Mabuk

Awal tahun 2009 saya pernah menyimak sebuah berita yang mengabarkan bahwa rumah sakit di kota Sentani dan Jayapura penuh. Ruang inap Rumah sakit disesaki pasien korban kecelakaan.

Saat itu tahun baru, kecelakaan banyak terjadi karena masyarakat berkendara ugal-ugalan, terutama pemuda asli. Biasanya sambil mabuk. Jumlah  pasien meningkat drastis didorong  banyaknya masyarakat yang mengadakan pesta perayaan Natal dan tahun baru. Banyak pesta, otomatis banyak yang mabuk. Mabuk, berkendara sembarangan,dan akhirnya terpaksa diinapkan di ruang inap rumah sakit.

Telah menjaadi kebiasaan masyarakat Sentani dan kota-kota lain di Papua merayakan Natal dan tahun baru. Maklum saja, sebagian besar masyarakatnya beragama Kristen. Menjelang perayaan Natal sebagian besar masyarakat akan gegap gempita menghias rumah dan gereja mereka. Swalayan menggelar diskon besar-besaran, tak ubahnya menjelang lebaran di sini.

Begitulah media nasional memandang masyarakat  Papua. Mungkin juga saya, kita, orang Jawa, Sumatra, Kalimantan dan daerah lainnya. Meskipun berdasarkan pada kondisi riil, stereotip yang tertanam dalam fikiran kita telah beku pada konsep “kita” dan “mereka.”

“Kita” yang beradab, berpengetahuan, maju dan memahami kehidupan dengan lebih baik. Mereka yang primitif, tradisional, kolot, terbelakang dan tak tahu perkembangan. Seolah ingin menguasai Papua dengan definisi-definisi tentang mereka.

Tak mau kalah, merespon hal tersebut mereka pun balik mendefinisikan,“kulit putih-rambut lurus.” Mungkin benar yang disampaikan Foucault, intelektual Prancis itu, setiap “kekuasaan” terkandung resistensi di dalamnya. Itulah barangkali bentuk resistensi yang Papua gulirkan. Gerakan yang lebih konkret bisa kita saksikan dari adanya Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan “protes” masyarakat Papua yang berdomisili di daerah Jawa dan sekitarnya.

Melalui OPM, mereka menuntut kemerdekaan Papua, lepas dari Indonesia. Bahkan atribut bendera “bintang kejora” dan lagu kebangsaan telah dibuat. Dengan menolak pembangunan ekonomi dan modernitas, mereka ingin hidup dengan caranya sendiri. Pemandangan serupa juga mudah kita temukan pada perilaku orang Papua di jawa, dan kota besar lainnya. Mereka “protes”, berontak pada tatanan.

Baca juga  Aksi Tuntut Nasionalisasi Freeport

Dan sekali lagi kita akan mendefinisikan “mereka”; separatis, pemberontak, tak tahu terima kasih. Kita yang selama ini mengagungkan Negara kesatuan Indonesia dan kesamaan nasib akan memandang sinis hal ini. Stereotip kembali muncul, “kita” dan “mereka.”

Seolah kita, sebagai bangsa Indonesia telah “mabuk” persatuan. Sebab “mabuk”, tanpa sadar kita menabrak tatanan, ugal-ugalan mendefinisikan sesuatu. Kita bertindak seolah sebagai penguasa Negara, baik-buruk kita formulakan, moral-amoral kita tetapkan lalu kita paksakan untuk “mereka” telan.

Saya membayangkan, barangkali beginilah pola pikir masyarakat Belanda dulu sewaktu melihat Hindia (Indonesia) abad 16 M. Sebagai bangsa yang terbelakang, primitif, bodoh tak bisa mengatur masyarakatnya sendiri, kaya sumber daya alam tapi tak mampu mengolahnya, mempunyai potensi masyarakat yang besar tapi tak bisa memanfaatkannya.

Muncullah niat baik Belanda untuk mendidik Hindia menjadi lebih maju dan “beradab”. Sungguh mulia niat Kolonialisme Eropa pada awalnya. Untuk mengkapitalisasikan masyarakat penjuru dunia, menjadikan sama derajatnya dengan Eropa sebagai partner kerja dan berdagang.

Sayangnya, karena penghasilan dan segala kenikmatan yang didapat dari Hindia, Belanda pun “mabuk”, lupa akan niat baiknya. Kemudian mengekploitasi kekayaan alam Hindia habis-habisan. Menjadikan masyarakatnya budak dan menginjak-injak martabat manusianya. Ketika muncul resistensi dari masyarakat pribumi, Belanda menjawabnya dengan militer beserta senjata canggih.

Dengan menelaah “kita”, melihat Freeport, serta menyimak prilaku Militer atas Papua, saya membayangkan Daendels, memandang kondisi Hindia, sambil meneguk anggur  khas Belanda. @jamaludin_ahmd

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of