Home - Tradisi di Masyarakat Minim Perhatian Pemerintah

Tradisi di Masyarakat Minim Perhatian Pemerintah

by lpm_arena
Print Friendly, PDF & Email

Berbagai stan ikut meramaikan pamera Literasi dan Budaya ini.

 

Prodi IP melakukan pameran Literasi dan Budaya.

lpmarena.com, Indonesia memang kaya dengan tradisi. Namun aneka ragam tradisi tersebut sangat minim publikasi dan tidak ada dukungan dari pemerintah. Hal itulah yang melatarbelakangi mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi yang membuka stan dengan berbagai nama, sesuai dengan tradisi yang mereka perkenalkan dalam Pameran Literasi dan Budaya, Senin (10/6) hingga Selasa (11/6) di Lobi Perpustakaan UIN Suka.

Hal tersebut seperti yang dituturkan Heni, di tengah-tengah kesibukannya menjelaskan tradisi yang diangkatnya kepada para pengunjung stand. Heni dan teman-teman kelompoknya mengangkat tradisi Merti Dusun Krebet. Tradisi tersebut merupakan tradisi syukuran yang ada di dusun Krebet, Bantul. Merti sendiri bermakna bersih-bersih. Hal ini dimaksudkan karena masyarakat dusun setempat telah panen pohon yang ia tanam. Oleh karenanya, tak heran jika dusun Krebet merupakan dusun penghasil kerajinan tangan dari kayu.

“Sebenarnya di sana bagus, cuma kurang promosi aja. Makanya kita juga bantu mempromosikan hasil kerajinan di sana,” tutur Heni. Pihaknya juga mengimbuhkan bahwa akses ke lokasi setempat sangat sulit. Dan hal ini menyebabkan daerah potensial tersebut cukup terisolir.

Faizar Noor, mahasiswa IPI lainnya yang membuka stan Reog Resi Bismo Dewabrata juga mengungkapkan keprihatinan senada. Pihaknya menuturkan, tradisi yang diangkatnya yang berasal dari dusun Talkondo, Poncosari, Srandakan, Bantul tersebut kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

“Setiap tahun mereka pasti tampil. Paling tidak, satu tahun satu kali. Tapi itu dengan biaya sendiri. Setiap kali tampil paling tidak habis sembilan juta”, tuturnya. Dia juga menambahkan bahwa para penggiat Reog Resi Bismo Dewabrata  yang tergabung dalam satu sanggar tersebut hingga hari ini masih belum memiliki kostum.

“Setiap mereka tampil, kostumnya nyewa. Dan masing-masing orang itu habis 70 ribu rupiah,” imbuhnya. [Noer Hasanatul Hafshaniyah]

Editor : Folly Akbar