Khalid dan Tanggung Jawab

Tiga kali surat dilayangkan Rektorat untuk Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) 2011/2012. Namun sepertinya Khalid tidak mengubris surat itu. Dia kebingungan. Rektorat seolah tidak mau satu rasa lagi dengannya. Surat baru dilayangkan untuk sekian kalinya, dan kali ini dengan pemanggilan. Seolah ingin menyadakan, memintanya untuk membuka lagi kalender 2013 ini.

“Saudara Khalid, kayaknya Saudara harus ingat, jabatan saudara sudah berakhir. Tolong siapkan pemilwa!” Tanpa perasaan, tanpa kompromi, karena begitulah birokrasi.

Khalid kalah dengan sistem. Belum lagi ia harus menerima sesuatu yang lumrah diakhir setiap kepemimpinan: kesalahan memang tampak lebih besar dan lebih pekat. Sebuah bentuk akumulasi dua tahun belakangan ini. Ditambah pula euforia orang-orang dalam menari calon baru untuk menggantikannya.

Kawan-kawan seperjuangan juga telah mencari kesana-kemari. Ada yang lulus dan wisuda.  Kawan yang belum lulus– dan yang masih punya pengaruh sibuk mencari siapa yang akan mengisi posisi pemerintahan Dema selanjutnya. Ini begilir sedemikian rupa.

Sedangkan Khalid dimintai penanggung-jawaban kerjanya. Bagi pihak rektorat sepertinya tidak  akan terlalu mengevaluasi kinerja-kinerjanya. Bagi mereka seorang Khalid bagaimanapun  caranya harus membuat semacam Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) atas dana yang telah dia ambil selama ini. Hanya sebagai syarat jika kunjungan Badan Pemeriksa Keuangan nanti. UIN Suka tidak diciduk karena melanggar.

Memang begitulah birokrasi. Yang dibutuhkan orang-orang saat ini dari seorang pemimpin diakhir jabatan adalah tanggungjawab. Dan itu sayangnya lebih sering dalam bentuk formalitas. Memang jarang orang-orang mempertanyakan “Bagaimana cita-cita mu saat ini Khalid? Apa yang harus kita kerjakan lagi untuk memantapkan cita-cita itu? Memang jarang. Sayang sekali.

Kemunculan Khalid-pun diruang publik tidak lagi nyaman seperti biasanya. Ia seringkali susah ditemui. Mungkin juga ia sedang sibuk mematut-matut diri. Terakhir dalam audiensi dengan rektorat perihal pembentukan Komisi Perempuan Umum Mahasiswa (KPUM), ia lebih banyak berkelah. Khalid banyak tertawa, menganggap lucu gugatan lawan-lawan politiknya.

Baca juga  Eko Triono, Sang Maha Kuasa dalam Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini

“Rapat kok jadi lucu begini ya,”  ujarnya tertawa. Menjawab tudingan peserta rapat yang mempertanyakan sikapnya dalam mempublikasikan KPUM.

Namun orang yang pernah dipercayai sebagai Ketua Dema UIN Suka, Khalid tentu tidak mau disepelekan dalam bentuk apapun. Ia masih butuh kekuatan. Sebuah pengakuan eksistensinya. Paling tidak utuk menguat-nguatkan kepercayaan dirinya.

“Saya dipilih mahasiswa dan untuk kepentingan seluruh mahasiswa. Kalau untuk partai mahasiswa, NO!” lantang Khalid berujar.

Namun semua orang yang mengamatinya paham: Khalid tidak benar-benar mengerti dengan kalimat yang ia ucapkan itu. Ia bisa naik karena salah satu partai mahasiswa. Setelah pertarungan yang sengit pula. Dalam perjalanan pemerintahannya pun ia sering melindungi orang-orang dekat partainya. Bagaimana ia bisa  menyampingkan partai mahasiswa? Kecuali maksudnya adalah partai selain partai yang mengusungnya.

Dimasa-masa transisi kepemimpinan seperti ini, memang masa ambivalen bagi pemimpin sepertinya. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya menjadi dalil kalau ia sebenarnya sangat mendambakan pengakuan –Suatu yang sangat minim ia dapatkan dari orang diluar partainya. Ini sudah cukup menggolongkan bahwa sesungguhnya Khalid- pun termasuk ketua yang kesepian.

Orangpun pada akhirnya hanya dapat menggolongkan. Karena Khalid-pun bagian dari pemerintahan konservatif. Satu hal yang terang dimata orang-orang tentang kata konservatif adalah siapa-pun yang mengisi kursi jabatan, sebenarnya tidak ada/tidak akan jauh berbeda dengan pejabat sebelumnya. Khalid-pun hanyalah pengulangan. Khalid hanyalah satu topeng dari topeng-topeng yang dipasang sebelumnya.

Orang-orang diluar dirinya bahkan tidak selalu peduli dengan wajah dibalik topeng itu. Kini orang sekonyong-konyong mengepungnya. Tanggung jawab, mereka menuntut itu dari Khalid yang kesepian. Organisasi sekarang sedang sibuk menyiapkan topeng baru, karena yang lama sudah tak dapat digunakan lagi.

Baca juga  Mughits: Percepat UAS Sebatas Saran, Bukan Instruksi

Memang menjadi nasib bagi seorang pemimpin konservatif. Ada saatnya bisa dipakai karena berguna. Ada saatnya disimpan saja sebagai yang usang. Namun bukan berarti Khalid pemimpin yang tidak berguna. Khalid adalah pemimpin yang baik sebagai konservatif, karena tugas pemimpin konservatif memang mempertahankan kondisi agar tidak ada perubahan yang menjungkirbalikkan keber-ada-an yang lama. Apalagi Khalid dapat pula menyambungkan estapet Dema ini kepada calon selanjutnya-yang juga dari partainya. Sungguh pemimpin yang sadar akan dirinya.

Dan kini, kepada siapakah Khalid akan mempertanggung-jawabkan kepemimpinan nya satu setengah tahun belakangan? Pada rektoratkah, pada mahasiswa -seperti yang dia pernah katakan, ataukah pada wajah yang sedang ia lindungi? Khalid jelas bingung. Karena ini pertanyaan berat untuknya. Toh, karena Khalid pasti memahami, tanggung jawab tidak selalu dalam artian formal. Terlebih lagi ia pasti sadar, ia telah mempergunakan uang dari seluruh mahasiswa UIN Suka yang belasan ribu orang banyaknya. [Robi K. /@Bung_Robi]

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of