Liputan Panjang Investigasi Skandal Pajak

Para peserta menyimak dengan baik apa yang dipaparkan pemateri dalam peluncuran buku "Saksi Kunci", di Fisipol UGM amis lalu(25/07).

 

Lpmarena.com, Jangan memonopoli kebenaran. Kita harus selalu mencari kebenaran.

Begitulah pesan dari Goenawan Mohammad kepada Metta Dharmasaputra dalam proses investigasi kasus Asian Agri. Selama kurang lebih 6 tahun, ia berhasil mengungkap kasus skandal pajak terbesar di Indonesia.

Selama proses investigasinya, wartawan Tempo ini akhirnya meluncurkan buku yang berjudul “Saksi Kunci, kisah nyata perburuan Vincent, pembocor rahasia pajak Asian Agri Group”.

Dalam acara peluncuran buku yang bertempat di Fakultas Sosial dan Politik UGM pada Kamis (25/7) lalu, ia mengatakan jika awalnya ia tidak menyangka dapat melakukan investigasi ini. Ia tak paham dengan data-data ruwet yang disuguhkan Vincent kepadanya. Namun ia mengaku, seorang wartawan harus mampu menerjemahkan data menjadi mudah dimengerti pembaca.

Fokus liputan investigasinya ialah manipulasi pajak Asian Agri tahun 2002 hingga 2005 yang merugikan negara sebanyak Rp. 1,1 Triliun. Modus umumnya, menekan biaya pajak di dalam negeri dan mentransfer hasil penghematan itu ke luar negeri (money laundering). Adapun perkembangan terakhir kasus ini, perusahaan Asian Agri  akan ditutup. “Saya curiga upaya itu akan menghilangkan jejak,” ungkapnya.

Dalam bukunya, ia mengisahkan berbagai pergulatan seputar pengungkapan kasus pajak Asian Agri. Ia mengisahkan Vincent, seorang saksi kunci dalam kasus ini yang sempat dipenjara selama 11 tahun penjara. Ia beberpaa kali berhubungan dengan Vincent untuk mendapat data terkait dengan kasus penyelewengan pajak perusahaan Asian Agri ini.

Model jurnalisme narasi dipilih Metta untuk menuliskan laporannya, sehingga enak dibaca. Setiap liputannya, ia menuliskannya hingga menjadi buku setebal 443 halaman ini.

Usahanya mendapat apresiasi dari banyak orang, diantaranya Goenawan Mohamad, pendiri majalah Tempo, Janet Steele, Associate Professor, School of Media and Public Affairs dari George Washington University, Amakusumah Astraatmadja, mantan ketua dewan pers, dan Wendy Bacon, profesor, jurnalis dan periset media di Australian Centre for Independent Journalism di University of Technology, Sydney.[Anik Susiyani]

Editor : Folly Akbar

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of