Antara Cinta dan Kapitalisme

Kata dan tindakan belum cukup untuk mengungkapkan cinta. Tapi cinta sekarang telah bermutasi, cinta menjadi semacam simbol. Kenapa cinta harus disimbolisasi dengan bunga, coklat bahkan ciuman?. Inilah yang disebut dengan konstruksi kapital.

Hal ini diungkapkan oleh Eko Prayitno peneliti pada Pusham UII Yogyakarta dalam acara seminar “Konsumen Cinta” di Student Center Universita Negeri Yogyakarta pada selasa (28/2), malam. Acara yang diadakan oleh LPM EKSPRESI UNY yang bekerja sama dengan TEMPO ini menghadirkan Antariksa, Peneliti pada KUNCI, Culture Studies Center Yogyakarta, Irsanul Ibad, Analis Media dan Dr. Purwadi M. Hum, Budayawan Yogyakarta.

Menurut Antariksa kapitalisme dewasa ini telah menelusup sampai ke nilai-nilai kemanusiaan yang sifatnya cair. “Nilai-nilai itu kadang kita anggap sangat hebat, padahal sebenaranya tidak lepas dari jaring kapitalisme. Kita membeli suatu produk bukan lagi karena kebutuhan, tapi sebenarnya kita membeli ‘gagasan yang ada dalam produk tersebut’,” ungkapnya.

Ia mencontohkan bahwa kita membeli beras organik bukan karena kebutuhan, tapi atas nama  cinta organic atau “back to natural.” Begitu pula dalam beragama, kalau anda ingin menjadi ‘lebih beragama’ maka belilah busana muslim di toko “x”.

Bahkan gagasan-gagasan itu juga dilekatkan pada sesuatu yang kalau dipikir-pikir tidak rasional. Berbagai macam strategi dilakukan oleh pemodal untuk mendorong seseorang melakukan konsumsi. “Kalau anda meminum kopi di Starbucks Coffe, Maka anda telah melakukan perdagangan yang fair terhadap para petani kopi. Karena harga secangkir kopi di warung biasa sekitar Rp. 3.000 – Rp. 5.000, tapi di Starbucks secangkir kopi dipatok Rp. 25.000 – Rp 40.000”. tambah Antariksa.

Gagasan juga dijual dengan balutan nilai-nilai sosial. Antarisksa mencontohkan saat terjadi bencana erupsi merapi di Yogyakarta 2010 silam. Ada gagasan “jika anda membeli pruduk “x” maka anda telah membatu korban merapi sebesar sepuluh  persen.” Jadi untuk  membantu korban merapi kita tidak perlu lagi pergi ke lokasi tetapi cukup dengan membeli produk tersebut.

Oleh karena itu, perlu pendidikan melek media dikalangan masyarakat. “hal ini penting agar masyarakat tidak selalu dijadikan korban kapitalisme. Jadi perlu pendidikan konsumen” ungkap  Irsanul Ibad. Konsumsi sekarang tidak selalu berkaitan dengan Mol, Swalayan dan lain-lain, bahkan hal-hal yang sederhana, semisal rokok. Jika kita mengkonsumsi rokok  “x”  maka kita merasa “inilah lelaki jantan.” Tambahnya.

Begitu pula dengan perayaan hari valentaine, kita sering terjebak pada tanda atau simbol sehingga kita dikalahkan dengan tanda itu sendiri. Hal ini dikarenakan kita tidak memiliki referensi dan refleksi, apakah barang atau acara semisal valentine ini tepat atau tidak untuk digunakan di lingkungan kita, pungkas Iqbal pada sambutannya.[Taufiq]

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of