Terlalu luas Menghubungkan Pancasila dengan Entrepreneurship

Terlalu luas Menghubungkan Pancasila dengan Entrepreneurship

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Hashim Djojohadkusumo sumber: http://www.uin-suka.ac.id/

Menghubungkan Pancasila dengan jiwa entrepreneurship (kewirausahaan) adalah sebuah topik yang begitu luas, perlu beberapa hari untuk mendiskusikan, tapi akan lebih menarik jika memaknai pancasila sebagai kemajuan bangsa dalam menghadapi tantangan global.

Hal ini disampaikan oleh Hashim S. Djojohadikusumo, pengusaha minyak internasional, saat memberikan kuliah umum Progam Studi Ilmu komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniroa (Fishum) UIN Suka dengan tema Pancasila sebagai Dasar Membangun Jiwa Entrepeneurship di Kalangan Mahasiswa, Dalam Rangka Memperkuat Daya Saing Bangsa di Era Pasar Global di Convention Hall UIN Suka, Kamis (11/4), kemarin.

Ia memulai ceramah dari pengalaman-pengalamannya bertemu dengan berbagai bangsa di dunia. “Yang menjadi pesan dari bangsa luar negeri terhadap kita adalah dasar negara kita yang inklusif dan manejemuk,” uangkapnya.

Pengusaha Minyak tersebut pernah bertemu dengan Duta Besar dari Irak. Saat itu, ia termasuk 22 Duta Besar negara Arab yang tergabung dalam Liga Bangsa Arab di Jakarkta. Mereka mengatakan Indonesia merupakan negara yang luar biasa. Kami bangsa Arab berjumlah 345 juta jiwa, terdiri dari dua agama besar, 90 persen mayoritas islam dan 10 persen kristiani. Berbahasa satu bahasa arab dan dengan budaya satu yang hampir sama.

“Mereka kagum dengan Indonesia, karena Indonesia terdiri dari  ratusan ras, ratusan bahasa, ribuan pulau dan terbelah oleh lautan, dapat bersatu dalam satu konstitusi, satu nasionalisme.Para Duta Besar Arab ini berkesimpulan yang membedakan kami dengan anda adalah pancasila,” kata Hashim menceritakan.

Ia juga menambahkan negara ini tanpa ada pancasila tidak akan ada Indonesia. Percuma berbicara nasionalisme Indonesia tanpa mengacu pancasila. Tesis Hashim mengatakan tanpa pancasila, Indonesia tidak akan utuh bahkan tidak ada.  Pada hakekatnya pancasila tidak membedakan mayoritas dan minoritas.

Baca juga  Waryono: Makrab Bukan Bagian dari PBAK

Sementara Bono Setyo, ketua Jurusan Prodi Ilmu Komunikasi mengajak kepada mahasiswa untuk selalu tampil keratif dan profesonal dalam menghadapi persaingan global.

Salah satu bukti realistiknya adalah sumbangan pemikiran dalam bentuk buku ataupun prestasi. “Prodi Ilmu Komunikasi  banyak memproduksi buku-buku akademik, seperti karya buku yang berjudul Komunikasi Islam, Filsafat Komunikasi, Konstruksi  Partai dalam Iklan, Komunikasi Visual dalam  Peirklanan, Copy Writer dan Mahasiswa Bicara. Buku-buku ini adalah beberapa karya prodi yang akan di sumbangkan Prodi Ilmu Komunikasi ke UIN Suka,” ungkap Bono.

Hadir sebagai wakil Rektor UIN Suka, Siswanto Masruri,  menyambut baik pemberian buku dari Prodi Ilmu Komunikasi tersebut dan kedatangan Hashim.

Dalam sambutannya ia menilai Indonesia saat ini mengalami keterpurukan politik, pendidikan dan ekonomi. Keterpurukan ekonomi inilah yang paling penting untuk di diskusikan. “Agar beban negara berkurang, jangan berharap menjadi pegawai negeri, maka jadilah wirausahawan. Jangan menjadi buruh. Jadilah orang yang memiliki buruh banyak, dan jangan mau diatur tapi mengatur,” pesannya.

Namun, kuliah umum yang diharapkan memberikan pengetahuan baru tentang dunia enterpreneurship, ternyata sedikit mengecewakan. Pasalnya, Hashim tidak terlalu banyak mengungkapkan pengalamannya di bidang enterpreneurship, justru ia terjebak pada masalah masalah kenegaraan. Ia lebih banyak mengulas pengalamannya yang berkaitan dengan urgensi pancasila dalam pembangunan bangsa.

Sebagaimana di ungkapkan oleh Nur Hasnah Afdilla, ia merasa kecewa karena kuliah umum ini tidak seperti yang diharapkan. “Pematerinya kok lebih banyak mengulas pancasila dari pada enterpreneurnya,” tutur mahasiswa Ilmu Komunikasi 2010.

Hal senada di dirasakan oleh Nur handayani, mahasiswa Ilmu komunikasi 2010, “Kalau saya ikut sampai sesi tanya jawab, aku akan mempertanyakan relevansi tema kuliah umum dengan apa yang diungkapkan oleh pak Hashim,” ungkapnya terburu-buru sebelum acara selesai.

Baca juga  Belajar Itu Berjuang; Perguruan Tinggi, Mahasiswa, dan Sisi Progresif Pengetahuan[1]

Tolak Kedatangan Hashim

Aksi HMU Menolak Kedatangan Hashim Djojohadikusumo

Sementara diluar gedung terjadi aksi penolakan terhadap kedatangan Hashim di UIN Suka. Masa aksi yang mengatasnamakan diri Himpunan Mahasiswa UIN (HMU) menilai kedadatangan Hashim menimbulkan sebuah tanda tanya besar. “Kuliah umum ini tidak murni kepentingan akademik yang mencerdaskan mahasiswa tapi kepentingan elit politik Prabowo,” ungkap salah satu masa aksi didepan pintu masuk Convention Hall.

Masa aksi dalam selebarannya menganggap acara tersebut memiliki maksud tersebunyi terkait dengan momentum pemilihan umum 2014. Hashim sebagai adik kandung Prabowo Subianto, salah satu Calon Legeslatif dari partai Gerinda memanfaatkan kuliah umum sebagai usaha mencari suara, dan pencitraan Prabowo. “Tolak politisasi kampus, wujudkan kampus UIN sebagai Kampus Moral,”.

Menanggapi adanya aksi ini, Anddy Dermawan, Pembantu Dekan Bagian Kemahasiswaan Fishum tidak terlalu banyak berkomentar, tapi ia lebih mengomentari dari prespektif filosofisnya. “Pak Hashim datang ke UIN sebagai apa?, kalau ia sebagai akademisi, menurut saya sah-sah saja, tapi akan berbeda kalau ia datang sebagai politikus,” katanya.[Taufiq]

Editor : Taufiqurrahman

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of