Lilin dan Api

Oleh: Dhedhe Lotus

“Aku memang tak penting lagi” kata lilin kepada api yang membakar tubuhnya. Nampaknya ia memang bosan dan mengutuk kehidupan yang menjadikannya sebagai sesuatu yang dikorbankan, ia putus asa. Tapi api yang diajak bicara tak menjawab apa-apa, ia serba salah, api berfikir kalau ia hidup memang ditakdirkan untuk menghabisi, tapi bukankah dengan cara seperti itu sebuah lilin memiliki eksistensi? api bingung dan akhirnya menjawab “lin, sebenarnya siapa yang tidak bisa menghadirkan siapa? aku, kamu atau kita? kita ditakdirkan untuk bertemu, memang aku panas dan membuatmu meleleh tapi bukankah jika tak ada aku, kamu tak ada?” jawab api dengan gusar. Beberapa jenak mereka terdiam, tapi masih saling melengkapi seperti sedia kala, api masih menyala dan lilin masih menghabisi tubuhnya, hanya saja cahaya yang mereka hasilkan sedikit meredup.

“Iya, memang benar apa yang kamu katakan. Aku memang bukan siapa-siapa tanpa kamu, tapipun sebaliknya kamu tidak akan menjadi apa-apa tanpa sumbu dari tubuhku” jawab lilin marah.

“Ouh tidak. Kamu salah jika beranggapan demikian, aku bisa saja memanaskan diri dan membakar apapun. Aku adalah penguasa, aku bisa menghabisi manusia, rumah, hutan, dan apapun yang aku mau. Tapi lihat, lihat dirimu? Kamu adalah sosok lemah yang tak bisa menjadi apa-apa tanpa adanya aku” begitulah api terus mencerca lilin tak habis-habisnya. Lilin sedih, “apa yang dikatakan oleh api memang benar, aku memang sosok yang lemah dan tak berguna apa-apa, bahkan untuk hidup saja aku harus tergantung dengan api, mungkin lebih baik aku memadamkan diri” runtuk lilin putus asa, ia terus meredup, bingung menentukan opsi. Ia di beri dua pilihan yang sama-sama berat, memilih terus bertahan tapi menyakitkan atau kalah tanpa menjadi apa-apa. Sebuah pilihan yang dilematis.

Pada akhirya lilin memutuskan untuk bertahan dan terus merelakan tubuhnya tebakar oleh api. Namun meski lilin tetap memilih untuk bertahan, cahaya yang mereka hasilkan meredup dan tubuh lilin habis, terbakar. Rupanya, ketidakrelaan itu membuat lilin lebih cepat menemui ajal. Ia mati lebih cepat dari yang digariskan kehidupan. Begitupun dengan yang terjadi pada api, dia ikut mati, meski hanya mati suri sampai ia menemukan kembali inang yang tepat untuk menyandarkan kehidupannya.

Masih adakah pihak lain yang belum diceritakan? Ya, masih.

Diantara api dan lilin, ternyata ada pihak ketiga yang luput untuk dikisahkan. Ia adalah angin, terkadang ia berfungsi untuk menjaga api agar tak padam, tapi ia juga berfungsi mematikan. Begitupun bagi lilin, terkadang angin menyelamatkannya kala lilin lelah bertugas, kala ia ingin memperpanjang umurnya tapi terkadang angin memperkosa lilin yang memadamkannya saat itu juga meski ia sedang menikmati hangatnya api.  Lalu dimana posisi angin yang sebenarnya? Jawabannya ada dikeduanya, baik lilin maupun api. Bukan secara substansinya sebagai angin, namun makna dari angin itu sendiri.

Anggaplah angin itu seperti perasaan. Terkadang kita butuh berkompromi, butuh sebuah dialektika. Baik api dan lilin sebagai pribadi, atau interaksi antar keduanya. Api dan lilin, lilin dan api, sebuah entitas yang saling melengkapi sesungguhnya, namun kenapa harus berakhir dengan sebuah kenaasan?

“mereka tak menghadirkan aku” ungkap angin menyesal setelah menyaksikan keduanya lenyap. “mereka hanya memikirkan diri sendiri, api memikirkan dirinya sebagai api dan merasa paling berkuasa, merasa paling hebat sehingga layak untuk mendominasi lilin, sedangkan lilin juga tak beda jauh, ia merasa tugasnya disepelekan. Lilin mengakui jika ia memang ditakdirkan untuk menjemput kematian itu sendiri, tapi itu sebuah tugas mulia yang ia emban, lilin itu suci, ia rela membakar tubuhnya untuk sebuah penerangan, namun lilin merasa terkhianati ketika api mengklaim bahwa dialah yang paling berjasa dari adanya penerangaan. Api sombong dan terlalu berbangga diri sehingga lilin merasa berat untuk meneruskan perjuangannya, walhasil lilin mati lebih cepat” gerutu angin kemudian.

“Andai mereka menghadirkan aku dalam diri mereka, ini semua tak akan terjadi” ungkap angin kembali menyesali. “Tapi apa mau dikata, ini semua telah terjadi” sesalnya untuk kesekian kali. Angin kemudian pergi dengan sekali hempasan. “wushszz”, ia pun tak ada lagi. Entah mati, entah kepergian yang tak pernah kembali.

***

Ini memang hanya sebuah cerita sederhana, hanya cermin kecil dari banyak hal yang kita lalui. Lalu apa yang kita dapatkan? Ini bukan soal peperangan antar negara, atau yang lebih besar lagi peperangan antar agama semacam crusade. Bukan, bukan itu. Ini hanya sedikit hal tentang kita: Aku, kamu, dan kita sebagai Arena.

Api itu Arena, dan lilin adalah awak Arena sedangkan angin adalah culture yang kita bangun. Mereka akan saling melengkapi jika saling megerti, saling membuang ego dan saling mengakui kehadiran masing-masing. Karena ini penting, meski tak kasat mata –terkesan moralis ya? Semoga saja tidak-  Begitupun, mengakui saja tidak cukup, kita butuh menghadirkan culture yang saling memenangkan satu sama lain, ”double winer”, aku menang karena aku memenangkan kamu bukan aku menang dan kamu aku kalahkan, karena meski kita berkompetensi, kita terikat dalam satu wadah yang harus kita dahulukan. Dan wadah itu bernama Arena, bisakah? Atau kita sama-sama mati -mungkin itu lebih baik karena kita sama-sama tersakiti- namun jika hanya salah satu yang mati, yang menang menjadi pemenang karena ada yang terkalahkan, sedang yang hidup akan tetap hidup dengan cacat sejarah, meski lebih sering tak nampak.

Ada atau tidaknya, diakui atau tidak terserah author mempersepsikannya. Salam, semoga bermanfaat.

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of