Demokrasi Indonesia Sebatas Prosedur

“Ketika saya pribadi mengevaluasi reformasi, merasa ada ketololan tersendiri kenapa kami masuk dalam kata reformasi. Kenapa bukan revolusi,” tutur Widihastro Wasana Putra dalam diskusi yang mengangkat tema “Indonesia: Evaluasi 15 Tahun Reformasi” Senin (20/5) di ruang Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga.

Widihastro yang ketika menjadi mahasiswa juga turut andil dalam penggulingan rezim Suharto pada tahun 1998, mengaku bahwa banyak sekali hal yang perlu dibenahi pada era reformasi ini. Salah satunya adalah seputar demokrasi.

“Saat ini memang era multi partai. Bila kita evaluasi memang sudah bagus. Sudah masuk pada demokrasi prosedural. Tapi apakah sudah masuk pada demokrasi esensial ? Rasanya belum. Karena demokrasi saat ini tidak memberi ruang bagi aktor politik yang dapat dibanggakan,” ungkap Widihastro.

Bersama Eko Prasetyo, pihaknya juga menyoroti persoalan seputar mahasiswa dan sistem perkuliahan di kampus-kampus. Sebab lahirnya era reformasi tak dapat dilepaskan dari andil mahasiswa.

“Sistem kuliah saat ini tidak memberi ruang pada mahasiswa untuk aktif di dunia sosial,” kata Widihastro menyoroti sistem perkuliahan yang ada.

Sedangkan eko berpendapat jika mahasiswa saat ini penakut dan kehilangan jiwa heroismenya.

“Mahasiswa saat ini kehilangan heroismenya. Sangat takut untuk membolos, aksi, bakar ban, dan seterusnya. Padahal hal itu adalah heroisme anak muda,” ungkap Eko Prasetyo dengan berapi-api. [Noer Hasanatul Hafshaniyah]

Editor: Folly Akbar

 

Baca juga  Bercumbu Dalam Sosial Media

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of

Send this to a friend