ARENA Undang Warga UIN Menulis Antologi

Kepada Yth,

  1. Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  2. LPM Humaniush Fak. Ushuluddin
  3. LPM Rhetor Fak. Dakwah
  4. LPM Fish  Fak. Soshum
  5. LPM Advokasia Fak. Syariah
  6. LPM Literasia Fak. Adab
  7. LPM Paradigma Fak.Tarbiyah
  8. LPM Metamorfosa Fak. Saintek
  9. Sanggar Eska UIN Sunan Kalijaga
  10. Sanggar Nuun Yogyakarta
  11. Senat Mahasiswa (SEMA) UIN Sunan Kalijaga
  12. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-Dipo) UIN Suka
  13. HMI MPO
  14. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Suka
  15. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UIN Suka
  16. Komunitas Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) UIN Suka
  17. Gema Pembebasan
  18. Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi (KMPD)
  19. Sekber
  20. Forsmad
  21. Dosen-Dosen UIN Sunan Kalijaga
  22. Komunitas-komunitas Diskusi mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga
  23. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

 

Sebermula Kalam,

Dunia civitas akademika tak ubahnya sebuah medan dialektika. Di sana mahasiswa dan dosen (baca; Subyek Intelektual) terus membicarakan berbagai macam persoalan. Pembicaraan-pembicaraan itu tak selamanya formal, tak selamanya serius tanpa kelakar. Dan kadang, tanpa kita sadari, obrolan itu acap jua hadir di kondisi-kondisi tanpa setingan sebelumnya; di tengah malam di warung kopi, sambil sarapan yang selalu telat di bangku angkringan, sembari menunggu dosen yang datang terlambat, atau mungkin juga sehabis keluar dari ruang dosen yang menolak proposal skripsi. Begitu juga bagi para dosen; di tengah jam makan siang, di dalam mobil menuju dan sepulang kampus, dan lain sebagainya.

Meskipun begitu bukan berarti pembicaraan-pembicaraan itu tanpa makna sama sekali, tanpa logika yang bisa dipertanggungjawabkan. Kita tak jarang termanggut-manggut di tengah obrolan-obrolan itu. Ini mengalir begitu saja.

Obrolan-obrolan itu pun, karena terjadi tanpa settingan, seringkali menguap tanpa dokumentasi. Dalam hal ini, kita berkecil hati. Bagi sebagaian kita, yang merasa penting dengan persoalan kerarsipan, ‘buah-buah’ dari obrolan itu meluput dalam waktu. Sedangkan perjalanan generasi tak selamanya dapat ditunda-tunda.

‘Buah-buah’ itu –sebenarnya- dapat kita lihat, sedikit banyaknya, dari ruang-ruang publik di dalam kampus; Seperti tema-tema seminar atau diskusi di papan mading ataupun lewat pentas keseniaan dari sanggar-sanggar mahasiswa, bahkan kita perhatikan hadir dari corong megaphone dari massa aksi gerakan mahasiswa.

Ruang publik itu pun satu persoalan. Saat ini dari sekian banyak gedung atau tempat kosong, hanya gedung Student Center (SC) yang menjadi ruang interaksi sosial mahasiswa setiap harinya. Itu pun, sebagian kecil mahasiswa dari total ribuan mahasiswa UIN. Bahkan banyak mahasiswa yang tidak pernah masuk gedung SC sama sekali. Ini baru mahasiswa, lalu bagaimana interaksi mahasiswa dan dosen?

Baca juga  Asal Nyelonong

Persoalan ini, kita lihat secara tak langsung, dijawab dengan pengadaptasian mahasiswa. Kurangnya ruang publik di tengah kampus dijawab dengan mencari ruang-ruang tertentu yang dekat dengan mahasiswa tersebut. Kita lihat, merebaklah ‘pelimpahan hasrat ruang publik’ itu ke warung kopi, wisma-wisma mahasiswa, juga aksi-aksi demonstrasi. Di sana interaksi itu ditata kembali.

Nah, ARENA juga mencoba mencari bentuk pelimpahan ‘hasrat ruang publik’ ini. Salah satu langkah yang kita mulai ialah dengan menyusun antologi essay dari perlombaan cipta essay “Mahasiswa dan politik Praktis” sebelum ultah 10 Januari lalu. Kini antologi itu dapat diperoleh di Kantor ARENA.

Semangat menciptakan ruang publik –dalam hal ini via tulisan- ingin kita lanjutkan. Kali ini tidak  melalui perlombaan, melainkan dalam bentuk partisipan dan undangan. Kita masih menyakini, masih banyak mahasiswa yang bersedia –dengan tulus- berkontribusi tanpa mengharap imbalan materiil. Kita masih menyakini masih ada mahasiswa dengan fikiran-fikirannya yang gelisah dan ‘menghendaki ruang publik’ tersebut.

Kini,  ARENA ingin mengajak bekerja sama untuk menyusun sebuah antologi. Antologi ini nanti akan dipublikasikan sebagai bentuk alternatif atas ruang publik yang semakin menyempit di kampus ini. Dalam hal pemilihan tema antologi, dengan melihat isu yang dekat dengan kita, ARENA mengangkat isu “Mengeja Sewindu UIN Sunan Kalijaga, Refleksi atas Perjalanan UIN Setelah Konversi IAIN.”

 

Kenapa isu ini dipilih?

  1. Konversi IAIN-UIN –meminjam istilah Michel Foucault- adalah diskontiunitas dalam perjalanan sejarah perguruan tinggi ini. Dalam diskontiunitas ini kita melihat ada ‘patahan epistimologi’ atau dalam artian lain, perubahan model berfikir; tidak hanya lewat paradigma keilmuan yang dibakukan dalam slogan ‘integrasi-interkoneksi’ melainkan juga dari kondisi sosial dan relasi individu-individu di kehidupan kampus.
  2.  Tahun ini adalah awal yang tepat untuk menoleh ke belakang, setelah 8 tahun ‘patahan epistimologi’ itu terjadi. Satu (dengan 14 semester) atau dua (dengan kuliah 4 tahun) generasi telah dilalui, dan terang di mata kita itu berlalu bukan tanpa persoalan. Dan jawaban-jawaban yang diberikan ketika itu pun bukan berarti persoalan tersebut terselesaikan.
  3. Isu ini diangkat tidak dalam artian layak atau tidak layakkah konversi itu, melainkan memberi makna atas perjalanan konversi. Pemberian makna itu dikemas dengan bentuk analisis, kritik atau pun evaluatif.
  4. Belum ada satupun buku yang membicarakan persoalan ini. Terlebih lagi buku yang ditulis oleh kumpulan kelompok atau elemen mahasiswa dan dosen.
Baca juga  Mahasiswa Menggugat, Indonesia Harus Berdaulat

Bagaimana Penulis akan menulis isu ini?

  1. ARENA mempersilakan kepada kontributor untuk memilih fokus yang hendak dibidik dari perjalanan delapan tahun UIN Sunan Kalijaga ini; baik dari item sosial, budaya, politik, ekonomi, pendidikan, filsafat, seni dan lain-lain.
  2. Tulisan dapat berbentuk artikel, opini, maupun essay.
  3. Panjang tulisan 1000-2000 kata.

Apa signifikansi isu ini?

  1. Isu ini akan menjadi bahan evaluatif untuk menyikapi tantangan kehidupan kampus masa mendatang.
  2. Di tengah riuhnya keinginan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) lain di luar UIN Suka setingkat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang ingin menjadi UIN, isu ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi PTAIN tersebut untuk mempersiapkan diri.
  3. Menjadi bahan kajian lebih lanjut bagi pemerhati pendidikan atau pengambil kebijakan untuk mengambil langkah progressif.

Ketentuan?

  1. Nakah tulisan dikumpulkan paling lambat 20 Maret 2014. Naskah dikirim ke redaksi ARENA via e-mail lpm_arena@yahoo.com Judul file: Naskah Antologi Sewindu UIN SUKA[spasi]nama penulis/instansi.
  2. Naskah dari para undangan dijamin masuk antologi. Namun bagi partisipan dilakukan mekanisme seleksi karena terbatasan kemampuan cetak ARENA.
  3. Partisipan adalah penulis naskah dengan item Dosen, Kelompok Diskusi Mahasiswa UIN Suka dan Mahasiswa umum. Naskah diseleksi berdasarkan pemilihan fokus dan signifikansi fokus.
  4. Penulis boleh mengirimkan lebih dari satu naskah tulisan. Namun hanya salah satu naskah yang dimasukkan dalam antologi. Naskah yang tak masuk dikembalikan ke penulis atau di serahkan –dengan komunikasi- ke redaksi ARENA untuk dipublikasikan.
  5. Redaksi ARENA berhak mengedit naskah selama tidak mengubah substansi tulisan.
  6. Keputusan seleksi bersifat final.
  7. Undangan dan partisipan yang lolos seleksi akan mendapatkan buku Antologi; “Sewindu UIN Sunan Kalijaga, Refleksi Perjalanan Setelah Konversi
  8. Buku Antologi “Sewindu UIN Sunan Kalijaga, Refleksi Perjalanan Setelah Konversi” akan mencantumkan logo instansi para undangan.

Beri Komentar

Send this to a friend