Munculnya Kantin Dadakan di Musholla FTK

Munculnya Kantin Dadakan di Musholla FTK

LPMARENA.com Yogyakarta, 27 November 2012. Munculnya kantin dadakan di mushola Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi tempat alternatif untuk jajan oleh sebagian mahasiswa. Banyaknya jajanan mampu menyaingi kantin yang sudah ada sebelumnya.

Sejak awal s

 

emester ganjil (2012/2013) musholla FTK UIN Sunan Kalijaga dijadikan kantin oleh sebagian mahasiswa. Sehingga para mahasiswa yang ingin jajan sekarang tidak perlu terpusat di kantin lantai 1 dan 3.  Sebab, setiap mushola yang terdapat di lantai 2, 3 dan 4 FTK tersedian kantin dadakan.

Adanya kantin dadakan di mushola ini menguntungkan para mahasiswa karena sekarang mereka bisa jajan di lantai manapun. Seperti

yang diungkapkan oleh Istiningsih, mahasiswi jurusan Pendudidikan Bahasa Arab FTY. “Sekarang kalau saya sedang kuliah di lantai 4 sudah tidak perlu turun ke bawah untuk jajan, tapi hanya berjalan sebentar ke mushola sudah bisa jajan.” Ujarnya.

Selain menguntungkan para pembeli, penjual juga tentunya memperoleh keuntungan. Seperti yang dirasakan oleh Deni Artanti, mahasiswi yang berjualan susu sapi di mushola. Dia mengatakan kalau uang hasil penjualan susu sapi itu bisa mencukupi uang sakunya, sedangkan uang kirirman dari orang tua bisa ditabung. “Saya juga ingin belajar hidup mandiri dan tidak selalu merepotkan orang tua” jelasnya.

Realita saat ini, mu
shola tidak hanya berfungsi sebagai tempat sholat melainkan juga untuk jual beli. Tapi apakah pantas pemandangan seperti ini kita lihat di mushola, yang notabenenya sebagai tempat beribadah?, Anggityas Sekarinasih Mahasiswi semester 3 jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), FTK mengatakan ketidaksepakatannya tentang fenomena tersebut. “Saya kurang setuju dengan adanya makanan yan

g dijual di mushola-mushola tersebut, khususnya di lantai 3. Karena mereka meletakkan jajanan mereka di depan tempat sholat.” Ungkap Anggi. (23/11). “Masa orang sholat ngadep  makanan”. Tambahnya.

Baca juga  Konsolidasi Mengkritik Pendidikan yang Eksklusif

Selain dari pihak mahasiswa, beberapa dosen pun kurang setuju dengan adanya kantin dadakan di mushola FTK tersebut. Eva Latipah, M.Si selaku kajur PGMI malah mempertanyakan tentang ijin para mahasiswa yang berjualan di sana. “Mahasiswa yang jualan disana sebenarnya ada ijinnya apa tidak mbak? Harusnya kan ijin dulu ke pihak fakultas, kalau kejadiannya seperti ini sama saja menggunakan fasilitas tanpa ijin.” Ungkapnya.(27/11)

“Menurut saya mushola jadi kotor dan terkesan kumuh jadinya, meskipun saya tahu tujuan mereka baik berjualan disitu”. Ungkap Eva kemudian.

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of