Sriti si Pencari Kupu Pengetahuan

Bentara Budaya Yogyakarta gelar pameran ilustrasi dongeng anak sejak hari ini hingga 2 November 2013.

Lpmarena.com, Sriti Wani mengejar Kupu-kupu aksara kemana pun sang kupu “pengetahuan” itu terbang. Hingga ia masuk ke hutan, masuk dan masuk hingga semakin ke dalam. Ia menjelajah hutan hingga bertemu dengan hewan-hewan dan tumbuhan yang membantunya, namun juga bertemu dengan hantu, raksasa serta kekuatan jahat yang ingin melanggengkan kekuasaannya. Pameran ilustrasi dongeng anak, Sriti Wani: Kisah Anak-anak Langit karya Alim Bakhtiar yang bertempat di Bentara Budaya Yogyakarta ini berlangsung hingga 2 November mendatang.

Dalam perjalanan perempuan cilik bernama Sriti Wani yang lincah bagai burung Sriti dan pemberani namun masih dengan kepolosan jiwa kanaknya mampu mendapatkan Kupu-kupu aksara. Dan dengan kecerdikan serta niat murninya ia mampu mengatasi dan melawan raksasa, kekuatan jahat penguasa hutan itu. Mulai dari Gendu dan Cilele, kedua tupai kecil kesayangannya, Gembolo si kerbau dengan tanduk terpanjang menemani petualangan Sriti Wani, anak temuan bu tani dan pak tani desa itu. Juga burung Ken Bluluk dan Jabrang yang setia menemani Sriti, melewati rintangan mulai dari hantu kabut hingga Naga Murwa. Sriti dengan mata kejoranya memulai petualangan menerobos hutan rimba mencari kupu pengetahuan dan bertemu dengan anak-anak langit serta Ratu Langit yang ternyata adalah ibu kandungnya.

Kisah Sriti Wani, dongeng anak yang digarap Alim Bakhtiar 1-2 tahun ini memang unik mengingat globalisasi dan modernisasi yang mengikis pondasi moral anak-anak. Menurut Alim Bakhtiar, masa kanak-kanak adalah masa keemasan pembentukan karakter yang sangat penting untuk proses pendewasaan kedepannya, namun masa itu justru kurang mendapat asupan yang cukup dewasa ini.

“Saya melihat fenomena dalam dunia anak yang kurang asupan pengetahuan, apalagi saat ini,” ujar Alim Bakhtiar (29/10). Ia mengungkapkan, kekosongan yang cukup dalam memang dialami dunia kepenulisan dalam hal dongeng anak. Dongeng anak menurutnya, hanya melulu kisah-kisah dan dongeng zaman baheula yang diulang dan diulang tanpa ada inovasi. Dan dengan pembacaan demikianlah Alim Bakhtiar mencoba mengangkat dongeng lain dengan latar budaya “Jawa Tengah/ Jawa Ngapak”- Banyumas, Purworejo, Banjarnegara dan Purbalingga. Latar belakang budaya dari Tanah Merdikan “tidak bekas jajahan”, sehingga bukan latar kerajaan, pangeran atau darah ningrat yang Berjaya.

Baca juga  Berpolitik Lewat Zine

Alim Bakhtiar mengatakan, dongeng yang ia angkat ini berusaha menghadirkan kehidupan nature, seimbang, guyub dan bersatu dengan alam. Alam berupa flora dan fauna yang menyatu dengan kehidupan manusia adalah setting kehidupan dalam cerita Sriti Wani, kisah anak-anak Langit ini. Pada akhirnya Sriti diharuskan memilih antara hidup di kerajaan langit bersamaRatu Langit, ibu kandungnya atau kembali ke desa tempat simbok petani dan bapaknya, yang membesarkannya dengan kasih sayang. “Disini aku menghadirkan, bahwa Sriti bisa saja hidup dengan mendapat kuasa di langit, tapi ia lebih memilih menjadi jelata yang kembali ke desa dengan penuh ketentraman,” Alim menjelaskan.

Alim menuturkan, pameran ini adalah langkah awal penyusunan buku dongeng karangannya dan sebagai ajang kritik serta masukan bagi khalayak atas karyanya. Buku dongeng ini akan disusun dengan format cerita beserta gambar etsa dan cat air yang kesemuanya diciptakannya sendiri. “Setelah ini, tentunya aku berharap agar lebih banyak lagi dongeng-dongeng anak yang tentunya lebih baik dari karyaku,” lanjut pria asal Banyumas ini. (Ayu Usada)

Editor : Ulfatul Fikriyah

Komentar

komentar

Related posts

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of