Menyingkap Tirai Hermeneutika

Menyingkap Tirai Hermeneutika

Menyingkap tirai hermeneutika sangat urgen dalam hidup sosial ini. Karena ia merupakan salah satu jalan untuk menginterpretasikan teks-teks kitab suci, yang  berimplikasi pada kompas kehidupan. Ia berkembang secara dramatis dalam dunia intelektual di negeri kita. Metode tafsir tadi berpotensi kuat dan memang sangat diperlukan pada dewasa ini. Dengan hermeneutika, eksistensi pemikiran dan praktik kebudayaan apa pun ter-ejewantahkan sebagai anti kemapanan, anti rezim, dan anti hegemoni. Itu semua, sepenuhnya meniscayakan dinaminasi, progresivitas, pluralitas, dan kritik-dekonstruksionis. Inilah diskripsi keutuhan hermeneutika, sehingga wajib dikaji oleh siapa pun.

Tapi, ragam teori filsafat hermeneutika ketika dibawa pada samudera Islamic studies (praksis keislaman) banyak berhadapan dengan problematika. Bahkan hermeneutika sendiri seakan menjadi sebatas wacana murni belaka. Karena seolah tiada relasi dengan tradisi keislaman yang telah berkelindan dalam tataran praksis. Di sini tampak keterputusan simbiotik yang signifikan. Efeknya, wajah Islam yang hermeneutis belum menemukan bentuk yang membumi.

Hal tersebut menjadi background lahirnya buku Belajar Hermeneutika ini. Buku yang ditulis untuk menguak misteri hermeneutika, mencoba menghadirkan historis, teori, filsafat hermeneutika ke wilayah Islamic studies. Bahasa yang renyah dan bahasan yang komprehensif, sehingga siapa pun yang berusaha mendalami hermeneutika akan mendapatkan lorong-lorong terang dan penuh pelita. Yaitu, pemahaman yang mendalam tentang hal ihwal hermeneutika.

Hermeneutika pada prinsipnya berkaitan dengan bahasa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Heidegger, yaitu setiap kegiatan manusia yang berkaitan dengan berpikir, berbicara, menulis, dan menginterpretasikan selalu berkaitan dengan bahasa. Realitas yang masuk dalam semesta perbincangan manusia selalu berupa realitas yang terbahasakan, sebab manusia memahami bahasa (hal 17). Kata-kata sebagai satuan unit bahasa terkecil yang memiliki makna. Kemudian menjadi penanda yang kita berikan pada realitas hidup ini. Penanda itu sendiri selalu berupa interpretasi.

Baca juga  Lutfi : Sesalkan Sisa Pembakaran Ban

Sebab itulah, pada abad 20, persoalan filsafat selalu berkatian dengan bahasa. Mengenai pemahaman, adalah masalah tekstual. Maksudnya, saat kita akan memahami realitas, sebenarnya kita sedang menafsirkan sebuah “teks”. Teks itu sendiri seluas realitas. Maka tak heran kalau H.G. Gadamer menyatakan, bahwa bahasa merupakan modus operandi dari cara berada manusia di dunia dan juga merupakan wujud yang seolah-olah merangkul seluruh konstitusi tentang dunia ini. Bahkan Martin Heidegger mengatakan, semua pemahaman (verstehen) bersifat kebahasaan, intensional, dan historikal. Ini sesuai dengan definisi hermeneutika sendiri, sebagai suatu teori atau filsafat tentang interpretasi makna.

Buku ini juga mengetengahkan historis perkembangan hermeneutika. Kita akan mendapatinya sebagai ilmu tentang interpretasi, lebih spesifik adalah prinsip-prinsip interpretasi teks. Dan hermeneutika mempunyai proses yang bersifat triadik (mempunyai tiga aspek yang saling berhubungan), yaitu: (1) Sign (tanda), message (pesan), teks; (2) Perantara atau penafsir; dan (3) Penyampaian kepada audiens. Kalau ditilik dari dimensi perkembangannya, maka kita akan dihadapkan pada hermeneutika sebagai (1) Teori penafsiran kitab suci; (2) Metodologi  filologi; (3) Ilmu pemahanan linguistik; (4) Dasar metodologi ilmu sejarah; (5) Fenomenologi dasein dan pemahaman eksistensial; dan (6) Sistem penafsiran.

Dengan demikian, hermeneutika mempunyai tawaran yang jelas. Dan sekaligus mengajukan sebauh dikotomi antara erkalaren dari ilmu-ilmu alam (naturwissenchaften) serta verstehen dari ilmu-ilmu sosial (geisteswissenchaften). Erklaren adalah sikap positivistik atau naturalistik yang dituntut ilmu-ilmu  pengetahuan alam untuk menentukan kadar ilmiah atau validitas ilmiah dari ilmu pengetahuan  itu. Sikap ini kemudian melahirkan metode yang bersifat matematis dan eksprimental-empiristik.

Sebaliknya, verstehen adalah pemahaman subjektif yang dipakai sebagai metode untuk memperoleh pemahaman yang valid mengenai arti-arti subjektif tindakan sosial. Metode ini muncul dari kepentingan praktis manusia untuk mengkomunikasikan maksud masing-masing yang dalam kehidupan sosial menjelma “pikiran objektif”, misalnya agama, hukum, negara, adat, dan lain sebagainya (hal 29). Dalam tawaran ini, terjadi perdebatan yang pelik  di antara Dilthey, Schleiermacher, Gadamer, Heidegger, Husserl, dll. Uraian perdebatan tersebut ada di buku padat ini, dengan tema, Hermeneutika: Mengurai Kebuntuan Metode Ilmu-Ilmu Sosial.

Di lapangan studi agama, pemahaman historisme teks-teks kitab suci acap kali mengalami ketegangan-ketegangan. Dikarenakan praanggapan-praanggapan interpretasi yang berbeda sebab pemahaman penafsir yang berbeda pula. Dari itu, perlu ada mediasi yang bisa menjembatani ketegangan-ketegangan tersebut. Dalam kerangka ini, hermeneutika-kritis Apel bisa dijadikan model untuk melihat implikasi historisme yang melekat dalam kerja-kerja studi agama. Maka perlu mengkaji langkah-langkah hermeneutika yang dibahas oleh Samsuri dalam buku ini. Yaitu, (1) Latar sosial pemikiran filosofis Apel; (2) Pemikiran-pemikiran yang memengaruhi pemikiran hermeneutika-kritis Apel; (3) Kerangka  teori hermeneutika-kritis Apel; dan (4) Implikasi hermeneutika-kritis Apel terhadap studi agama (hal 163).

Baca juga  JALAN LAIN KENABIAN (Puisi Reliji 2)

Masih banyak lagi penelanjangan hermeneutika yang bisa menyelamatkan kita dari kesalahan menginterpretasi teks-teks suci. Buku yang berkualitas ini berhasil menguak hiruk pikuk hermeneutika, dari konfigurasi filosofis menjuju praksis Islamic studies. Buku ini bukan karya tunggal, malainkan antologi “anak-anak Harmes” yang komprehensif dalam mengupas tuntas para filsuf Barat. Ini berbingkai refleksi-refleksi kesadaran transendental khas Islam kontemporer yang hibrid. [Maghfur MR*]

*) Peresensi adalah Pemerhati Sosial pada Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga

 

 

Judul                : Belajar Hermeneutika: Dari Konfigurasi Filosofis Menuju Praksis Islamis Studies

Penulis             : Edi Mulyono, M.Ag., dkk.

Penerbit           : IRCiSoD, Yogyakarta

Cetakan           : II, Januari 2013

Tebal                : 308 Halaman

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of