Home - Di Balik Film “Sang Kiai”

Di Balik Film “Sang Kiai”

by lpm_arena
Print Friendly, PDF & Email

Masyarakat UIN antusias menyaksikan film "sang kyai", kemarin(30/31)

 

Lpmarena.com, Kamis(30/5), Badan Eksekutif Mahasswa(BEM) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga mengadakan acara Behind the Scene Hadratussyaikh “Sang Kiai”. Bertempat di Convention Hall lantai 1 UIN SUKA, acara ini dimulai pukul 11.00 WIB dan dihadiri oleh berbagai kalangan.

Turut pula hadir sebagai undangan H. Agus Sulistyo, selaku Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga sebagai DPR RI dari fraksi PKB, Rako Priyanto selaku sutradara dari film ini, Ayas Kasar dan Agus Kuncoro selaku pemain film ini, M. Rizal Qosim, selaku Pembantu Dekan Fakultas Syariah UIN bidang kemahasiswaan, dan beberapa tamu undangan lainnya.

Acara ini diawali dengan pembacaan Al-Qur’an oleh Ibnu Hibban dan kemudian dilanjutkan sambutan dari Rizal Qosim dan Agus Sulistyo. Rizal menceritakan sedikit kisah hidup seorang ulama besar, Hasyim Asyari. Dimana beliau pernah belajar selama tujuh tahun di luar negeri untuk mendalami ilmu agama. Kemudian ketika pulang ke Indonesia, beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebu Ireng di Jombang. Dan dilanjutkan dengan membentuk organisasi Nahdatul Ulama’(NU).

Hasyim Asyari merupakan salah satu tokoh nasional yang ikut andil dalam pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun banyak peran para ulama seperti beliau yang disembunyikan dan hampir dilupakan oleh generasi-generasi muda, ulama hanya dikenal sebagai seorang pengajar.

Sambutan kedua sekaligus pembukaan acara ini disampaikan oleh Agus Sulistyo. Dalam sambutannya ini, ia banyak menyebut  tentang peran PKB dalam khasanah Islam di Indonesia. Dewan Pengurus PKB menginstruksikan pada pengurus wilayah se-Indonesia agar bersama-sama menyaksikan film ini di bioskop. DPP PKB telah dapat menggratiskan dua gedung bioskop sekaligus, yaitu bioskop “21” (sebanyak 620 kursi puku 14.30 WIB) dan “Empire XX1”.

Ia juga mengajak para pengurus dan simpatisan PKB dalam menyiarkan ajaran NU dan meneruskan perjuangan-perjuangan para tokoh terdahulu, khususnya Hasyim Asyari. Di akhir sambutannya, ia mengucapkan terima kasih pada sutradara film ini dan membuka acara tersebut.

Memasuki acara inti, ada tiga narasumber yang ditampilkan, mereka adalah Rako Priyanto sutradara film “Sang Kiai”, seorang pemain film “Sang Kiai”, dan Fajar, salah seorang tokoh pemuda NU. Rako Priyanto mengungkapkan bahwa alasan ditampilkannya hadrayatussaikh dalam bentuk film adalah karena media ini paling mudah dimengerti dibandingkan dengan membaca buku. Selain mendapatkan pelajaran dari film itu, mengerti perjuangan ulama dalam membangun NKRI, penonton juga dapat merasa terhibur. Ia ingin memperkenalkan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin dan ia juga ingin membuat film yang berkualitas.

Fajar mengungkapkan bahwa ciri orang besar adalah suka pada orang besar. Siapa yang taklid pada kiai, Insya Allah akan selamat dunia akhirat. Hasyim Asyari pernah mengatakan bahwa Indonesia adalah negeri Islam, bukan negara Islam, Indonesia adalah darul Islam, tetapi darussalam. Artinya, umat Islam bebas beribadah dan umat lain juga bebas melaksanakan ibadahnya masing-masing. Beliau juga memberi dorongan agar Indonesia berdasarkan Pancasila. Hasyim Asyari berdakwah dengan menyatukan budaya sehingga bersifat santun dan toleran. Jika budaya dipisahkan dari agama, Islam menjadi kaku, mudah menyebut saudaranya kafir, syirik, bid’ah dan lain sebagainya.

Fajar juga menyebutkan bahwa kita berhutang budi pada  Hasyim Asyari, maka layak jika ada film yang mengangkat sejarah hidup beliau. Kita, khususnya mahasiswa, dapat meneladani perjuangan beliau dan dapat lebih mengenal beliau. Semoga kita menjadi golongan orang-orang yang sholeh.

Kendala dalam film ini yaitu susahnya menyesuaikan tempat, kostum, mimik para pemain karena setting yang diambil adalah pada tahun 1942-1947. Kostum yang digunakan berasal dari kain pada tahun ‘40an, tatapan mata para pemain juga harus dapat mencerminkan tatapan mata para tokoh pada tahun tersebut. Syuting film ini dilakukan Semarang dan di Pondok Kapurejo di Kediri, Jawa Timur.

Para peserta sangat antusias mengikuti acara ini walaupun banyak peserta yang harus duduk di lantai dan berdiri karena kursi telah penuh. Sekitar 50 pendatang pertama mendapatkan tiket gratis film ini. Di akhir acara, juga dibagikan doorprize berupa kaos dan tiket gratis bagi peserta yang dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh moderator.

“Harapan saya, nontonlah film ini”, ujar Rako Prayitno. (Ulufun Na’imah)

 

Editor : Folly Akbar