Wisanggeni

Untuk kawan pemuda yang kurang ajar!

Ia pemuda ugal-ugalan, tutur bahasanya kasar, tak punya sopan-santun, sak karepe udele dewe, kurang ajar, anarkis, dan sekian predikat jelek lainnya—predikat-predikat yang dilekatkan oleh orang-orang kebanyakan, orang-orang tua yang mapan, atau yang merasa tua. Maklum, ia masih muda dengan api yang menyala sehingga tak bisa diam. Pemuda kok kalem!

Jagad Kahyangan ia porak-porandakan. Para dewa ia tantang duel. Peraturan ia tabrak. Kebuntuan dan kemandekan ia obrak-abrik. Ya, dialah Wisanggeni. Bayi yang dipaksa lahir, kemudian dibuang ke kawah Candra dimuka.Tapi ia tetap hidup, bahkan menjadi besar dalam api kawah itu. Hingga namanya saja Wisanggeni alias “racun api!”

Wisanggeni adalah tokoh pewayangan yang sejatinya tidak ada dalam Baratayudha asli. Ia hanya imajinasi pewayangan Jawa. Entah kenapa sosok ini diciptakan—apalagi ia sebagai anak Arjuna. Mungkin saja sejak dulu orang Jawa, dibalik tutur lembut dan sopan-santun berlebihannya, juga mengidealkan sosok pemuda yang bakal memecah kebuntuan. Dan orang itu harus tidak mainstream, alias melawan arus, atau mursal selaninggaru!

Orang-orang yang tunduk, nurut saja sama peraturan yang bobrok secara sistemik, takkan mampu memecah kebuntuan. Ia pragmatis, cari aman saja buat hidupnya. Dan itu semua dilegitimasi dengan sekian teks, sekian tradisi, setumpuk, ayat-ayat, selaksa unggah-ungguh. Ia tidak berlawan. Hidup asal hidup. Soal prinsip hidup itu apa? Entah.

Ketika semua orang tunduk, satu jalur, satu dimensi (one dimensional man, kata Marcuse), maka perubahan tidak bakal terjadi. Atas nama stabilitas, revolusi dijauhi, atau dianggap teriak-teriakan sumbang. Dan rasa-rasanya, itulah yang kita alami saat ini. Maka, ditengah kemacetan seperti ini, kelahiran Wisanggeni diharapkan.

Dalam perang Baratayudha (versi Jawa), Wisanggeni tidak turut campur dalam perangitu.Ia diceritakan lenyap, moksa, sebelum perang. Tapi ialah yang turut memulai suatu revolusi. Ia anak revolusi. Dan revolusi memang selalu memakan anak-anaknya sendiri. Maka, kisahnya pun ditampilkan hanya sekilas. Mengobrak-abrik, lalu lenyap selamanya.

Baca juga  Sastra Ideal dalam Proses Mencipta Budaya

Saya membayangkan situasi kita seperti sebelum Wisanggeni lahir. Dimana stagnasi dikukuhkan, apatisme dan pragmatism dirayakan, kemunafikan dibungkus rapi dengan tradisi, dengan legitimasi yang namanya kesucian, atau perdamaian. Mereka yang melawan dituding anarkis, dan anarkisme adalah hal yang harus dibenci, dijauhi. Inilah hidup yang tidak hidup.

Tapi dibalik progresnya, sejarah adalah cerita pengulangan. Dan saya yakin bahwa kini Wisanggeni-wisanggeni baru telah lahir dengan api yang menyala sebagai pendobrak sejarah. Ya, kepada mereka kita berharap, dan mari menjadi bagian darinya.

Mari merayakan perlawanan. Kobarkan apimu, kawan! @opiksuka

Jakarta, dalam petir membahana, 10 November 2013

 

Beri Komentar

Send this to a friend