Menelisik Gerhana Bulan

Guru Besar Tafsir Hadis, Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Drs. H. Saad Abdul Wahid, M.A mengatakan, maraknya anggapan masyarakat terhadap suatu fenomena kejadian alam seperti gerhana bulan atau matahari telah menghasilkan penafsiran yang keliru dikalangan masyarakat karena menganggap kejadian tersebut merupakan tanda akan adanya sebuah bencana. Apalagi, perilaku kekeliruan menyimpang ini dipercaya oleh masyarakat sudah lama.

Saad menyampaikan pandangannya itu dalam ceramah  selesai Shalat Gerhana Bulan bersama masyarakat di Masjid Nurussyams Gendeng Baciro Yogyakarta, Sabtu (10/12). Ceramah digelar Takmir Masjid Nurussyams Gendeng Baciro Yogyakarta. Ceramah ini dibuka oleh anggota DPRD dari Fraksi PKS yaitu, Bambang Anjar J, S.PI. Diskusi ini di hadiri oleh kalangan masyarakat di Gendeng Baciro Yogyakarta.

Menurut H. Saad Abdul Wahid, gerhana bulan total merupakan fenomena alam yang langka dan kejadiannya 33 tahun sekali maka perlu di sikapi dan di syukuri secara benar yaitu sikap normatif  dan modern. Karena gerhana bulan terjadi apabila posisi Matahari, Bumi dan Bulan dalam keadaan posisi garis yang lurus, sehingga sinar matahari terhalang oleh bumi maka terjadilah gerhana bulan maka di sinilah wujud kuasa Allah yang mengatur alam, terutama bulan, bumi dan matahari agar tidak bertabrakan. [Abdul Qadir Jailani].

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of