Indonesia Rindu Kejujuran

Teater;

Hanyalah salah satu dari sekian ribu cara

untuk mengungkap ketidakadilan.

Sebagai kritik sosial atas kondisi masyarakat

yang semakin tak beraturan.

 

17 Februari 2012 malam di lapangan parkir terpadu UIN Sunan Kalijaga menjadi saksi  pementasan teater realis mengangkat tema sosial sebagai follow up workshop ke-IX Sanggar Nuun Yogyakarta. Acara ini sebagai bentuk refleksi ulang tahun Sanggar Nuun ke-19 pada Oktober 2011 lalu.

Malam semakin larut ketika kita melakukan wawancara singkat dengan M. Badrul Munif yang masih terasa auranya sebagai sutradara. Wawancara masih terus berlanjut meski yang lain sibuk berfoto ria atau sibuk ngobrol santai dengan para penonton yang masih tersisa setelah evaluasi pementasan usai.

Proses kreatif ini di garap selama dua bulan, mulai dari Desember yang awalnya di lakukan latihan hanya 3 hari sekali hingga latihan tiap hari ketika memasuki  januari. Sebuah proses yang membutuhkan totalitas, sehingga wajar jika terjadi seleksi alam bagi mereka yang berproses setengah-setengah. Terbukti dari 55 anggota yang mengikuti workshop, hanya 19 anggota yang bertahan dan mengikuti study pentas. Yah inilah yang di sebut totalitas, menguras banyak waktu, tenaga dan fikiran. Tapi toh semua itu telah terbayarkan dengan terselenggarakannya study pentas dengan sukses.

Kita sempat mengikuti evaluasi setelah pmentasan, dan hasilnya? Wauw, apresiasi dari para penonton sungguh mengejutkan, ternyata penonton tidak hanya dari kalangan UIN Sunan kalijaga tetapi di hadiri juga oleh komunitas-komunitas dan teater dalam ataupun luar daerah seperti dari komunitas wayang anu, komunitas strobery, teater Tessa dari Universitas Negeri Solo (UNS), teater Asa dari IAIN Walisongo Semarang, teater kampus (Terkam 28) dari IST AKPRIND Yogyakarta, teater Gajah Mada, teater Gerak STAINU Kebumen dsb.

Diakui atau tidak eksistensi dari sanggar Nuun sendiri memang layak di apresiasi, ini terbukti dari banyaknya penonton yang membludak melebihi kapasitas. Setidaknya ini hanyalah bukti kecil dari nama Nuun yang telah menggema.

“Matahari di sebuah Jalan kecil” ialah judul yang di ambil dari naskah Arifin C. Noor. Menceritakan sebuah kondisi masyarakat dimana terjadi sebuah ketimpangan sosial. Dalam hal ini di buktikan adanya pedagang pecel yang mencerminkan masyarakat tradisional dengan penjual roti sebagai lambang kehidupan modern. Disitu bisa kita fahami betapa kontradiksi perekonomian masyarakat kita saat ini. Selain itu di pementasan ini  juga menampilkan sosok pemuda yang menipu simbok si penjual pecel dengan dalih dompetnya yang ketinggalan padahal sebenarnya karena ia tak memiliki uang. Meski simbok hanya di rugikan lima ribu lima ratus rupiah pemuda ini sempat menjadi bulan-bulanan warga. Bukan nominal yang di permasalahkan, tetapi kondisi sosial yang bagaimana yang menjadi persoalan. Dan lihatlah keadaan masyarakat kita kali ini? Pembaca tentunya sangat mengerti dan memahami kemana arah tulisan saya kali ini.

“Indonesia hanya membutuhkan kejujuran” itulah kata yang terlontar dari sang sutradara dengan penuh semangat ketika kami menanyakan nilai apa yang bisa kita ambil dari pementasan kali ini. Sebuah pengekangan yang menunjukan mahasiswa seolah-olah terpenjara sistem adalah latar belakang dari tema yang di ambil dari pementasan kali ni. Sungguh sebuah kepedulian sosial yang memang layak untuk di apresiasi dan perlu di budayakan.[Dhedhe Lotus]

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of