Upacara Jamasan Dipercaya Membawa Berkah

Warga berkerumun di sekitar lokasi tampat upacara pemandian kereta kencana Kanjeng Nyai Jimat, Selasa lalu.

Lpmarena.com, Seorang bocah basah kuyup dalam gendongan neneknya. Raihan bayi berusia 9 bulan itu tampak asik meski berada di tengah kerumunan warga yang berdesak-desakkan berebut air sisa yang digunakan untuk memandikan kereta kencana Kanjeng Nyai Jimat.

Dwi Lestari (25), seorang Ibu rumah tangga asal Tegal Sempuh, Bantul yang merupakan ibu dari Raihan ini, datang  di Museum Kereta Yogyakarta bersama keluarganya, Selasa lalu (12/11).

Menurut Dwi, sapaan Dwi Lestari, acara tahunan yang diadakan Keraton Yogyakarta setiap bulan Suro ini membawa berkah tersendiri bagi masyarakat, tidak terkecuali untuk anak semata wayangnya, Raihan.

Dwi Lestari percaya bahwa dengan memandikan anaknya menggunakan air kembang jamasan dapat menyembuhkan penyakit Raihan yang sudah diderita selama tiga bulan terakhir. “Orang tua saya percaya bahwa dengan air jamasan ini kita bisa ngalap berkahnya. Jadi, sudah menjadi kepercayaan turun temurun dalam keluarga saya,” tutur Ibu satu anak ini.

Lebih lanjut Dwi menceritakan perihal penyakit yang diderita Raihan. “Anak saya ini alergi  yang amis-amis, seperti telur dan ikan. Sudah tiga bulan terkena sakit kulit, dan sudah berobat ke beberapa dokter tapi belum ada hasilnya, jadi saya bawa kesini (ritual jamasan).”

Ritual memandikan kereta kencana Kanjeng Nyai Jimat menjadi salah satu ritual adat yang digelar setiap bulan Suro oleh keluarga Keraton Yogyakarta secara turun-temurun. Prosesi pemandian ini sendiri dilakukan oleh para abdi dalem keraton Yogyakarta.

Sebelum acara dimulai, Dwi dan masyarakat lain telah berkerumun di sekitar lokasi. Mereka yang telah antri menunggu dan berdesak-desakan akhirnya berlarian ketika para abdi dalem telah selesai memandikan kereta kencana. Mereka berlarian demi mendapatkan air kembang jamasan, dengan harapan mendapatkankan berkah. Banyak diantara warga bahkan langsung meminum air tersebut. Ada pula yang menyiramkan air tersebut ke tubuhnya. Dwi sendiri lebih memilih mengambil air tersebut dengan botol untuk dibasuhkan ke wajah dan tubuh anaknya, Raihan. Berharap kesembuhan datang pada Raihan.

Baca juga  Ribuan Warga Jogja Ikuti Mubeng Benteng

Bunga yang digunakan pada ritual jamasan diyakini oleh beberapa masyarakat dapat membuat tubuh seseorang menjadi kebal terhadap goresan apapun. Caranya, dengan membakar bunga tersebut kemudian menjilatnya selagi panas.

Menanggapi banyak sugesti masyarakat terkait ritual jamasan tersebut, RW Joyo Rontiko yang memiliki nama asli Suhardi, selaku koordinator upacara jamasan menegaskan bahwa, sebenarnya tujuan dari jamasan ini hanya sebagai ritual adat yang dilakukan turun temurun oleh keluarga keraton. Kegiatan tersebut hanya diadakan sebagai bentuk melestarikan budaya yang telah dilakukan oleh raja-raja terdahulu.

Bapak yang sudah menjadi abdi dalem selama 34 tahun ini kemudian menambahi. “Apabila muncul berbagai kepercayaan di masyarakt bahwa ada berkah yang diperoleh dari ritual jamasan ini, bukan merupakan tujuan murni dari ritual.”

Setiap tahun masyarakat Yogyakarta juga luar Yogyakarta turut hadir menyaksikan ritual ini. Diantaranya, warga asal Wonosobo. Mereka datang  sebelum hari-H, berbondong-bondong menggunakan tiga bus berukuran besar. Kedatangan mereka sebelum hari-H bukan tanpa maksud. Melainkan agar mereka bisa bertirakat sebelum acara jamasan dilaksanakan.

Banyak masyarakat yang merasakan mendapat manfaat dari jamasan tersebut kemudian meminta kepada pihak keraton untuk mengadakan ritual tersebut secara umum dan rutin agar mereka bisa mengambil berkahnya. (Mutiara Nur Said)

Editor : Ulfatul Fikriyah

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of