Kampus Apakah UIN?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Menarik sekali di awal tahun ini kampus mulai disiapkan untuk menjadi kampus  digital. Upaya digitalisasi kampus benar benar digarap oleh rektorat dengan mengalokasikan anggaran 30M untuk penyediaan infrastruktur pendukung. Tapi selain perangkat  pendukung kiranya perlu dipertimbangkan keadaakan psikis dan fisik mahasiswa, dosen, pegawai serta birokrat. Yang terpenting adalah bagaimana melakukan literasi teknologi agar tidak gagap dalam pelaksanaanya.

Layaknya fasisme, pendidikan kita dikomando dari atas. Jadilah kampus cyber ! maka langsung segala hal yang berbau perangkat pendukung itu dipasang. Orientasi memang pasar. Pasar seolah olah selalu dikaitkan dengan daya beli. Seperti  dispensasi membayar SPP yang dihapus. Tidak punya uang , jangan kuliah. Dalam kasus ini-dispensai SPP-mahasiswapun sangat disayangkan jika mengunakan kebijakan ini sewenang wenang. Hal itu hanya akan menjadi  masalah bagi kawan kawan mahasiswa yang lain yang benar benar membutuhkan.

Jika tujuan utama dicanangkanya kampus digital karena gensi, birokrasi kita terdera penyakit kelas menengah baru yang akut.  Suka dengan barang barang baru dan dianggap mewah. Apakah maju selalu dikaitkan dengan canggih dan teknologi informasi? Teknologi  memang dapat meningkatkan efektifitas, tapi ketika teknologi justru membuat kacau, itu yang tidak diharapkan. Seperti di Fakultas Dakwah, jadwal kuliah kacau hanya karena pegawai baru dan belum bisa input Godam. Fenomena ini memperlihatkan aras bawah kampus ini belum siap dengan teknologi.

Sebelum  ini pernah didengungkan bahwa UIN menuju kampus berbasis riset. Tapi sepertinya hal ini  sulit terwujud. Iklim penelitian masih sangat asing ditengah – tengah mahasiswa. Kalau ada mahasiswa melakukan riset itu juga membantu dosen. Masih untung membantu dosen, informasi tentang penelitian minim sampai ke khalayak mahasiswa. Daripada memberi dosen sabak digital yang hanya digunakan untuk browsing lebih baik  alokasikan dana untuk  kompetisi penelitian yang bisa di akses semua khalayak mahasiswa dan dosen. Dan jangan sampai informasi tertahan disatu tempat.

Baca juga  Pemilwa Sudah, Lalu Apa?

Universitas idealnya mampu menjadi problem solver masyarakat. Kreativitas dalam bidang apapun kiranya mampu membangun solusi. Daya kritis merupakan pendorong daya kreativitas-termasuk dalam berbagai bidang keilmuan- .Tapi jika daya  kritis itu dibatasi dengan segala komando dan peraturan , padahal kreativitas muncul  pada orang orang yang berfikiran kritis. Kiranya tak akan terwujud solusi.

Akan lebih baik jika kampus menggunakan teknologi sepagai pendukung untuk mewujudkan efektifitas dan efisiensi untuk mengembangkan kampus berbasis riset. Riset mahasiswa dan dosen di genjot sebagai upaya menjadi problem solver atas realitas masyarakat. Dan yang terpenting kampus ini pro dengan kepentingan masyarakat bawah, serta kaum kecil. Penelitian yang dilakukanpun  tidak dilihat sebagai sumber finansial. Niscaya Universitas ini benar – benar mewujudkan Tri dharma perguruan tinggi dengan sejatinya.

Redaksi

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of