Sisi Lain Daulah Umayyah

Oleh : Usman Hadi *)

 

Judul Buku      : Sejarah Peradaban Islam-   Rekayasa Sejarah Daulah Bani Umayyah

Penulis             : Dr. Nurul Hak, M. Hum

Penerbit           : Gosyen Publishing

Terbit               : Cetakan Pertama, 2012

Tebal               : X + 154 hlm; 14 x 20 cm

ISBN               : 978-602-9018-28-8

 

Telah lekat pada khalayak umum, termasuk para sejarawan sendiri tentang citra negatif yang selalu ditempelkan jika mendengar dan mengkaji sejarah Daulah Bani Umayyah. Pemunculan citra ini bukan hanya dilontarkan oleh para sejarawan klasik, namun masih banyak sejarawan modern dan orientalis yang menggunakan presespsi negatif dalam memandang dinasti ini. Berbagai citra negatif tersebut digambarkan dalam berbagai kasus, yang kebanyakan menyudutkan mereka (Daulah Umayyah), tanpa melihat situasi real terkait dengan kondisi sosial-politik yang tentunya berbeda dengan masa sebelumnya.

Citra negatif tersebut diantaranya terkisahkan dari kasus Mu’awiyah Ibnu Abu Sufyan yang meracuni Hasan Ibnu Ali (Cucu nabi Muhammad SAW), yang sebelumnya telah berdamai lewat perjanjian tahkim sebagai pertanda berakhirnya konflik diantara mereka berdua. Namun kemudian Mu’awiyah meracuni Hasan guna menghilangkan pengaruhnya, serta mengurangi gerak pengikutnya yang senantiasa melawan pemerintahannya.

Lain lagi dengan kasus Hijr Ibnu ‘Adi, ia dibunuh oleh Mu’awiyah karena terdapat indikasi makar yang dilakukan oleh ia beserta pengikutnya. Namun kemudian banyak orang yang mempertanyakan kebenaran peristiwa tersebut, bahkan menuding Mu’awiyah secara arogan dalam menghukum rakyatnya yang belum jelas kesalahanya. Isu inipun mencuat dan digembor-gemborkan oleh lawan politik Mu’awiyah (terutama golongan syi’ah) untuk menurunkan kredibilitas pemerintah di hadapan rakyatnya.

Para pemimpin Daulah Umayyah juga selama ini dicitrakan sebagai pemimpin yang bengis dan kejam, hampir semua khalifah dipandang jelak karena tingkah dan hidupnya yang bermewah-mewah, suka minum arak, bahkan ada khalifah yang dikatakan suka mengoleksi budak wanita. Hanya khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz yang digambarkan sebagai kholifah yang alim, atau paling tidak terhindar dari citra negatif, berkebalikan dari kholifah yang lainya.

Baca juga  Kitab Suci Pembaca Berita

Tak berhenti disitu, citra negatif terhadap dinasti ini juga terlihat dari peristiwa di Karballa. Yang mana Husain Ibnu Ali (Saudara Hasan) mati terbunuh dengan tragis, kepalanya dipenggal, peristiwa tersebut terjadi pada masa pemerintahan Yazid Ibnu Mu’awiyah. Kebengisan daulah ini juga tersirat dari peristiwa penyerangan ke Mekkah serta Madinah yang dilakukan oleh tentara Yazid.Dan sebelumnya ia menghalalkan kepada tentaranya untuk melakukan segala hal jika rakyat Mekkah dan Madinah melawan, keputusan inilah yang kemudian menyebabkan tentara Yazid menyerang kedua kota ini dengan brutal tanpa manusiawi.

Sekarang ini berbagai citra negatif diatas telah terpatri kuat di dalam khalayak umum dan dianggap sebagai sebuah kebenaran sejarah, bahkan tak sedikit para sejarawan sendiribegitu pula dengan sejarawan muslim yang menyakini hal ini.

Buku “Sejarah Peradaban Islam-Rekayasa Sejarah Daulah Bani Umayyah” ini hadir guna memberikan prespektif yang berbeda, dan mencoba memberikan pandangan lain. Buku ini mencoba membedah rekonstruksi sejarah Islam Bani Umayyah dengan lebih kritis dari prespektif historis, historiografis, maupun metodologis.

Buku ini mencoba hadir untuk membongkar bias dan kekeliuran dalam pencitraan negatif yang selalu disandarkan kepada daulah ini, serta mencoba meletakkan kajian sejarahnya kepada konteksnya, dengan mempetakan kondisi politik, sosial-kultur antara masa Daulah Umayyah dengan masa sebelumnya (al-Khulafaurrasidun) maupun masa sesudahnya (Daulah Bani Abbasiyah), serta memmandang secara cermat rivalitas politik antara Daulah Umayyah dengan para pembangkangnya sehingga kemudian muncul cita negatif. Semisal rivalitas antara Daulah Bani Umayyah dengan kelompok Syi’ah dan kaum Hasyimiyah (cikal bekal dinasti Abassiyah). Padahal penulisan berbagai ilmu termasuk kesejarahan mulai dibukukan secara resmi pada masa Abbasiyah, maka sangat dimungkinkan rekonstruksi sejarah Islam awal sangat sarat akan kepentingan penguasa Abbasiyah.

Baca juga  Dead Poets Society: Membebaskan Diri dengan Puisi

Buku ini juga memcoba memaparkan berbagai fakta pencitraan negatif sebagai rekayasa sejarah, selain sebagai problem rekonstruksi dan metodologi sejarah. Kritik sumber juga menjadi acuan dalam buku ini, dengan mencoba mengkaji serawan muslim awal disertai dengan pencarian latar belakangnya, kemudian di kaitkan dengan faktor internal serta eksternal para sejarawan yang merekonstruksi pencitraan negatif tersebut.

Tawaran alternatif juga terdapat dalam buku ini, dengan menawarkan aspek konteks kesejarahanya. Kerena dengan demikian, pandangan kita tentang sejarah Daulah Umayyah lebih objektif dengan membandingkan proses peradabanya.

Denganmemandang kritis kesejarahan, diharapkan kita dapat membedakan yang mana fakta sejarah dan yang mana konstruksi sejarah. Fakta sejarah itu merupanan esensi akan sebuah peristiwa yang diperoleh dari sumber tulis maupun lisan, dan fakta sejarah selalu bersifat obyektif.Sementarakonstruksi sejarah selalu berupa tulisan yang umumnya bersifat subyektif, karena sejarawan sendiri selalu dipengaruhi oleh faktor internal-serta eksternal dalam setiap penulisanya.

Buku ini juga tak lepas dari kekurangan, diantaranya masih banyak dijumpai kesalahan dalam penuliasan kata. Penggunaan kata-kata yang jarang digunakan juga menjadi kendala tersendiri bagi khalayak pembaca yang tak tau artinya. Meski demikian, buku ini tetaplah penting. Bahkan setiap orang bergelut di dunia kesejarahan, terutama sejarah Islam, maka wajib memiliki buku ini. Guna memberikan cara pandang yang berbeda, atas berbagai citra negatif yang selalu dilekatkan kepada Daulah Bani Umayyah. (Usman Hadi)

*) Penulis adalah mahasiswa jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Semester IV

 

Komentar

komentar

Related posts

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of