275 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Ayo sekolah, kembali ke sekolah

Mungkin itulah kata yang tepat untuk diteriakkan kembali ke mahasiswa UIN saat ini. Setelah melewati “masa perang” kesekian kalinya, tentu kita akan kembali menjalani aktivitas orisinil kita, belajar. Masa perang yang kami maksud adalah Pemilwa (Pemilihan Umum Mahasiswa) yang diselingi “iklan”, polemik kenaikan BBM.  Masa perang tersebut telah dipaksa berakhir dengan adanya Presma baru dan pengetokan palu “BBM naik”. Lalu apa agenda terdekat yang harus dilakukan mahasiswa? Tidak bukan dan tidak lain adalah kembali ke sekolah (kampus).

Ada dua agenda besar untuk mahasiswa saat ini. KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru). Dua agenda ini sebenarnya adalah sebagai enrich and enrich by other, saling memperkaya atau bisa juga disebut gali lubang tutup lubang. Mengapa demikian? Dengan adanya KKN, mengindikasikan bahwa sebentar lagi akan banyak mahasiswa yang paripurna tugas di UIN, lulus (wisuda). Dan tentu ini akan mengurangi jumlah mahasiswa dalam kampus. Untuk mengantisipasi itu, diadakanlah PMB, untuk di didik dan dikonstruk (kalau perlu) menjadi “mahasiswa” menggantikan para veteran (mahasiswa lama/lulus). Mahasiswa baru menjadi obyek baru indoktrinasi bagi mahasiswa lama, dan mahasiswa lama menjadi “begawan sekaligus referensi” bagi Mahasiswa baru dalam menjalani status terbaruya, menjadi mahasiswa.

Fenomena ini (KKN dan PMB), jikalau dipandang dari sisi ekonomis, merupakan masa panen. Panen yang melimpah ruah, gemah ripah loh jinawi tentunya. Setiap sektor di UIN mendapatkan modal baru dengan adanya dua agenda besar ini. Betapa tidak, ambil contoh pada sektor kesehatan, poliklinik. Rumah sakit-nya UIN ini mendapatkan modal dengan banyaknya mahasiswa (lama dan baru) melakukan “cek kesehatan” dengan berbagai alasan. Per item diharuskan memberikan upeti , setidaknya Rp 7.500,00 (cek kesehatan) dan Rp 10.000,00 (untuk cek darah). Bayangkan, nominal itu dikalikan jumlah mahasiswa baru dan jumlah mahasiswa yang KKN. Sudah berapa? Puluhan bahkan ratusan juta mungkin. Kemana mengalirnya dana itu? Jawabannya satu : tanyakan ke pihak yang berwenang (poliklinik).

Dialektika masyarakat UIN selama ini mengalami semacam dis-orientasi. Dis-orientasi pada wilayah penafsiran/pemahaman, salah satunya di konteks KKN dan Maba. Bagi sebagian mahasiswa, KKN hanya dipandang sebagai ‘PR’ yang harus dikerjakan, dikumpulkan, dikoreksi dan berujung pada nilai. Jikalau ada apresiasi tambahan, dapat berwujud “kamu mahasiswa pandai, kamu lulus KKN, kamu mahasiswa rajin”. KKN seharusnya dipandang sebagai “warming up” untuk terjun langsung ke masyarakat setelah lulus. Bukankah sebagian dari kita senang melabeli mahasiswa sebagai agen of change? Kalau tidak melakukan pembenahan dan perubahan dalam masyarakat, lalu mau dikemanakan label tersebut. KKN menjadi perjumpaan awal mahasiswa dengan realita dan permasalahan dalam masyarakat. Dari sini, mahasiswa dituntut untuk peka, sadar, mengerti, paham dan menemukan jurus untuk menghadapi realita tersebut. Namun, sepertinya hanya sebagian kecil mahasiswa yang melaksanakan konsep ini. Yang ada pemaknaan KKN sama seperti yang ada pada terminologi politik. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Kongkalikong antara mahasiswa, warga tempat KKN, dosen pembimbing dan dosen penguji untuk mendapatkan nilai dan apresiasi. Nilai dan apresiasi inilah yang menjadi sumber semangat dan tujuan akhir mahasiswa, student are motivied solely by values and appreciation.

Sedangkan untuk mahasiswa baru, seharusnya mereka dididik dengan benar. Dia harus menjadi “pemain cadangan” jikalau pemain inti saat ini (mahasiswa lama) gagal menjadikan dirinya sebagai agen of change. Mahasiswa baru jangan hanya dipandang sebagai obyek mati, obyek yang bisa dikonstruk total dan dieksploitasi tanpa adanya perlawanan. Mahasiswa baru tentu mempunyai basic skill yang perlu dikawal, dibimbing, dididik dan diarahkan ke jalan yang sepantasnya. Mahasiswa baru jangan diposisikan sebagai “sapi perah” yang darinya kita mendapatkan keuntungan mutlak. Menguntungkan di sector ekonomi, dijadikan massa organisasi dan dijadikan obyek untuk menunjukkan “ke-Aku-an dan ke-Kita-an”. Kalau seperti ini, apa bedanya kita dengan pasien di rumah sakit jiwa? Menggunakan orang lain untuk mengukur dan mengkostruk diri kita sendiri. Kita mengatakan mereka perlu dididik dengan metode yang kita miliki, padahal ini semua hanya sebagai “uji coba” terhadap metode kita sendiri.

Intinya, dalam menyambut agenda besar ini, kita harus lebih menjernihkan otak, hati dan tindakan. Jikalau boleh meminjam istilah salah satu jargon sebuah lembaga pendidikan di Jogja, harus ada harmonizing heart, head and hand. Jikalau dapat melakukan hal ini, kita dipastikan akan dapat menyelam ke dalam dasar pemahaman sesungguhnya agenda-agenda besar ini. Dan akan terhindar dari pemahaman yang hanya berada di permukaan. Pemahaman dangkal yang hanya tahu luarnya. Pemahaman yang hanya berada di tataran opini, tidak sampai ke hati nurani.

Ayo sekolah, ayo belajar, sekolah yang benar dan belajar yang benar tentunya !(Pongge Gugux)