MEMBELOT

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Seorang mahasiswa berujar “Kalau seandainya Pemilwa tidak memberikan perubahan, lebih baik ditiadakan saja. Ya, buat apa diadakan toh?” Ucapannya jelas. Tak perlu penafisiran lagi. Saya yang mendengarkannya diam saja. Saya ta’jub kepadanya. Ia baru saja semester empat saat ini, dalam artian ia belum pernah merasai pemilwa di kampus ini. Namun ia telah berkomentar seolah-olah telah merasai letih-nya Pemilwa UIN Suka.

Begitu juga dengan salah seorang mahasiswa yang lain. Yang satu ini berkata “gak lah mas, saya gak mau ikut-ikutan kalau soal politik. Semuanya sama saja. Gak bisa diharapkan. Mendingan kuliah.” Namun yang satu ini bukanlah mahasiswa semester muda, ia telah tiga tahun di fakultas Syariah. Kalau saja dia fokus dengan jurusannya dalam pekerjaannya nanti, besar kemungkinan ia akan bertemu jua dengan politik. Namun ia barusan bilang tidak mau berhubungan dengan politik. Saya melihat dalam keadaan seperti ini, ternyata jurusan kuliah memang bukan representasi dari keinginan dan kegelisahan mahasiswanya.

Namun yang jelas dari kalimat-kalimat yang terlontar itu terkuak kebosanan dan kejemuan yang letih. Kebosanan ternyata bisa menyebar bak virus. Dan itu telah menjangkit kebanyakan mahasiswa kampus kita. Mahasiswa memang rentan dengan sifat yang satu ini. Tugas-tugas kuliah yang tak surut terus saja membelenggu. Herannya, kita menggerundelinya namun tak sanggup membantah tuntutan itu. Mungkin kita sama-sama menginsafi, membantahnya sama saja seperti memukul permukaan air (tenaga banyak yang terkuras, namun kita tetap basah kena cipratannya). Akhirnya kita terpaksa jua mengerjakannya, dengan harapan akan mendapatkan nilai yang baik. Walau kita juga memahami, nilai yang baik bukan berarti mahasiswa tersebut baik dan cerdas pula.

Kita sama-sama tahu tapi menipu. Saya melihat –khususnya soal Pemilwa- ini sebagai kesempatan bagi mahasiswa untuk membalasi sakit hatinya yang tidak bisa menolak tuntutan-tuntutan dari para dosen. Hingga tuntutan moral -dari mahasiswa untuk berpartisipasi dan berfikir- tentang perpolitikan mahasiswa menjadi tidak bersambut. Mahasiswa sebenarnya mengetahui dengan benar bahwasanya ia mempunyai peran dan hak dalam urusan ini, namun sengaja membelot sebagai bentuk pengalihan penatnya melaksanakan semua tuntutan. Kita kadang membutuhkan cara yang satu ini untuk “menghindari” banyaknya keharusan. Membelot kadang harus diakui sebagai bentuk kesenangan.

Baca juga  KRS Tak Kunjung Beres

Benar saja, mahasiswa –mungkin termasuk juga kita disini- tidak dapat mengabaikan tuntutan kuliah. Ini urusan wajib-karena ada konsekuensi terang seperti nilai. Sedangkan untuk perpolitikan mahasiswa, ini urusan moral-konsekuensinya tak kelihatan, atau mungkin tidak ada konsekuensi yang merugikan sama sekali. Konsekuensinya tentu bagi orang yang peka moral pula.

Membelot-nya mahasiswa dari ajakan berpartisipasi dalam pemilwa merupakan cara tersendiri menghindari dari tuntutan pemilwa itu. Kesimpulan sementara saya ini rasa semakin kuat saja, ketika saya memperhatikan salah seorang dosen yang menugasi mahasiswanya untuk mengambil BEM/Dema sebagai obyek penilitian sebagai tugas untuk UAS. Tiba-tiba seperti kehausan, banyak teman-teman mahasiswa yang keranjingan informasi terkait BEM/Dema.

Saya tidak tahu apakah dalam kondisi seperti itu kita masih menipu. Bahwa sebelumnya kita tidak tertarik dengan politik mahasiswa namun harus mengangkat pula topik terkait itu. Saya sebenarnya geli melihat kondisi teman-teman ketika itu. Geli dengan pertanyaan saya sendiri : Nah, bagaimana sekarang teman-teman akan membelot?

Namun ternyata teman-teman terang tidak ada yang membantah. Sebagaimana tidak membantah pula atas tugas-tugas –dengan topik yang lain. Saya tidak tahu apakah dalam kondisi itu mahasiswa menganggap tema BEM/Dema menjadi kegelisahan ataukah menjadi sekadar tugas saja. Seandainya itu tidak menjadi tugas kuliah, masihkah persoalan politik mahasiswa itu menjadi penting.

Bagi “penggiat” politik mahasiswa tidak perlu berkecil hati dengan kondisi mahasiswa yang seperti itu. Perkuliahan sepertinya telah membiasakan banyak orang untuk sulit menentukan pilihan dirinya sendiri. Mungkin ada jua benarnya pendapat Altusser, pemikir perancis itu, pendidikan dalam kondisi kapitalistik seperti ini memang tak banyak memberikan pilihan. Mahasiswa dan pelajar dianggap berhasil dengan ukuran “ada gunanya.” Dan ukuran itu kadang harus dijelaskan dengan kalimat tak berperasaan ; Pendidikan harus sanggup menyediakan lulusan yang langsung siap bekerja sesuai dengan tuntutan dari program yang telah digariskan. Jika tidak mencukupi sarat itu, lulusan akan dianggap “gagal.”

Baca juga  625 Calon Maba Ikuti Bimtes PMII

Ketika pendidikan dianggap pemasok tenaga kerja seperti itu, maka pendidikan tak-khayal lagi menggarisi pula mahasiswanya dengan pembiasaan dunia kerja nantinya. Program-program pendidikan-pun dijalankan sesuai dengan kebutuhan sebagai tenaga kerja kemudian hari. Sayang, program tentang perpolitikan belum dianggap sebagai tenaga kerja, maka wajarlah perpolitikan mahasiswa belum didukung oleh kampus dan dunia pendidikan kondisi ini. Tak sedikit diantara kita mengkhawatirkan perpolitikan mahasiswa hanya menyia-nyiakan waktu, yang seharusnya bisa dipakai untuk buat tugas dan kuliah. Dunia pendidikan kita memang terjebak dalam kekhawatiran.

Namun mahasiswa memang bukan semisal robot atau computer yang benar-benar bisa diprogram. Mahasiswa terlihat patuh dan menurut, namun toh banyak yang membelot. Bukan saja dalam soal perpolitikan mahasiswa, dalam perkuliahan-pun di temui pembelotan itu: Dosen sedang member materi dan kita asyik dengan ponsel. Tugas diberikan kita copy-paste dari internet. Ujian dilakukan kita searching jawabannya di internet. Dan skipsi-pun dapat dibeli. Membelot memang lebih lunak dari baikot. Namun lebih pedih karena akibatnya, tidak saja bagi orang yang dibelotinya, namun jua bagi dirinya. Kita tahu namun menipu. [] @Bung_robi

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of