Aku, Kau, dan Kelam Itu

Kelam

Aku merenungi apa yang kau bicarakan tadi. Tentang dosa kita, tentang ujung dari hubungan kita. Dan aku belum menemukan titik terang. Segalanya seolah gelap, berkabut. Aku tak mengerti kenapa hubungan kita sampai sekelam ini.

Suamimu barangkali bakal menceraimu dan membunuhku ketika dia tahu. Atau dia sendiri sudah tahu tapi memaklumi sebab merasa dirinya lebih parah darimu dalam hubungan percintaan? Entahlah. Yang jelas hubungan kita yang ganjil, yang terlarang ini masih berlanjut meski sudah berkali-kali kita coba mengakhiri. Kita sering terlena dalam mengendalikan nafsu. Dan, apa yang kita fikirkan saat ini tentang upaya mengakhiri hubungan ini kandas di tengah jalan. Sebab, aku sendiri tak tahu, entah ada kekuatan apa yang tanpa sadar di tengah jalan bisa menyeret kita untuk jalan berdua dan memadu kasih yang terlarang ini.

Kau sudah melahirkan dua anak. Sementara aku belum juga menikah. Sebab aku khawatir jika menikah, aku bakal masih tetap berhubungan denganmu dan itu berarti melukai perasaan istriku. Aku tak mau itu. Selingkuh nurani adalah pengkhianatan terbesar dalam cinta, dalam berpasangan. Dan apa yang kau pikirkan sampai detik ini hingga kau sendiri seolah enggan untuk melepaskan hubungan denganku? Bukankah kau sudah bahagia hidup dengan suami dan anak-anakmu?

Kita memang pernah mengukir kisah berdua dalam percintaan sebelum kau menikah. Sebab entah karena apa saat itu kau mau menerima lelaki yang tak kau kenal sebagai suamimu sebab kau dijodohkan dengan orang tuamu dan kau tidak mau menolak. Padahal orang tuamu juga tidak memaksamu, mereka hanya menawarkan, dan kau memang mengiyakan. Apa yang ada dalam batok kepalamu aku sungguh tak tahu.

Saat kau menikah, tentu aku sakit hati. Aku merasa kau telah mengkhianatiku. Tapi aku terkadang berpikir juga: apa yang sesungguhnya menyebabkan dirimu mau menerima lelaki itu dan rela memunggungi cinta kita? Ketika aku tanyakan itu padamu kau hanya diam, menunduk, dan menitikkan air mata. Air matamu memang dengan mudah bisa menakhlukkanku. Kau memang teramat tahu kelemahanku, bahwa aku tak akan kuat melihat perempuan menangis. Apalagi perempuan itu adalah orang yang aku sayangi meski aku sedang sakit hati.

Terus terang, aku punya dendam denganmu. Hingga suatu hari, saat suamimu pergi bekerja di luar pulau, aku berniat mendatangimu untuk memperkosamu sebagai balasan atas sakit hati yang kau goreskan padaku. Dan di suatu malam, pikiran itu benar-benar mendorongku untuk mendatangi rumahmu, tempat tinggal barumu bersama suamimu. Ya, malam hari aku mengetuk rumahmu. Kulihat kau menyambutku dengan senyum yang teramat manis. Padahal aku hanya ingin meluapkan nafsuku. Ah, kau tidak tahu isi kepalaku yang sudah sedemikian jahat ini.

Seperti dulu, saat kita masih pacaran sebelum kau dipersunting suamimu, tiap kali kita ketemu aku langsung mengecup dahimu. Suatu hal yang saat itu pun kulakukan padamu. Dan kau menerima saja. Kecupan itu kemudian berlanjut pada hubungan yang lebih dalam. Di malam yang menggigilkan itu, aku kembali menikmati tubuhmu. Kau tidak terlalu berbeda seperti dulu. Kau masih melakukan hal-hal yang sama ketika dulu kita berhubungan yang demikian. Dan detik itu aku tak tahu maksudmu. Kukira kau akan menolak ketika aku melakukan hal ini padamu, tapi kau seolah pasrah. Apa yang ada dalam pikiranmu? Tidak tahukah kau bahwa aku hanya ingin melampiaskan sakit hatiku?

**

Suamimu belum jua pulang setelah dua bulan di luar pulau. Dan selama itu hampir tiap minggu kita bertemu dan memadu kasih. Anak-anakmu yang masih kecil-kecil itu melihat, tapi pasti tidak tahu apa yang kita lakukan. Kadang aku merasa kasihan dengan mereka. Tapi hubunganku denganmu yang berawal dari sekedar pelampiasan rasa sakit hati itu berlanjut. Aku merasakan bahwa aku sangat tidak rela jika meninggalkanmu. Aku juga merasakan bahwa apa yang kau lakukan padaku itu atas dasar cinta. Entahlah, cintaku padamu seolah membuatku untuk merelakan diri menjadi lelaki simpanan. Suatu label yang sangat menjijikkan bagi dunia lelaki. Tapi hal itu kuterima.

Hubungan ini sesungguhnya terlarang. Aku tahu apa yang aku lakukan ini merusak rumah tangga orang. Aku sadar bahwa hal ini tak bisa kulanjutkan. Aku sadar juga bahwa aku sedang terperangkap dalam sebuah masalah yang sangat susah untuk kuselesaikan. Aku juga tahu betul bahwa hubungan ini pasti bakal tercium juga oleh suamimu dan apa yang kita sembunyikan bakal meledak. Aku tak ingin namaku tercemar. Maka, aku pun merancang sesuatu agar aku bisa mengakhiri hubungan ini.

Sudah seminggu lebih aku tak ke rumahmu, tak membalas SMS-mu, tak mengangkat telfonmu. Aku tak mau komunikasi denganmu. Sebab, dengan komunikasi bakal menyeretku kembali ke pelukanmu. Dan aku sudah beriktikad mengakhiri hubungan kelam ini.

Hingga suatu hari kau bilang bahwa kau tak bisa hidup tanpa aku. Kau akan menceraikan suamimu sebab aku. Dan jika aku tidak mau, kau berniat bunuh diri. Apa yang harus aku lakukan? Mengapa kejadiannya sepelik ini?.

Di kamar mandi, dengan guyuran air, aku merenungi nasib, dan meratap pada Tuhan. Tentang duka, tentang luka, tentang dosa. Hingga bayanganku menjadi kabur. Dan tak sadar aku terjatuh dalam gigil. Gelap itu benar-benar kurasa tanpa tepi. (04/08/12). [Ahmad Taufiq]

*Penulisa adalah Peminat di bidang pendidikan, sejarah, ekonomi politik, sastra dan revolusi. Frustasi jadi mahasiswa. Belajar jadi manusia biasa. Mahasiswa Perbandingan Agama 2010 FUSAP UIN Sunan Kalijaga

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of