Reog Talkondo Minta Perhatian Pemerintah

Masyarakat Poncosari, Bantul bahu-membahu melestarikan Reog Talkondo

 

 

Reog Talkondo menjadi salah satu kekayaan budaya Indonesia.

lpmarena.com, Kesenian budaya di jaman sekarang sudah sangat memprihatinkan, sebagian besar para generasi muda tidak lagi meneruskan sebuah warisan apalagi mengembangkannya. Pemerintah yang semestinya membentengi kekayaan budaya pun tidak mampu berbuat banyak.

Hal ini sejalan dengan pemikiran masyarakat Talkondo, Poncosari, Kec. Srandakan, Kab. Bantul. Mereka memiiki Sebuah kesenian reog yang sampai sekarang masih di pertahankan.” Masyarakat masih mempertahankan kesenian ini karena sudah turun-temurun serta daya solidariras masyarakat sangat tinggi terkait kesenian,” ujar Faizar selaku peserta pameran yang mengusung Reog Talkondo.

Reog Talkondo menjadi salah satu peserta dalam diskusi bertemakan “ Mendokumentasikan Moral Trasitision” yang diselenggarakan mahasiswa Ilmu Perpustakaan di Lobi perpustakaan UIN Suka, kemarin (10-11/06).

Faizar menambahkan jika Reog Talkondo memiliki nama beken Reog Resmi Bisma Dewabrata. Reog yang sudah berdiri dari tahun 1976 ,sampai sekarang belum sekalipun mendapatkan perhatian dari pemerintah, baik pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat.

Dengan segala keterbatasanya, mereka masih tetap mempertahankan kesenian ini. Setiap pementasan para pemain bukan hanya waktu, tenaga, dan fikiran yang mereka pertaruhkan, namun uang juga harus mereka keluarkan demi terlaksananya sebuah pementasan reog.

“Setiap pemain kurang lebih mengeluarkan uang sebesar 75 ribu untuk biaya sewa kostum, make-up dll, hal ini masih mereka pertahankan karena sebagai sebuah warisan”, imbuh Faizar.

“Harapan kami dengan adanya kegiatan seperti ini menambah daya tarik masyarakat terkait pentingnya sebuah kebudayaan sebagai salah satunya kebudayaan Reog Talkondo di Bantul. Serta harapan besar kami semoga dengan adanya pameran kesenian tradision ini dapat mengugah pemerintah untuk berpartisipasi di dalamnya”, ucap Faizar dengan penuh harap. (Dedik Dwi Prihatmoko)

Baca juga  KeMPeD UIN Suka Rembuk Alih Fungsi Lahan Bersama Petani

Editor : Folly Akbar

 

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of