Memaknai Kebesaran Nabi Muhammad

Selama ini sosok Nabi Muhammad SAW telah tertutupi oleh kepentingan manusia itu sendiri. Manusia lebih menonjolkan dirinya dibanding menonjolkan Nabi Muhammad. Terutama saat mereka memberikan ceramah-ceramah.

Peryataan ini disampailam oleh Emha Ainun Najib saat membedah buku “Cahaya abadi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam” karya Muhammad Fethullah Gulen di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Rabu (13/03), kemarin.

Emha menjelaskan dua hal yang menjadi tujuan Nabi Muhammad sebagai Nabi. Pertama, sebagai Muhammad bin Abdullah. Kedua, sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi). Kedua, sebagai Rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) yang berarti tidak hanya di bumi melainkan juga bagi semua makhluk (alam semesta seisinya).

Dalam kritiknya, Emha meminta agar suatu saat Fethullah Gulen dapat melengkapi buku tersebut dengan menulis kelanjutan buku tentang Nur Muhammad. “Karena kalau tak ada Nur Muhammad tak akan ada apa-apa di muka bumi,” ungkapnya.

Tak hanya Emha, Ustadi Hamzah, dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, narasumber ketiga menambahkan ada dua prespektis dalam penulisan buku tersebut. Pertama, sosok Nabi Muhammad ditampilkan sebagai Ubermans. Artinya, Nabi tak sekadar dikenal dari sosok personalnya tapi sebagai Nur Muhammad.

Kedua, Fethullah Gulen dalam buku itu menggabarkan Sosok Muhammad sebagai insan kamil (manusia sempurna). “Muhammad bukan Tuhan dan bukan manusia, dia adalah  an-Nurul Khalid,“ Ucap Ustadi.

Sementara Ali Unsal, pembicara pertama dari Fetullah Gulen Chair mengatakan latarbelakang penulisan buku Cahaya Abadi Muhammad itu berawal dari faktor sosiologis seorang Fethullah Gulen di Turki. Saat itu adzan diwajibkan memakai bahasa Turki dan dilarang membaca al-Qur’an. Sehingga hal ini memantik Gulen untuk menghadirkan sosok Muhammad dalam setiap ceramahnya.

Baca juga  Telusuri Hukum Pembuktian dalam Islam

Dalam Acara yang diselenggarakan oleh Labortorium Religi dan Budaya Lokal Fakultas Ushuluddin Studi agama dan Pemikiran Islam UIN Suka, bekerjasama dengan Fetullah Gullen Chair dan Kesatuan Bangsa School Yogyakarta ini mendapat antusias begitu besar oleh para peserta, bahkan banyak peserta yang duduk lesehan.

Saat ini buku Cahaya Abadi Muhammad sudah diterjemahkan kedalam 40 bahasa, termasuk bahasa indonesia. Bahkan buku tersebut menjadi mata pelajaran di Universitas Al-Azhar, Mesir. [Nurul Hilmi].

Editor: Taufiqurrahman

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of