di mana banyak kepala keluarga yang kehilangan pekerjaan, rela mengantri demi mendapatkan pekerjaan, rela mencuri, demo besar-besaran dari kalangan buruh, dan betapa kacau balaunya suatu sistem mesin apabila mengalami sedikit gangguan saja.

“Bedah film kali ini mempunyai beberapa tujuan yang diantaranya untuk menjaring teman-teman pergerakan mahasiswa yaang mulai lepas dari visi dan misinya. Memberikan pemantik terkait  wacana bagaimana memahami modernisasi,” ungkap Faksi Fahlevi sebagai salah satu panitia penyelanggara.

Menurut Faksi, interaksi, cara pandang mahasiswa mulai rapuh dan tidak solid. Mayoritas yang dibangun oleh pergerakan mahasiswa adalah kebencian terhadap organisasi lain. Dan pihaknya mencoba merespon akan problematika tersebut.

Menanggapi film yang dibintangi oleh Charly Caplin tersebut,  Rifa’i aktivis GMNI  mengungkapkan bahwa film tersebut bagus, sangat asyik ditonton. “Konsepnya juga bagus, banyak komunitas-komunitas yang hadir,” ungkapnya. Hanya saja menurutnya,  tidak efektif. Karena tidak adanya respon dari berbagai pertanyaan yang semakin menumpuk.” Ia berharap tidak hanya film-film seperti itu yang dibedah. Tapi, juga film kontroversial dengan konsep yang lebih rapi.

Magang: Roziqien

Redaktur: Wulan