Menolak Budaya Anarkis dalam Pemilwa

Taufiqurrahman, Pemimpin Umum LPM ARENA

 

Hari H Pemilwa (3 Juni 2013), sebagai bentuk pesta demokrasi, kian dekat.  Tapi beberapa pihak hingga detik ini masih merasa aspirasinya tak terakomodir. Student Government (SG) dituding menghianati demokrasi. Ia tak lebih dari bentuk tirani mayoritas. Maka, perilaku anarkis kemungkinan besar akan terjadi sebagai bentuk radikalisasi gagasan dan kekecewaan. Terutama oleh pihak-pihak yang merasa terzalimi setelah aksi-aksi damai mereka tak menyelesaikan persoalan. Sementara Rektorat sampai detik ini belum berhasil menemukan kata sepakat dan jalan keluar di meja perundingan.

 

Pihak-pihak yang terkait antara lain:

Pihak Pro-Pemilwa (Pihak Pertama); Yaitu pihak-pihak yang menganggap Pemilwa tahun ini sudah berjalan sesuai prosedur. Tidak ada yang salah dalam prasedur pelaksanaan Pemilwa. Pemilwa harus segera dilaksanakan mengingat kepengurusan DEMA tahun lalu sudah berkakhir.  Yang termasuk dalam pihak ini ialah DEMA, SEMA, dan KPUM (yang telah disahkan Rektorat). Sedangkan partai yang mendukung ialaha Partai Rakyat Merdeka (PRM) dan PD (Partai Demokrasi) Suka.

Pihak Pro Perubahan (Pihak Kedua); Yaitu mereka yang merasa teranaktirikan. Regulasi tak menguntungkan mereka. Mereka menganggap Pihak Penguasa mengkhianati demokrasi.  Mereka terdiri dari empat golongan gerakan mahasiswa. Masing-masing golongan membentuk partai, yaitu PAS, PAD, Proletar dan Pencerahan. Kemudian empat partai ini membentuk satu Aliansi. Namanya Aliansi Partai Mahasiswa untuk Perubahan (kami sering menyingkat APMP).

Pihak Rektorat (Pihak Ketiga). Rektorat adalah penanggungjawab secara keseluruhan terhadap segala aktivitas kampus. Dalam urusan mahasiswa, rektorat berhak, atau bahkan berkewajiban ikut campur sebatas menstabilkan kembali situasi yang semakin kisruh. Rektorat menganggap bahwa persoalan Pemilwa ialah urusan mahasiswa, maka mahasiswa seharusnya duduk bersama mahasiswa menyelesaikan persoalan yang ada.

Perlu Sikap Tegas

Pemilwa merupakan pesta mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga yang menggambarkan bahwa UIN menganut sistem demokrasi terpilih. Jalannya Pemilwa selama ini tidak pernah luput dari aksi-aksi yang berbau kekerasan. Hal ini dikarenakan ada beberapa pihak yang tidak pernah merasa puas dengan jalannya Pemilwa.

Bedasarkan apa yang telah dijelaskan dalam latar belakang, kondisi demokrasi di UIN Suka saat ini tidaklah berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dengan minimnya minat mahasiswa yang turut berpartisipasi dalam Pemilwa. Mahasiswa menganggap Pemilwa hanya ajang perebutan kekuasaan. Sama halnya dengan perpolitikan di tingkat nasional.

Selain itu, pihak-pihak yang terlibat secara langsung dalam Pemilwa juga tidak dapat memberikan contoh student government yang baik. Mahasiswa yang seharusnya bisa lebih bijak menyikapi persoalan, malah kerap menunjukan sifat anarkis, seperti kekerasan fisik. Rektorat juga tidak dapat menyelesaikan gejolak di antara mahasiswa. Padahal Rektorat sendiri tidak pernah merasa setuju seratus persen jika dikatakan Pemilwa ialah urusan mahasiswa seutuhnya. Buktiya masalah legalitas masih di tangan Rektorat.

Maka dengan ini, LPM ARENA merasa perlu untu mengambil sikap terkait kondisi Pemilwa yang semakin sengkarut. Karena itu, ARENA perlu menyatakan sikap kepada rektorat dan semua pihak yang terlibat dalam pemilwa. Sikap itu dengan:

  1. Mengutuk segala bentuk perilaku dan budaya anarki mahasiswa dalam Pemilwa!
  2. Rektorat wajib menyeret pihak yang berkonflik ke meja perundingan sebelum hari H Pemilwa!
  3. Rektorat bertanggungjawab memfasilitasi, mengawal, dan mensukseskan jalannya perundingan sampai ditemukan kesepakatan yang dapat direalisasikan!

 

Oleh: LPM ARENA

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of