Untuk (Kru Baru) ARENA Lewat Bisma

Ditengah hiruk-pikuk persiapan Pemilwa UIN Suka, internal LPM ARENA mempunyai hajatan yang tak dapat tidak, harus jua dilaksanakan. Agenda ini telah lama dipersiapkan. Dan kini waktu telah menghakimi, ada delapan belas kru baru yang akan menemani kru lama untuk menjalankan agenda ke-ARENA-an. Kedelapan belas kru baru ini ‘disambut’ pada Sabtu dan Minggu (18-19 Mei 2013) ini.

Kawan-kawan baru ini, setidaknya menurut saya, adalah orang-orang yang cerdas, mempunyai semangat muda yang menggelora dan suka belajar. Setiap orang mungkin punya pandangan tersendiri tentangan itu, biarlah waktu yang akan menjawab bagaimana kedepannya. Sejauh ini, memelihara semangat dan memperbarui niat -menurut saya adalah pekerjaan yang tidak dapat disepelekan.

Orang kadang membutuhkan alasan-alasan rasional sebagai landasan untuk masuk dan bertahan disebuah organisasi. Apalagi organisasi tersebut nantinya akan menuntut lebih banyak dari tuntutan dosen dalam perkuliahan. Pernyataan-pernyataan naïf –untuk sebagian orang- kadang tak cukup untuk memakukan pendirian. Ini bukan permasalahan baru.

Adakah yang salah dari itu? Saya rasa ini bentuk dari semangat ‘ke-modern-an’ zaman ini. Yang merisihkan adalah ketika landasan itu sendiri dibenturkan dengan kehedonisan dalam kerangka berfikir kita. Merisihkan, karena bukan saja landasan itu akan dihancurkan dengan  sengaja. Namun juga akan mematikan kepekaan si empunya akan kondisi disekitar. Jika itu terkait organisasi, konsekuensinya adalah; meninggalkan organisasi, baik terang-terangan maupun diam-diam, karena memburu ‘keuntungan’ pribadi.

Namun bukan berarti setiap orang yang meninggalkan organisasinya adalah hedonis. Tidak. Lebih tepatnya, saya memaksudkan bahwa hedonis ternyata lawan berat jika berbicara soal prinsip berorganisasi. Kenapa menjadi lawan? Kita mungkin bisa mengorek jawabannya lewat proyek kehidupan, yang diam-diam kita canangkan sendiri.

Tidak salah, jiwa orang muda seperti kita ini adalah jiwa yang berisi rencana-rencana. Itu adalah proyek kebahagian. Freud, seorang psikoanalisa, pernah bercerita bahwa manusia punya prinsip kesenangan. Artinya semua orang berupaya agar dirinya aman dan terjamin kesenangan hidupnya, dan semua upaya fikiran akan diarahkan untuk kesenangan itu. Namun Freud juga bercerita ada prinsip lain dalam kehidupan ini yaitu prinsip sosial. Prinsip yang terakhir ini kadang tidak meghiraukan prinsip kesenangan tadi. Akhirnya proyek kesenangan kita kadang-kala harus ‘bertempur’ terus dengan prinsip sosial ini. Namun pertempuran ini jangan dipahami pertempuran baik-buruk. Sampai disini alamiah saja karena kehidupan.

Dalam soal organisasi -yang mengandung prinsip sosial- prinsip kesenangan pribadi menjadi tabu untuk dibicarakan. Namun sebenarnya prinsip ini tidak semata-mata hilang tertelan organisasi. Prinsip kesenangan kadang tetap hadir –walau menyelinap. Hedonisme ketika itu menjadi gambaran tidak mau mengalahnya prinsip kesenangan tadi. Disinilah baru dipertentangkan orang perihal apakah hedonis itu bernilai baik atau buruk.

Selain datang dari dalam, hedonisme bisa juga disebabkan dari luar diri empunya. Hal ini ada karena kondisi disekitar kita telah banyak mengundang kecemasan. Target-target yang digariskan tanpa kesepakatan kita telah berlaku sedemikian adanya. Dan kita terjebak di dalamnya. Pusaran jebakan ini tidak begitu saja bisa dilepaskan. Perlu keberanian. Harus ada kesadaran. Dan kata yang terakhir ini sungguh susah menggambarkan gerangannya.

Mesti diinsafi, lewat banyak hikayat –dan juga pengalaman pribadi- kita banyak menemui tentang kehedonisan ini. Jika itu terdapat pada seorang pemimpin, maka amanah itu akan terinjak kena pacu buruannya. Dan jika ada pada anggotanya, maka organisasi akan tersendat karenanya.

Untuk melihat hal yang berbeda –terkait organisasi ini- kita dapat meresap-resapi hikayat Bisma dalam Batharayuda. Bagaimana ia terbunuh di akhir perang itu. Yang paling menganjal dihati dari hikayat pak tua itu adalah kesadarannya dalam perang ini. Mengetahui dengan sadar bahwa ia adalah panglima pada pihak yang tidak benar. Namun Bisma tetap tak berpaling. Ada yang mesti diperjuangkannya. Dan kita semua mengerti apa itu.

Bagaimanakah pendapat Bisma terkait hedonisme itu. Mungkin ia mengejek. Atau ia mengangguk-angguk paham. Karena pilihan tetap-lah pilihan sampai akhir. Dan kita sebagai nafsah tetap harus menentukan diri sendiri; untuk apa melangkah terus di jalan ini. Dan bagaimana jika seandainya di ujung jalan ini adalah penderitaan-layaknya kematian bagi Bisma. Dan sekarang sepenting apakah alasan –untuk landasan berorganisasi itu- bagi kita. Kita lihat Bisma, dan kita tahu. [] Bung_Robi

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of