Home - Perempuan yang Terasing

Perempuan yang Terasing

by lpm_arena
Print Friendly, PDF & Email

Tidak sedikit orang yang berkeinginan mengadu nasib dikota. Suatu tempat yang mereka yakini mampu merubah nasib secara praktis. Kota menjadi simbol kesuksesan seseorang. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kota adalah tempat orang berpengalaman, modern dan sukses.

Namun tidak selalu hidup bergelimang harta akan membawa seseorang pada kebahagiaan, demikian juga dengan hidup di kota. Meski segala macam kebutuhan jasmani manusia dapat terpenehuni, tapi ada semacam energi psikologis maupun spiritual yang tidak dimiliki oleh kota.  Panas dan kerasnya kota kadang justru mendorong seseorang untuk keluar dari denyut nadi jantung kota.  Mereka ingin menemukan suasana baru, suasa alami, yang jauh dari keriuhan kota.

Kegelisahan seperti itu juga dirasakan oleh Jumana, gadis cantik berkulit cerah dan enerjik ini. Dalam suasana hening yang menyelinap ditengah gemerlap kota, ia mulai menceritakan kepada teman-temannya bahwa ia mempunyai rencana hidup di desa. Tiada alasan yang jelas, bagi gadis yang cocoknya berjalan diatas catwalk berwana merah dari pada berjalan dipematangan sawah yang becek, kotor dan menjijikkan. Hidup di desa merupakan pilihan aneh bagi orang yang telah terbiasa hidup ditengah ramai dan gemerlapnya kehidupan kota.

Ia tidak betah tinggal dijantung kota, baginya kota metropolitan hanya dipenuhi manusia-manusia pengejar materi, ketenaran, dan kepalsuan. Ia tidak lagi menemukan kejujuran, kebenaran dan keaslian. Semua telah dipoles demi sebuah kepentingan, yang kadang bertentangan dengan nilai, etika dan agama. Akhirnya, gadis yang baru lulus dari SMA ini memutuskan pergi kedesa untuk mencari dunia lain. Dunia yang berbeda dengan dunia yang ia jalani sebelumnya. Dunia yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota. Dunia yang mulai dipandang sebelah mata dan mulai ditinggalkan oleh penghuniya.

Keputusan Jumana ini tergolong berani. Disaat manusia berlomba dan berjejal mencari keuntungan kota. Ia malah menjauh dan menenggelamkan diri di desa. Padahal kesempatan menjadi bagian dari keriuhan kota sudah ditangan. Hampir yang dibutuhkan untuk hidup sebagai manusia urban, sudah dimiliki Jumana. Seperti. kecantikan, kemewahan, kepandaian dan keluwesan. Tetapi benar bahwa kenikmatan dan kebahagiaan tidak ditentukan dengan semua itu. Ia berada di hati yang cenderung natural.

Sejak awal, gadis yatim piatu ini, teringat kenangan indah beberapa tahun silam, saat bertemu dengan seorang pemuda desa yang menawan hatinya. Kenangan itu mengelebat dibenaknya, mengusik hati dan jiwanya. Didesa ia kenal dan akrab dengan nyonya Nawwal, yang dulu pernah mengajarinya menggarap dan mengelola sawah, bahkan suaminya juga mengajari mengemudikan traktor saat penyakit cacar air mengganas didesa itu. (Hal. 7).

Desa itu bernama Simpang Empat, kanan kiri jalan terhampar sawah dan ladang yang luas. anging datang semilir. pohon gandung yang tumbuh diladang menggigil ditiup angin. sapi-sapi terlihat sedang menikmati rerumputan yang segar. Suara-suara burung menukik disana-sini. “Sungguh suatu kenikmatan yang tidak aku dapatkan dikota,” kata Jumana.

Di tempat inilah Jumana mulai menyusun kotak pandora kehidupannya. Banyak hal baru dan kisah-kisah yang tidak ia rencanakan sebelumnya. Ia dipertemukan, Robben, orang yang pernah membayangi ingatannya. Maryam, Camelia, Ja’far dan Murad, seorang seniman yang melukis serta mencintainya. Tapi siapa yang mampu melawan takdir, akhirnya Jumana mengakhiri usia layangnya denga Robben, pria tampan nan perkasa itu, yang sejak dulu memang merasakan energi cinta diantanya.

Novel ini merupakan cerita yang mengisahkan perlawan seorang manusia terhadap kekejaman kapitalisme dan globalisasi, yang telah mengubah cara pandang seseorang. Mengubah manusia yang produktif menjadi konsumtif. Novel ini juga mengisahkan tentang kehidupan orang-orang kota yang terasing ditengah kehidupan kota yang artifisial, tentang orang-orang yang ingin kembali kealam yang alami, berbaur dengan udara yang segar, makanan yang bebas bahan kimia dan suasana tenang jauh dari hiruk pikuk kota.
Dengan tokoh Jumana, seorang perempuan yang gigih berdiri tegak diatas impiannya. Yang dibumbuhi dengan kisah percintaan sang tokoh, membuat novel ini tidak kering, memberikan emosi dan penyegaran pada jiwa yang layu akibat terpaan hidup yang keras. Tak ayal, jika novel ini sangat menarik dibaca sebagai inspirasi untuk bersikap ditengah perkembangan kota yang semakin hari jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

 

Judul Buku : Ujung Persimpangan

Editor : Endhiq Anang Pamungkas

Penerbit : Navila, Yogyakarta

Cetakan : 1, 2011

Tebal : viii+200 halaman

 

Peresensi : Taufiqurrahman, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta