Home SASTRACERPEN Mata Cicak

Mata Cicak

by lpm_arena
Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Latifah Mustafida *)

 

Ruangan di hadapanku berubah lengang. Luas!

Mataku mengedar pandang ke seluruh sisi. Dua bayangan samar-samar itu tampak berdiri di kedua sisi mak Inang. Yang satu di sebelah kiri, yang satu di sebelah kanan. Aku melihatnya begitu jelas, dua bayangan itu bergulat hebat, sepertinya yang satu nampak tenang- dan yang satunya meledak-ledak. Aku tak tahu siapa mereka. Tak ada mata, hidung atau apapun, hanya seberkas cahaya yang nampak silau. Hanya saja, sepertinya mereka sedang beradu mulut.

Mak Inang berdiri kaku memegang parang dengan mata menyiratkan amarah. Kepalan tangannya yang kencang bisa kurasakan sebagai emosi yang lama tertahan. Mendidih di ubun-ubun. Di hadapannya kini berdiri anaknya yang sedang mengobrak-abrik isi lemari.

Mak Inang adalah tetangga rumahku. Hanya selisih beberapa langkah maka akan kau dapati rumahnya yang hampir berdempet dengan tembok rumahku. Aku mengucek-ucek mata. Benar. Itu benar Mak Inang yang sedang membawa parang. Sedang anak bujangnya yang sejak tadi diawasi dari belakang tak menyadari bahwa sejatinya sejak tadi Mak Inang berada di belakangnya.

Oh! Aku menutup mulut. Parno sedang membuka-buka surat-surat di dalam lemari. Dia mencari sertifikat rupanya.

Aku diam, berusaha tak mengeluarkan suara. Keadaan Mak Inang yang sedang dilibat kemarahan, dan Parno yang tak menyadari keberadaan emaknya itu sedikit banyak membuatku merinding. Apa yang harus kulakukan? Begitu pikirku. Sementara jika aku menasihati Mak Inang, pasti aku kena tebas parang tajam itu. tidak, aku tidak mau mati di tangan mak Inang.

Berteriak pada Parno? Uh, bagaimana mungkin? Nanti bagaimana kalau aku dikejar orang se-kampung gara-gara ikut campur urusan orang? Lagipula semua mengenal Parno. Preman kampung yang suka sekali memalak ibunya sendiri. Meminta paksa apa yang diinginkan, kalau tidak. Maka siap-siap saja mendengar teriakan mak Inang yang ditendang Parno gara-gara dompetnya dibawa lari. Dan setelah itu, tetangga-tetangga akan datang membopong badan tua mak Inang sembari memberi kekuatan.

Maka kali ini sejujurnya aku yang dibuat kebingungan, biasanya Mak Inang hanya akan mengelus dada dan mengucap istighfar. Tapi sekarang?

Kudengar samar-samar suara bayangan itu tertangkap.

“Jangan mak, itu anakmu. Darah dagingmu, Mak”. Begitu suara bayangan di sisi kanan.

“Sudah, tebas saja! Tidak usah pikir panjang! Anak durhaka pantas tinggal di neraka. Bunuh saja. Hidup juga nggak ada gunanya” timpal bayangan di sisi kiri.

Aku makin merinding mendengar bisikan-bisikan itu.

“Ayo mak, dengarkan suara sisi kanan saja. Kanan saja mak!” aku berharap-harap cemas menyaksikan dari kejauhan. Tak bisa berkutik, apalagi mencegah badan mak Inang yang sekarang Nampak sebesar raksasa. Dan aku semut yang tak punya kekuatan apa-apa.

“PRANG!”

“CRAT!” parang itu terlempar di sisi kanan tubuhku. Aku berlari secepat yang aku bisa, berkelit. Menjauh dari lemparan parang. Darah segar mengucur dari kepala Parno. Keringat dingin mengucur deras dari dahiku. Aku menarik nafas panjang. Oh tidak! Tidak mak! Aku jirih melihat darah-darah di parang itu. Bayangan di tepi kiri tersenyum puas.

Mak Inang lemas, bersimpuh di lantai yang sudah penuh dengan genangan darah.

Tapi … sebentar sebentar, ini di rumah mak Inang? Bagaimana bisa aku berada tiba-tiba di rumah mereka? Bukankah tadi aku sedang tertidur di rumah?

Dan … ekorku terputus kena tebas parang? Ini apa?

***

Sudah pukul satu dini hari. Mataku belum mau dikatupkan untuk istirahat. Bayangan istriku yang belum pulang. Bayangan tebasan parang yang tak dipercayai tetangga membuatku tak bisa  tidur nyenyak. Sudah kubilang berulang kali pada tetangga, bahwa mak Inang  marah karena Parno hendak mencuri.  Karena Parno mengobrak-abrik isi perabot mak Inang, aku melihatnya dengan mata kepala sendiri. Tapi tak ada siapapun yang percaya padaku.

Mereka bilang aku hanya sedang berhalusinasi karena kebanyakan nganggur, ngelamun. Ditambah lagi pernyataan istriku bahwa, aku tertidur pulas sampai jam tujuh pagi. Mereka pikir aku sedang berbual, padahal ini sungguhan.

Kepalaku mendadak pusing. Kutengokkan kepala di jam dinding sebelah timur kamar, jarum jam itu lamban bergerak, namun ini sudah benar-benar malam.

Sebenarnya kemana istriku pergi? Dan bagaimana bisa semalam aku tiba-tiba sudah sampai ke rumah mak Inang?

Sudah sebulanan ini istriku selalu terlambat pulang. Alasannya lembur. Banyak kerjaan. Awalnya kumaklumi semua alasan yang keluar dari mulutnya. Tapi akhir-akhir ini, dia sudah mulai keterlaluan. Mulai berani membantah, bahkan selalu pergi lebih dulu sebelum mengantar Rizky sekolah. Tapi aku tak bisa berkutik, dengan status yang kini jadi pengangguran aku memang lebih banyak menyampirkan beban pengeluaran di pundak istriku. Mau apa lagi? Aku memang sedang tidak berguna kali ini.

Kuamati seisi kamar berukuran 4×6 yang kutiduri. Senyap, hanya ada aku dan tembok-tembok diam. Dan ya, ada seekor cicak yang sedang menempel tepat di atas ranjangku. Mungkin sedang menatapku. Posisinya persis di atasku, aku yang terlentang menatap langit-langit kamar. Sedang dia justru menghadapku dengan posisi punggung di bawah. Seperti biasa.

Aku diam, memperhatikan cicak itu. entah kenapa cicak itu justru membuatku berpikir bahwa dia sedang terus mengamatiku sejak tadi. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benakku, hei sejak kapan muncul cicak itu? Kenapa sepertinya sejak tadi dia tak bergerak kemana-mana? Kepalaku mulai memproduksi ribuan pertanyaan aneh.

“Hei. Mata itu! Mataku bertubrukan dengan mata cicak itu.

Untuk kali kedua Keajaiban terjadi. Tiba-tiba rohku seperti ditarik ke atas dan hei, aku hampir saja jatuh, badanku menempel  di langit-langit kamar. Kejadian itu terulang lagi. Dimana tubuhku? Bisa kusaksikan tubuhku yang tertidur di bawah dan kini rohku menempel di raga cicak tadi? Jiwaku benar-benar tertukar?

Oh. Aku berubah jadi seekor cicak? Merayap di dinding, ekor, mata tajam, ah, ini semua sungguh seperti mimpi.

Tiba-tiba engsel pintu diputar terdengar dari arah luar. Aku segera berlari ke ruang tamu. Memastikan apakah dia istriku atau bukan. Kugoyangkan badan-badan mungil itu lincah, ekor-ekor yang setiap saat bisa terlepas itu mengikutiku sigap.

“Kamu ati-ati ya mas?” Suara wanita dari luar yang terdengar begitu manja. Itukah istriku? Tapi dengan siapa dia di luar?

“Iya kamu juga. Pelan-pelan, nanti suamimu bangun. Ketemu lagi ya besok”

Aku mengendap-endap menuju balik engsel pintu. Pemandangan itu membuat bibirku spontan kelu, aku terperangah. Itu istriku! Dan Pak Lurah? Sedang apa dia malam-malam bersama istriku? Aku benar-benar diliputi perasaan marah. Emosiku mendidih. Dan sedetik kemudian, pak Lurah justru mengecup kening istriku lebih mesra.

“Cicak sialan! Hush!”

Tubuhku dibuangnya kasar ke lantai. Sial! Berusaha kujatuhkan badanku ke tubuh pak Lurah karena tak terima tubuh istriku dipegang-pegang olehnya, bahkan diciuminya berulang kali.

“Sssst! Jangan berisik mas, nanti suamiku bangun”.

Suara itu kini mengalun lirih. Aku menyimpan emosi berbarel-barel di hadapan mereka. Mataku menyalak tajam. Seandainya ada parang di tanganku seperti malam kemarin saat aku melihat mak Inang dan Parno, tentu akan langsung kulemparkan ke tubuh pak Lurah sekarang. Tapi bisa apa aku?

Tubuhku tiba-tiba menjelma jadi cicak yang tak bisa berbuat apa-apa. Tak bisa berkutik. Ternyata ini yang selalu istriku kerjakan di luar rumah. Pamit hendak bekerja, dan Rizky dititipkannya padaku karena aku yang hanya pengangguran.

Dan sebelum aku sempat mengejar istriku ke dalam rumah.

“KLIK!” pintu rumah sudah lebih dulu dikunci.  Aku meringkuk kedinginan di ventilasi luar.

***

Dua hari berturut-turut aku diberi pertunjukkan yang sungguh mengejutkan. Yang pertama Parno yang tak sengaja ditebas parang oleh Mak Inang. Kini kedua kalinya kudapati istriku main serong dengan pak lurah. Kutukan apa ini?

“Sama siapa kemarin kamu pulang, ha?” aku melotot tajam pada istriku yang tampak tenang-tenang saja.

“Sama siapa? Aku sendirian, mas”.

“Halah, jangan bohong kamu! Kamu sama pak lurah kan? Berani selingkuh kamu dari aku?” Mata istriku tampak kaget. Namun sikapnya tetap tenang. Tak seperti aku yang terus memojokkannya dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Sungguh, aku sedang ingin marah karena ketidakberdayaanku menjaga istri sendiri.

“Aku tahu! Aku juga tahu kemarin mak Inang mbunuh Parno. Mau ngelak apalagi kamu?”

Istriku tertegun. “mas ini ngomong apa sih?”

“Sudah, kamu nggak usah ngeles. Kemarin aku berubah jadi cicak dan bisa ngliat kalian main serong. Aku bisa ngliat semuanya pake mata cicak”.

Istriku malah tertawa. “Mas ini kenapa? Sudah, aku mau kerja. Titip Rizky ya?”

Aku refleks menutup mulut. Berubah jadi cicak? Siapa yang percaya? Dan Oh Tuhan! Kenapa bisa jiwaku yang tiba-tiba ditempatkan dalam tubuh cicak untuk tahu semua kebusukan itu? Sepertinya aku sedang diuji dengan rentetan kejadian membingungkan ini? Aku bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat banyak mata. Dan aku yang bisa menyadari apa kesalahan-kesalahan di luar wewenangku.

Hei, jangan-jangan cicak itu hendak menyindir tingkah polahku? Memata-mataiku sejak dulu? Tahu aku yang culas menilep uang kantor dan memberi makan anak istri dengan uang haram? Jangan-jangan mata cicak itu tahu semua kebusukan yang kuperbuat?

Seperti tersadar dari mimpi buruk, aku mendesis. Duh gusti! Ternyata, mata cicak itu tahu Bangkai dimana-mana.

 

*) Penulis adalah mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga angkatan 2010.