Komunitas Kecil Berbekal Jiwa Besar

Komunitas Kecil Berbekal Jiwa Besar

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bergegas rombongan sepeda motor yang terdiri dari 35 orang itu menurunkan kardus-kardus yang berisi Sembako. Inilah agenda sosial pertama mereka setelah tergabung dalam sebuah komunitas yang mereka beri nama Comed (Comunity of Management Dakwah) tiga bulan yang lalu.

Mahasiswa dari jurusan Manajemen Dakwah (MD) UIN Sunan Kalijaga itu disambut delapan orang di ruang berukuran 5×8 meter yang setiap harinya difungsikan sebagai Mushola, tempat beribadah dan belajar bagi 20 anak yatim-piatu yang diasuh. Bertempat di Dukuh Klepu, Sumberarum, Moyudan, Sleman, berdiri sebuah Lembaga Penyantunan Anak Asuh Badan Amal Anak Sholeh Amanah (LPA BASA). Tempat itulah yang dipilih Comed untuk menyerahkan bantuan yang mereka galang dari anggota dan ditambah hasil berkeliling ke setiap fakultas di kampus mereka (Sabtu, 8/12).

LPA BASA khusus menampung anak laki-laki usia SMP dan SMA, berkat donasi dari sejumlah masyarakat, mereka dapat terus melanjutkan jenjang pendidikan yang didambakan. Didampingi beberapa pengurus dan sekarelawan mereka belajar dan melatih ketrampilan hidup. Perjalanan hidup akan mereka tentukan sendiri dengan semangat kemandirian, tak jarang dari mereka berusaha sendiri untuk dapat melanjutkan pendidikan hinggan perguruan tinggi. “Ada dari mereka masuk kuliah dengan mengajukan sejumlah beasiswa dan bekerja. Sebenarnya jika setelah lulus SMA mereka tetap ingin tinggal di sini ya itu terserah mereka, semua diberi kebebasan,” tutur Adam Mustaqim, anggota Comed yang sudah cukup lama menjadi sukarelawan di LPA BASA.

Anggota Comed terkumpul dengan semangat kekeluargaan yang menginginkan terciptanya ruang dialegtika dan ruang sosialisasi antara mahasiswa MD angkatan 2011. Menyatukan orang-orang dari empat kelas yang masing-masing dari mereka memiliki kecenderungan minat yang pasti beragam memanglah bukan pekerjaan mudah. Di tahun kedua perkliahan mereka, Faruq Asror yang kemudian diberi kepercayaan mengketuai komunitas ini berusaha menjalin ikatan kekeluargaan dengan mengadakan sejumlah kegiatan. Menciptakan forum diskusi hingga sekedar nongkrong dan jalan-jalan bareng. “Dengan saling mengenal seperti ini kita sendiri akan merasakan banyak keuntungan. Saya yang sangat menyukai touring ini misalnya, suatu saat tinggal menghubungi teman-teman yang menyebar dari beberapa daerah ini,” ujarnya dengan tawa renyah.

Baca juga  Corong Bernyanyi Gramophone

Berbekal keberanian untuk meminta sumbangan dari mahasiswa dan dosen di setiap fakultas itu akhirnya mereka dapat merasakan puasnya berbagi. Komunitas yang lahir tanpa embel-embel organisasi struktural ini ternyata terbukti lebih dinamis dalam bergerak, tanpa kucuran dana kampus, tanpa surat resmi. Hanya dengan tekad untuk saling berbagi[]. Munfaati

 

Komentar

komentar

Share:

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of