Peringatan 1000 Hari Wafatnya Gus Dur

Forum Jurnalis Nadhatul Ulama (NU) bekerja sama dengan Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) menggelar acara Tahlil dan Refleksi dalam memperingati 1000 hari wafatnya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di depan Gedung DPRD DIY, Kamis (27/09).

Peringatan ini menghadirkan tokoh-tokoh lintas agama seperti KH. Abdul Muhaimin, Koh Hwat,  Pendeta Paulus Lie, dan Hafids Asram (DPD RI).

Sebelum refleksi dimulai, para peserta menyayikan lagu Indonesia Raya dan dilanjut Tahlil. Baru setelah itu, refleksi dimulai. Abdul Muhaimin dalam sambutannya menilai Gus Dur sebagai tokoh multidimensional. Artinya, memiliki berbagai perspektif dalam menyingkapi setiap persoalan. “Dalam setiap perspektif, Gus Dur mampu mengembangkannya sampai pada titik maksimal kemanusiaanya” kata ketua FPUB DIY.

“Yang saya kagumi dari Gus Dur adalah jiwa nasionalismenya. Ia mampu mengangkat posisi sosial masyarakat minoritas” Tambahnya.

Testimoni ini di akui secara langsung oleh Pendeta Paulus Lie. Ia dan umat kristen merasa berhutang budi kepada Gus Dur, sebagai sosok yang terus-menerus memperjuangkan hak-haknya. “Gus Dur lah yang mengajak kami untuk keluar dari kotak minoritas sindrom. Karena itu, saya tidak mau menikmati kebebasan beragama ini, tanpa bisa berbuat sesuatu yang lebih baik, semisal meretas kemiskinan” Paparnya.

Bahkan sebagai rasa terimakasih terhadap Gus Dur, Koh Hwat sampai membuat geguritan Gus Dur. Dalam geguritan berbahasa jawa itu, berisi tentang bagaimana rasa hutang budinya orang Tionghoa kepada Gus Dur.

Baginya Gus Dur adalah sosok yang mampu menembus batas-batas pergaulan untuk mengatasi permasalahan regional, lokal, maupun nasional. “Betapa nelangsanya bila negeri ini tidak ada sosok seperti Gus Dur. Siapa lagi orang yang akan menjadi Gus Dur-Gus Dur berikutnya. Sehingga kita harus mencari negarawan yang seperti Gus Dur” Ungkapnya.

Sementara Hafid Asram, melihat sosok guru bangsa ini sebagai orang yang mengispirasi undang-undang keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. “Keisitimewaan Jogja tidak bisa dipisahkan dengan Gus Dur. Contohnya adalah keistimewaan di bidang kebudayaan dan pluralisme” ungkap anggota DPD RI ini.

Acara yang ditutup dengan prosesi tabur bunga secara simbolik ini berlangsung lancar dan kidmad. Para pesertapun diharapkan mampu mengambil manfaat dari refleksi 1000 tahun wafatnya Gus Dur ini dalam kehidupan sehari-hari. “Karena Gus Dur adalah cermin karakteristik bangsa Indonesia yang sebenarnya” pungkas, Suraji, selaku moderator dalam acara dialog ini.[Taufiq]

Beri Komentar

Send this to a friend