Ribuan Orang Mengikuti Ritual Malam Satu Syuro

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sunyi mulai menggema ketika pembukaan upacara adat di gelar di depan gerbang Keraton Yogyakarta, Rabu (14/11). Tepat pukul 00.00 WIB ritual penyambutan satu syuro tengah berlangsung, yang diwakilkan kepada Romo Ibnu sepupu dari Hamengku Buwono X dan di pandu oleh utusan dari keraton Yogyakarta mbah H. Muhaimin. Harum asap dupa dan kemenyan menyeruak di sepanjang jalan, mengiringi arak-arakan gunungan dari Tugu sampai Keraton Yogyakarta. Juga ribuan orang berduyun-duyun menyaksikan acara penyambutan pergantian tahun baru Hijriah tersebut.
Sekitar pukul 20.00 WIB, berangkat dari Tugu menuju Keraton Yogyakarta, arak-arakan gunungan yang di kepalai oleh rombongan dari keraton beserta rombongan paguyuban-paguyuban yang ada di Yogyakarta, dan juga dari berbagai adat budaya di Indonesia yang ikut berpastisipasi dalam acara penyambutan tahun baru Hijriah 1946, membuat Jalan penuh sesak oleh kerumunan orang-orang yang hendak menyaksikan parade penyambutan tahun baru Hijriyah di malam satu syuro.
Dari berbagai adat budaya yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut, salah satunya adalah adat budaya dari Keraton Cirebon yang di pimpin oleh Mang Demang selaku Budayawan dari Cirebon, “kami perwakilan dari Cirebon ikut berpartisipasi dalam acara penyambutan tahun baru hijriah tentunya, sekaligus kami ingin memperkenalkan adat budaya dari keraton Cirebon di kota Yogyakarta ini” tuturnya saat diwawancara. “Tidak hanya Cirebon, Ciamis, Cianjur, Subang juga turut ikut dalam memeriahkan acara sakral ini, dan banyak yang lainnya lah” tambah mang Demang.
Perwakilan dari paguyuban Srikandi Mataram, ibu Yuli juga antusias sekali mengikuti acara tersebut yang menurutnya sesuatu yang berbuah pahala ini “ saya tinggalkan sejenak pekerjaan sebagai seorang istri di rumah kalau ada acara seperti ini mas, karena hanya di rayakan setahun sekali, dan juga ini adalah pergantian tahun umat islam. kita selaku orang muslim ya harus merayakannya dan semoga mendapat barokah dari gusti Allah” ucap ibu yang memakai sanggul dan berpakaian kebaya itu.
Acara di lanjutkan dengan Ngubeng Benteng atau mengelilingi benteng, dan sekitar pukul 02.00 WIB acara di lanjutkan dengan doa sekaligus mengakhiri rangkaian acara penyambutan tahun baru hijriah dan di tutup dengan rebutan gunungan yang di lakukan oleh masyarakat sekitar yang berkerumun menonton acara tersebut.

Baca juga  Imajinasi Ruang Kuliah

[Robandi]

Komentar

komentar

Share:

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of