Miris

lpmarena.com, Kesibukan kebanyakan mahasiswa di kampus kita hari-hari ini sedikit berbeda. Bagaimana tidak, setiap mahasiswa saling sibuk mempersiapkan diri untuk Ujian. Ya, Ujian Akhir Semester (UAS), ujian yang hanya berlangsung beberapa pekan yang menentukan berhasil tidaknya study kita di satu semester penuh ini. Melihat realitas demikian, maka tak ayal kebanyakan mahasiswa sedang hobi-hobinya menyibukkan diri dengan tumpukan buku-buku, ataupun materi pembelajaran yang bapak/ibu dosen berikan sewaktu di kelas.

Keseriusan mahasiswa dalam menghadapi ujian tergambarkan dari berbagai aktifitas mahasiwa di setiap sudut kampus akhir-akhir ini. Diskusi-diskusi kecil yang marak dan menjamur, seperti diskusi-diskusi kelas yang diisi dengan mereview ulang berbagai materi-materi kuliah. Tak hanya itu, aktifitas mahasiswa yang menenteng dan menerawangi buku sangat mudah dijumpai diberbagai sudut-sudut fakultas.

Sungguh pemandangan yang sangat menyegarkan mata, dan seakan keadaan ini menggambarkan kita benar-benar menjadi mahasiswa. Ya, mahasiswa yang kaya wacana, kaya gagasan serta ide.

Namun kondisi ini seakan terbalik 180 derajat. Bagaimana tidak, kondisi demikian sangat sukar dijumpai di waktu-waktu biasa, sehingga tak heran kalau kawan saya pun berceletuk “, seandainya mahasiswa UIN setiap hari seperti ini!”. Ungkapan yang sangat mengena dan penuh harap, ungkapan yang menggabarkan bagaimana kondisi mahasiswa UIN saat ini, yang giat belajar, menggeluti buku-buku, dan juga berdiskusi. Tapi sayang, hal itu hanya terjadi pada moment-moment tertentu (ujian). Sementara diwaktu-waktu biasa? Bersembunyi dimanakah kalian semua kawan?

SKS, Sistem Kebut Semalam. Begitulah kiranya yang terlihat wajar ditelinga, dan seakan sistem ini tumbuh subur seakan melegalkan diri ditiap-tiap kepala mahasiswa. Miris, begitulah kiranya kata-kata yang terlontar, ketika mendapati aku, kamu, dia, kita, kalian, dan mereka yang mangatasnamakan mahasiswa namun sejatinya malah mencederai wajah mahasiswa, karena tindak tanduk kita dalam menyikapi keilmuan, apalagi ujian!

Baca juga  Mughits: Percepat UAS Sebatas Saran, Bukan Instruksi

Kami-kah, atau Sistem?

“Realitaslah yang membentuk rasio, bukan rasio yang membentuk realitas”, begitu kata orang bijak. Melihat kondisi mahasiswa demikian, pertanyaan di kepalapun muncul, betulkah sistem yang membetuk rasio (Sistem Kebut Semalam) seperti ini?

Kami-pun mempertanyakan kembali tujuan serta harapan apa yang para pemangku kursi di rektorat dan para dosen kehendaki dari kami. Apakah benar kalian menghendaki mahasiswanya seperti ini. Bukankah para dosen sewaktu di kelas selalu menekankan pada kami untuk mendalami setiap study keilmuan, kemudian diimplementasikan sebagai wujud pengabdian kepada rakyat. Lantas dimanakah nilai sadar sebagaimana yang amanahkan dalam undang-undang  dapat kami peroleh. Sementara sistem yang di bangun mengarahkan kami untuk berprilaku demikian. Lantas dapatkah kami mendapatkan nilai sadar jika sistem yang dibangun membuat kami berprilaku seperti ini, tidakhah kalian juga miris bapak/ibu dosen?. usman.hadi28@yahoo.com

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of