Home SASTRAPUISI Puisi-puisi La_cundekke

Puisi-puisi La_cundekke

by lpm_arena
Print Friendly, PDF & Email

Oleh : La_Cundekke

Panorama Waktu

Aku lemparkan tubuhku dalam lautan kesunyian yang menggigilkan rupa keberadaanku. Dengan kedalaman lautan tak bertepi. Harihari menjadi lipatan waktu yang tak tersentuh alam pikir, menelan segala kenang masa lalu: masa kanak-kanak. Digilas oleh panorama waktu yang menjelma mitos sejarah. Kumasuki negeri asing, dengan sunyi yang diam-diam, kutemukan wajahku yang tak serupa dengan wajahku. Oh, alangkah asingnya wajah ini!

Kupotong wajah itu dengan pisau perantuan, lalu kuambil wajah itu kumasukkan dalam celah-celah wajahku untuk melangkapi elok rupaku, tapi tak jadi-jadi juga. Di karang-karang kutemukan mata penuh api membakar, melelehkan kepala. Oh, alangkah pedihnya tubuh ini!

Pernah sekali kau ulurkan tali halus: sehalus sutra. Tubuhku tak bisa terjamah oleh seutas tali; ia liar, buas dan kejam! Jangan kau sentuh tubuh yang liar ini. biarlah ia pada pengasingannya sediri.

Dan tak punya tubuh, dan tak punya kaki, dan tak punya tangan. Kurenangi laut, kupanjat sejarah yang melilit pada waktu. Api itu terus membakar hatiku. Sakitkah? Pedihkah? Kematian? Surga? Neraka? Atau taman cinta?

Diselah-salah gelap malam kutemukan tubuh kemerdekaan telah menjadi bangkai kenagan masa silam, baunya sangat menyengat para pujangga yang lalu-lalang dipersimpangan kiri jalan, tergelatak pada huruf-huruf air mata. Kupikir aku bisa merengkainya dengan hati yang tulus dan kerja keras.

Api itu terus menjilati tubuhku, perlahan lahan juga menjilati tubuhmu. Sampai semua sirna menjadi abu yang dengan sederhana diterbangkan oleh angin.

Oh, tubuh. Oh, kemerdekaan! Alangkah malang nasibmu.

Yogyakarta; juni 2013

 

Begitulah Waktu Memahat Hidup

Lihatlah! Kita telah melakukan perlawanan. Oh, betapa hebatnya kita dengan wajah yang tampak tolol, memainkan pedang waktu, seolah tak mengenal lelah dan putus asa dan kematian! Layaknya kita menyerupai pahlawan dungu atau pahlawan kesiangan. Mencari musuh pada bayang-bayang kemerdekaan. Tapi, lihatlah! Kita selalu kalah. Kita kalah, semangat membeku bersama irisan waktu!.

Kita hanya mengejar angan utuk sekedar meracik tanda bahwa kita belum merdeka. Tanda yang tak pernah tersampaikan. Kita yang meracik tanda, kita yang membacanya, olehnya itu kita pulalah yang mengertinya. Seperti orang gila menghitung tetes hujan yang jatuh ke bumi.

Kita telah merasa mampu melakukan segalanya, dengan suara yang lantang dan kepalan tangan kiri keatas. Terik matahari menjadi ujian. Tapi matahari tak punya telinga tuk mendengar suara. Dan kita tatap begini adanya; tak punya apa-apa. Orang bilang kita telah gila. Dan kita begitu merasa yatim piatu.

Kita kian terasing dari kata-kata dan segalanya, kita terseok dan terpuruk dan bungkam mengikuti waktu tapi waktu tak lagi peduli serta dunia semakin pudar. Kita menjadi terdakwa dari sejarah yang adil. Oh, alangkah tololnya.

Dan begitulah waktu memahat hidup

Menulis nasib.

Yogyakarta 08 Jun. 13

 

Sibuta Dari Negeri Asing

Aku lebih gelap dari malam, tak mampu melihat kebaikan dan kejahatan, atau aku berada diantara keduanya; adalah kebaikan dan kejahatan. Berikan aku hatimu menuju cahaya cintamu. Akulah sibuta dari negeri asing. Melangkah ragu menuju persimpangan antara masa lalu dan masa depan, menyusuri gelap dan terang. Yang ada hanya warna kelam yang berlapis-lapis dan selebihnya adalah waktu.

Sesekali aku ingin memanjat matahari mengintip tuhan semedi pada tempat persembunyiannya. Yang kulihat hanya sekelompok manusia tak berwajah sedang bermain kelereng. Kemana tuhan? Aku ingin mengambil matanya. Dimana tempat semedinya? Ah, tuhan tak ada, pun semedi tak ada.

Aduh, saat itu aku ambil matahari, lalu kutempelkan pada mataku untuk melihat malam. Tapi tak juga aku bisa menyantuh malam, hanya sesekali malam titip salam pada senja. Mataku meleleh, dan badanku dan jantungku. Inilah aku yang hanya menghamba pada bayangan kesunyian.

Sebelum semua rahasia terungkap dan tak ada lagi yang bisa dirahasiakan. Berikan aku cahayamu dan buat saya tak bisa hidup dan tak bisa mati!

Yogyakarta 09 Jun. 13