Tolak Kapitalisasi Pendidikan!

Tolak Kapitalisasi Pendidikan!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Tuntun Sistem Kurikulum Berbasis Kerakyatan

Lawan segala bentuk kapitalisasi pendidikan. Revolusi pendidikan harga mati!

Kamis (2/5), sekitar tujuh puluh mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Revolusi Pendidikan melakukan aksi di pertigaan UIN Suka Yogyakarta dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional. Mereka terdiri dari Front Aksi Mahasiswa Jogjakarta (FAM-J), Forum Sekolah Bersama (SEKBER), Front Aksi Jemaat ARENA (FAJAR), Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) dan PEMBEBASAN.

Mereka menganggap bahwa hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Akan tetapi, menurut mereka, faktanya pendidikan dijadikan barang komersial yang bisa diperjualbelikan. Hal tersebut ditengarai karena pemerintah lepas tanggung jawab dalam menyelenggarakan sistem pendidikan yang ideal. Pemerintah justru menyerahkan pada mekanisme pasar.

Tidak hanya itu, sampai hari ini pendidikan belum dirasakan oleh seluruh rakyat indonesia. Padahal dalam UUD ’45 pasal 31 dijelaskan bahwa seluruh rakyat indonesia berhak berpendidikan. “Sistem ini membiarkan orang miskin tetap bodoh, dan yang bodoh tetap miskin,” ujar Cipto, Koordinator lapangan aksi, dalam orasinya.

Sementara itu, dalam selebarannya mereka menganggap pendidikan saat ini mencetak budak-budak terdidik yang bakal dilempar ke pasar kerja bebas. Bukan dididik untuk menjadi pelopor transformasi sosial. “Pendidikan saat ini tak jauh beda dengan Politik Etis zaman Hindia-Belanda yang memang digunakan pemerintah kolonial untuk mencetak buruh terampil di perusahaan,” ujar Soe Gie, dalam orasinya yang menggebu-gebu.

Oleh karena itu, massa aksi menuntut untuk segera mencabut Undang-undang Perguruan Tinggi, Kurikulum 2013, dan Sisdiknas 2003; kemudian, hapus Ujian Nasional dan seragam sekolah; Tolak komersialisasi pendidikan; Tuntut pendidikan gratis untuk seluruh rakyat indonesia dan memberlakukan sistem kurikulum yang berbasis kerakyatan.

Baca juga  Penerapan KKNI Ushuluddin dan Pemikiran Islam Kurang Sosialisasi

Dalam aksinya, mereka juga sempat membakar ban dan mencegat mobil boks untuk digunakan sebagai tempat orasi, sekitar lima belas menit. Sehingga aksi tersebut membuat macet sepanjang Jalan Adi Sucipto. [A Taufiq].

Editor : Taufiqurrahman

Komentar

komentar

Share:

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of