Kitab Suci Pembaca Berita

Judul               : BLUR: How To Know What’s True In The Age Of Information Overload ‘Bagaimana Mengetahui Kebenaran Di Era Banjir Informasi’

Penulis             : Bill Kovach Dan Tom Rosenstiel

Penerbit           : Dewan Pers Bekerjasama dengan Yayasan Pantau

Tahun              : November 2012

Alih Bahasa     : Imam Sofwan dan Arif Gunawan Sulistiyono

Tebal Buku      : 225 Halaman + Cover

Satu prinsip yang selama ini menjadi pegangan para diktator ialah soal menguasai rakyatnya. Salah satu caranya, dengan menguasai media dan membentuk opini publik seperti apa yang dikehendaki. Cara kasar seperti masa Orde Baru tentunya bukan lagi solusi yang baik untuk diterapkan. Sekarang zamannya bermain halus di tengah masyarakat yang mudah marah dan mengamuk.

Berita memang tak pernah habis untuk dibahas. Di mana-mana orang membicarakan tentang berita baru yang tengah hot. Di kantor, warung kopi, hingga pangkalan becak. Orang yang tengah diam, dan menghadap leptop pun jangan dikira tidak ribut soal pemberitaan. Facebook, twitter, blog, semua bisa jadi sumber informasi yang sangat menggila soal peredarannya.

Pembicaraan yang beredar tidak lain seputar kontroversial, keanehan, hingga kepada gugat-menggugat mengenai unsur berita tersebut. Berita yang menghebohkan cepat sekali berkembang dan berubah-ubah sekehendak pemilik media. Hari ini bicara korupsi, besok mencuat kasus penyerangan Lapas Cebongan, lusanya berganti lagi membahas Tasripin.

Publik pun dibuat bingung. Geleng-geleng kepala, sedih, kagum, dan bergumam “Masyaallah.” Pihak-pihak terkait dibuat bertikai karena pemberitaan yang dianggap merugikan. Yang satu melayangkan gugatan, yang lain melakukan pembelaan. Masyarakat tambah bingung. Sementara isu-isu baru tak henti-hentinya bermunculan.

Baru sepuluh menit on line membuka jejaring sosial, sudah melihat berita heboh lainnya. Karena kaget dan berita tersebut sangat menarik, akhirnya berita tersebut di tautkan ke orang lain. Begitu selanjutnya. Hingga dalam rentang waktu beberapa menit, kabar baru tersebut sudah beredar ke ratusan pengguna media jejaring sosial lainnya.

Abad ini memang eranya informasi yang tak bisa dibendung. Setiap orang bisa langsung mengabarkan ke ratusan orang. Tanpa media, tanpa aturan jurnalistik, dan tanpa proses editing. Hal ini yang kemudian memaksa setiap orang untuk menjadi editing mandiri bagi informasi yang diterima. Karena jika tidak, kita akan terjebak dalam luapan informasi yang tidak bisa kita hindari.

Baca juga  Gado-gado: Serumpun Percik Perlawanan

Melihat fenomena seperti ini, dua orang jurnalis Amerika Serikat, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menulis sebuah buku yang berjudul “Blur: How To Know What’s True In The Era Information Overload” pada bulan Agustus 2011. Keduanya pernah menulis buku berjudul “Warp Speed: America in the Age of Mixed Media” pada tahun 1999. Kemudian pada tahun 2001 menerbitkan buku “The Element of Jurnalism” yang selama ini dianggap sebagai kitab suci seorang jurnalis. Kini mereka membuat buku Blur yang ditujukan kepada khalayak umum.

Melalui Blur, keduanya ingin mengajarkan kepada khalayak umum, yang selama ini tidak pernah mengenal dunia media dan jurnalistik, untuk menjadi editing bagi diri sendiri dalam menerima informasi yang diterima. Blur mengajarkan kepada masyarakat untuk memilih berita yang layak dijadikan sandaran sebagai informasi. Bukan sekedar isu-isu tak jelas, yang lambat laun membentuk opini publik yang salah dan menyesatkan.

Blur menolak semua isu abal-abal yang selalu menguasai informasi di seluruh dunia. Informasi yang kerap menyebabkan kehebohan di kalangan masyarakat. Yang menyebabkan masyarakat panik, bertikai, takut, hingga melakukan tindakan-tindakan yang tidak selayaknya. Informasi yang dimaksudkan ialah informasi yang tidak jelas keakuratan fakta yang disajikan. Informasi yang tidak melalui proses editing yang maksimal. Informasi yang menelan mentah-mentah fakta yang terjadi di lapangan.

Menurut Blur, informasi yang mengerumuni masyarakat saat ini ialah informasi yang minim verifikasi. Minim cecking data dan fakta. Apa penyebabnya? “Teknologi yang semakin berkembang,” kata Blur. Teknologi yang memanjakan manusia justru mengakibatkan sifat instan dalam mengolah informasi dalam berita. Kejadian hanya terjadi beberapa menit lalu, dapat langsung diakses oleh masyarakat.

Wartawan yang seharusnya melakukan kerja-kerja jurnalistik dengan baik pun menerima dampak dari teknologi. Apa? “Kemalasan,” kata Blur. Wartawan menjadi malas dalam melakukan kerja-kerja jurnalistik. Lebih mengandalkan kemampuan teknologi dan melupakan indera serta akal dalam mengolah fakta. Misalnya apa? “Acara-acara wawacara langsung dengan narasumber, yang saat ini marak di televisi,” tambah Blur.

Selain itu, Blur juga mengkritik  model berita yang selama ini semakin berkembang. Susah dibedakan mana jurnalisme verifikasi, mana jurnalisme pernyataan, yang mana juga jurnalisme kaum kepentingan. “Bukan susah dibedakan. Tapi selalu disama-samakan,” bantah Blur. Oleh sebab itu Blur mengajarkan masyarakat untuk dapat dengan mudah membedakannya.

Baca juga  Renovasi Tragis di “Balada Joni dan Susi” Melancholic Bitch

Hal pertama yang selalau ditekankan kepada khalayak ialah selalu untuk memiliki pola berpikiran atau berpengetahuan skeptis. Apa itu berpengetahuan skeptis? Pola berpikir yang selalu curiga terhadap data dan fakta dalam berita. “Tidak hanya itu, harus curiga pula dengan narasumber yang dijadikan landasan dalam berita tersebut,” ujar Blur.

Buku ini sedikit aneh. Khalayak umum yang tidak mengerti apa-apa diajarkan untuk menjadi editing berita. Lantas bagaimana dengan media? Buku ini tidak mengesampingkan berita-berita yang disajikan oleh media. Bahkan tidak mengesampingkan berita yang tersebar berantakan di dunia maya. Tapi menunjukan mana media yang benar-benar menyajikan berita layak pakai. Layak diyakini. Sehingga layak untuk dipikirkan dan diambil tindakan yang tepat terhadap situasi yang ada. Bagaimana Blur menyajikan ini semua?

Blur memulai pembahasannya dengan memberikan beberapa contoh berita atau isu-isu yang beredar di Amerikan Serikat. Berita-berita salah yang mengakibatkan khalayak mengambil tindakan yang salah pula. Kebanyakan ialah berita-berita cepat saji yang menghadirkan berita dalam hitungan detik. Blur menjelaskan apa yang salah dalam berita. Blur mengatakan apa yang tidak dilakukan oleh si pembuat berita. Blur juga mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi, sehingga menghasilkan berita yang seperti itu.

Walau ditujukan untuk khalayak umum, sesungguhnya buku ini menampar secara tidak langsung kepada pembuat berita. Tak terkecuali media-media yang memayungi para pencari berita. Blur mengajari kepada pembuat berita, bagaimana menyajikan berita yang baik kepada pembaca. Apa kuncinya? “Akurasi verifikasi data dan fakta,” kata Blur secara tidak langsung. Blur memukul media-media yang hanya mementingkan segi komersil. Media yang ogah memberikan waktu kepada wartawan untuk memverifikasi fakta.

Informasi saat ini sungguh nge-Blur. Se-Blur tulisannya pada sampul buku. Tidak terlihat dengan jelas bentuk yang aslinya. Tapi tak mengapa, Keadaan yang ada bukan untuk disesali. Tapi untuk dicari jalan keluarnya. Jika jurnalisme punya kitab suci. Khalayak umum pun kini bisa menjadikan Blur sebagai kitab suci untuk memilah informasi yang benar di era banjir informasi seperti saat ini. (Januardi)

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of